Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai bulir-bulir kecil yang saya dapat di Gallery Taman Budaya hari ini, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Mungkin saja pembaca yang datang dan menyaksikan bersama-sama dengan saya akan mudah mengenali saya. Kenapa? Karena saya dan teman-teman saya memakai baju yang sama, yaitu baju seragam sekolah kami. Hehe, saya sangat terkesan bisa menyaksikan secara langsung acara ini. Sebab, ini memang sebuah kesempatan yang sangat langka.
Lagi-lagi sebelum masuk ke pokok utama esai ini, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Apalagi jika esai saya ini memuat banyak kontroversi, dan argumen yang mungkin kurang enak untuk didengar, atau malah ada argumen yang sedikit menohok ke jantung. Saya ingin minta maaf terlebih dahulu. Esai ini saya tulis bukan untuk menjatuhkan teman-teman semua, atau menganggap remeh teman-teman sastrawan yang telah lama berkecimpung di dunia sastra. Esai ini hanyalah unek-unek yang saya tangkap selama tiga jam berada di sana tadi.
Mulanya saya mengetahui acara ini dari sebuah invitation di facebook. Setelah diundang oleh bang Esha Tegar Putra, saya memutuskan untuk datang ke acara ini. Nirwan Dewanto, semula saya mengenalnya dari sebuah keisengan untuk browsing di internet. Saya menemukan buku puisinya ‘Jantung Lebah Ratu,’ dan pembahasan tentang salah satu puisinya, kebetulan saya lupa judul puisinya, sebab saya browsing-nya tahun 2009. Sedikit hal yang saya ketahui tentang Nirwan Dewanto selain judul bukunya tersebut adalah bahwa ia adalah redaktur sastra Koran Tempo.
Maka dari invitation ini saya kembali membaca nama Nirwan Dewanto di tahun 2011 ini. Dan memutuskan untuk mengajak teman-teman jurnalis untuk mengikuti acara ini. Satu hal yang saya ingat adalah bahwa puisi Nirwan Dewanto itu bahasanya sulit dipahami. Apakah karena waktu itu pengalaman saya sangat minim di bidang sastra, atau karena apa, yang jelas saya sama sekali tak mengerti maksud puisi itu.
Baiklah, acara dimulai pukul 14.00 WIB. Para pemakalah siap dengan argumennya tentang puisi Nirwan. Mereka adalah Rusli Marzuki Saria (Penyair, mantan penjaga halaman budaya koran Haluan), Ragdy F Daye (Cerpenis, Guru bahasa & sastra di salah satu sekolah menengah pertama di Padang), Romi Zarman (Cerpenis, juga akademisi sastra), dan Deddy Arsya (Penyair, sejarawan muda). Saya sudah ada feeling bahwa acara ini akan sangat padat dan kental, mengingat bahwa pemakalahnya bukan orang sembarangan. Sebut saja Papa Rusli Marzuki Saria dengan bukunya ‘Mangutuak Di Negeri Prosa Liris,’ Ragdi F Daye dengan bukunya ‘Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu,’ Deddy Arsya dengan sajaknya ‘Toko Serba Lima Ribu,’ dan Romi Zarman yang sebetulnya belum banyak saya ketahui.
Dari awal sampai akhir pemaparan saya hanya menyaksikan saja, sesekali saya mengerti maksudnya, dan beberapa kali tidak mengerti. Mungkin karena pembahasan pemakalah yang tingkat tinggi (ilmu saya masih cetek), atau karena bahasanya yang kurang luwes? Sehingga saya sempat memikirkan hal lain yang tidak penting, dan melakukan hal lain yang juga tidak penting. Yang pasti, beberapa kali saya sempat tidak menyaksikan pembahasan hingga tiba sesi pertanyaan.
Saya dan teman-teman justru lebih tertarik pada sesi pertanyaan. Kenapa? Karena ternyata pertanyaan kami sama dengan yang ditanyakan oleh para penanya. Contohnya saja pertanyaan saudara Fauzan tentang bahasa Sastra yang cukup berat, juga pertanyaan saudara Heru D.P (atau Andha S?) tentang kombinasi antara seni lukis dan seni tulis, dan tak ketinggalan pertanyaan dari rekan saya Alifia seftin Oktriwina tentang frase asing dalam puisi Nirwan dan makna tersirat dalam puisi. Saya memang tidak bertanya karena lebih memilih untuk meng-cover seluruh diskusi ini ke dalam bentuk esai ini.
Saya banyak menangkap pelajaran dari sesi Tanya jawab ini. Pertama, bahwa ternyata pemakalah adalah orang-orang yang kukuh dengan pendapatnya dan itu tidak bisa diubah lagi. Sebut saja ketika Alifia Seftin Oktriwina / Awin bertanya tentang bahasa puisi yang sulit bagi orang awam, Papa Rusli Marzuki Saria dengan enteng menjawab, “Nanti mereka pasti akan rindu dengan puisi saat di perguruan tinggi.” Saya kurang puas dengan jawaban Papa itu, kenapa? Karena saya mengharapkan adanya perdebatan antara Awin dan Papa mengenai frase dalam puisi, tapi sayangnya itu tidak terjadi.
Pelajaran kedua, pemakalah adalah orang yang teguh pendirian. Maksudnya, coba ingat-ingat lagi ketika ada pertanyaan dari bang Esha mengenai kombinasi antara seni lukis yang digunakan oleh Nirwan. Lalu pemakalah tetap teguh dengan pendiriannya (saya lupa detil ceritanya), yang jelas saya kira pemakalah tidak mau statementnya tergerus oleh statement orang lain. Sehingga pada suatu sesi, Deddy Arsya (kalau tidak salah) sempat bilang bahwa itu semua hanya tergantung persepsi saja. Saya berpikir itu hanyalah upaya untuk mengelak, sebab pemakalah tidak ingin melawan pendapat para penanya lagi.
Terakhir adalah bahwa pemakalah sedikit egois. Maaf untuk yang terakhir ini, tapi saya merasa demikian. Mengapa? Lebih tapatnya saat sesi pertanyaan saudara Fauzan. Pemakalah tidak menjawab seluruh pertanyaannya, menurut teman-teman saya yang merasa kebingungan pun juga begitu. Teman-teman saya menilai bahwa puisi itu sudah begitu kadarnya, tapi saya berharap kami bisa mendapat statement yang lain di sini. Tapi ternyata tidak, malahan yang saya dapat sama. Pemakalah menilai puisi itu sudah seperti itu kadarnya, dan jika tidak, itu bukan puisi yang cukup baik. Lalu siapa yang mencintai puisi dari generasi selanjutnya?
Nah, sesi paling terakhir ini yang saya tunggu-tunggu, yaitu ketika Nirwan Dewanto memaparkan langsung tentang Buli-Buli Lima Kaki. Baru saya mengerti setelah Nirwan yang turun tangan. Mungkin karena Nirwan adalah penulisnya, sehingga ia merasakan sense-nya, saya merasa setiap pertanyaan bisa terjawab dari pernyataan-pernyataan Nirwan.
“Bahasa Indonesia adalah suatu makhluk ajaib,” tutur Nirwan. Mungkin bisa dibilang para penyuka sastra itu adalah orang-orang yang hebat. Sekali lagi, bukan. Penyuka sastra hanya orang-orang yang senang bergelut dengan dunia itu. Terkadang ia menciptakan dan terkadang ia menikmati yang diciptakan. Penyuka sastra sejatinya sama dengan penyuka computer (bahkan kita hanya mengerti penggunaannya, bukan bahasa pemrogramannya), penyuka fisika, dan matematika. Sastra, matematika, fisika, dan computer sudah ada karena diciptakan oleh manusia. Saya juga bangga karena bahasa Sastra telah digunakan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.
Bahasa adalah gudang kebudayaan, bagaimanapun semuanya tidak akan tercipta jika tak ada bahasa. Bahkan Tuhan pun tidak menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi dengan manusia, Tuhan telah berbaik hati membiarkan kita menggunakan bahasa kita dalam wahyunya. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit (dalam puisi Nirwan), sebenarnya puisi Nirwan juga sederhana. Kita hanya butuh membaca dan membaca. “Jangan mau didoktrin oleh guru jika tidak mau jadi manusia kecoak,” perkataan Nirwan ini ada benarnya. Sebenarnya awal mulanya itu dari guru. Guru bilang itu sulit, maka kita mendengar instruksinya dan mensugesti diri kita bahwa itu benaran sulit. Padahal itu kajian yang sederhana.
Mengutip lagi perkataan Nirwan mengenai sajaknya yang bisa dibilang ajaib, “Salah satu alasan mengapa orang-orang kesulitan memaknai puisi adalah karena mereka mengira penyair berbicara sendiri dalam sajaknya. Padahal benda-benda lain yang dideskripsikan juga bisa berbicara di sana.”
Saya benar-benar puas setelah mendengar ulasan singkat dari Nirwan Dewanto. Namun bagaimanapun saya tetap berterimakasih pada pemakalah yang telah member pandangannya yang juga ‘ajaib’ mengenai Buli-Buli Lima Kaki. Selain itu saya cukup terhibur dengan gaya membaca puisi Delvi Yandra, agak aneh dan membuat saya tergelitik (sambil membayangkan Dodi Prananda, Vinda Yozi Pratiwi, Fenny Martasari, Nadya Eka Putri, dll membaca puisi). Banyak pelajaran yang saya ambil di sini. Terimakasih untuk hari ini, untuk tanda tangan Nirwan di buku saya, untuk foto bersama Nirwan sore itu, juga untuk snacknya.
Salam hangat
Irma Garnesia








0 comments:
Posting Komentar