Masihkah ingatkah engkau dengan mantra Man Shabara Zhafira? Aku jadi tiba-tiba berpikir ingin menuliskan ini. Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu di tengah perjuangan panjang ini. Apakah belajar keras untuk ujian semester kedua ini bisa dibilang sebagai perjuangan panjang? Baik, mari kita mulai cerita ini secara kronologis.
Entah kenapa beberapa hari, minggu, dan mungkin bulan ini siswa-siswi di kota Padang dan sekitarnya disibukkan dengan persiapan ujian semester kedua. Bahkan persiapanku sendiri boleh dibilang minim. Tahu kenapa? Baiklah beberapa hal membuatku stress. Apakah itu? Tentu saja tugas. Saat pulang ke rumah aku sudah ditimpuki oleh tugas yang menggunung itu. Sebut saja misalnya LKS Kimia, LKS Bahasa Inggris, Hapalan ayat Al-Quran, 300 berita Internasional, LKS PKN, tugas analisis drama, soal Bahasa Indonesia, Tajuk Rencana Bahasa Indonesia, komposisi bidang kesenian, dan masih banyak lagi. aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba tugas itu jadi sebanyak itu, apa karena tidak dikerjakan, entahlah.
Tapi yang jelas akhir-akhir ini alias waktu itu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Tidur jam sebelas malam dan harus bangun jam empat pagi. Paling tidak aku mengulang pelajaran yang sulit. Banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk ujian ini, apalagi persiapan itu untuk menutupi nilaiku yang biasa-biasa saja semester lalu.
Tetapi itulah kawan. Kelihatannya aku belum beruntung. Buktinya aku tidak bisa berkutik di ujian Fisika. Tak masalah rasanya karena aku memang tak banyak belajar Fisika. walaupun sudah banyak libur yang disediakan, bahkan aku sudah mem-photocopy buku Bob Foster milik temanku. Tetapi tiba-tiba saja di tengah liburan yang suntuk itu, aku juga suntuk belajar. Setelah menyelesaikan setumpuk tugas di atas, aku merasa sangat mumet belajar. Meskipun buku Fisika sudah di depanku dan aku sudah sangat bersemangat, tidak ada yang masuk ke kepalaku. TIba-tibaa semuanya jadi gelap. Bahkan penyakit malas ini juga datang di seluruh kegiatanku. Belajar, menulis, membaca, tidur, bahkan makan. Tidak ada semangat saking sangat bosannya belajar.
Saat ini pula aku merasa sangat menyesal. Entah kenapa meskipun sudah jatuh bangun belajar Biologi, aku merasa tak mampu menuntaskan ujian Biologi itu dengan baik. Ada gambar yang tak bisa kulihat dengan jelas, soal lewat Bahasa Inggris yang tak bisa kupahami, dan aku lupa beberapa hal. Ini membuatku menggerutu sendiri di depan LJK dan soal itu. Rasanya ingin berteriak keras, apalagi karena Biologi adalah pelajaran yang menyenangkan buatku, setidaknya daripada Fisika. Keluar dari ruang ujian aku manyun, setiap soal dan jawaban yang dibilang teman sekelas, kebanyakan aku salah. Entah apa ini.
Begitupun Bahasa Inggris. Banyak vocabularies yang tidak aku ketahui. Dan pastinya, soal itu meragukan. Lagi-lagi aku menggerutu saat ujian. Semuanya berjalan dengan (tidak) lancar.
Tetapi ada beberapa factor yang membuatku merasa gagal pada kedua ujian ini. Sebut saja misalnya aku harus membuat laporan evaluasi kegiatan ekskul di saat yang tidak tepat. Aku juga diminta datang ke sekolah di luar jam ujian (meskipun aku tak datang), dan pastinya aku masih terlena dengan jejaring sosial yang seharusnya tak penting tersebut. Banyak waktuku yang terhabiskan dengan sia-sia. Jika ini memang belum sebuah perjuangan.
Aku merasa bersalah, aku menyesal. Tapi apalah gunanya. Aku bahkan mengecewakan diriku sendiri. Tapi tiba-tiba aku teringat mantra Man Shabara Zhafira. Aku tak tahu apakah sudah pantas aku ini dianggap bersabar, padahal usahaku belum maksimal. Tetapi aku masih mengingat ini, dan semoga aku bisa bersabar dan bertawakal kepadanya. Karena semua yang pernah kita lakukan akan mendapat konsekuensi, dan Tuhan membayar lunas kelalaianku pada hari-hari sebelumnya itu. (Irma Garnesia, SMAN 1 Padang)








0 comments:
Posting Komentar