Flshdisk Seorang Perempuan




#1

Siang dengan matahari tepat di atas ubun-ubun. Hangat yang berlebihan dapat kurasakan dari bola raksasa tua berwarna kuning kemerahan dan bulat ini. Tanpa terasa, tanganku kembali menyeka butir keringat yang jatuh perlahan di leher, kening, dan dadaku. Sementara itu wajahku masih pucat pasi dengan kantung mata yang makin membesar. Mungkin potret hidupku yang selalu acak - acakan.

Suara ribut di kelas, teriakan anak-anak--remaja--yang masih main kejar-kejaran, bekal makan siang, suara adzan zuhur, lalu lalang di kantin, pemandangan mengambil wudhu untuk segera menyapa Pencipta Alam ini. Semuanya begitu nyaring di benakku, namun tak satupun hal itu aku lakukan. Aku malah menemui seorang teman--perempuan yang katanya cantik--untuk menagih tugas ekskul.

Ditemani dengan seorang teman--pria--yang mengambil ekskul yang sama, aku menjulurkan langkah gontai menuju kelas perempuan itu. Lorong-lorong yang ribut, suara riuh “bocah-bocah” SMA, gelak, canda tawa, traktiran, suara lagu ulang tahun, sorak - sorak sorai karena baru menang perlombaan, jerit bahagia lantaran baru diterima, tangis sedih karena nilai jelek dalam ulangan, sudah makanan sehari-hari bagiku.

Dengan baju seragam kusut, acak-acakan, tampang kusut lantaran baru saja ada pelajaran membosankan, masalah yang bertumpuk, ditambah dengan deadline kerja yang tinggal beberapa hari lagi. Otomatis raut wajahku sangat kusam di depan perempuan itu. Dia hanya menatapku dengan pandangan biasa, dengan senyum sewajarnya. Dia habis makan, kulihat bercak kuah gulai di jilbabnya yang berwarna putih.

Anggun. Wanita--yang katanya cantik--dengan cukup antusias menyambut kami di kelasnya. Aku langsung saja menyeret kursi untuk membicarakan beberapa masalah. Begitupun Ardi, langsung membuka buku dan membaca beberapa surat yang akan kami bahas bersama.

“Langsung saja ya,” ucapku dengan nada datar disertai anggukan dari perempuan di sebelahku.

“Ini ada beberapa surat yang belum kamu tanda tangani, tolong tanda tangani sekarang ya!”

Tanpa suara, perempuan itu melakukan perintahku dengan mengambil pena di dalam tas ranselnya yang berwarna hijau. Tanpa suara pula dia langsung menumpahkan tinta pada blangko absen tersebut.

Bel masuk baru saja dibunyikan, Ardi yang dari tadi gelisah langsung bicara dengan tiba-tiba,

“Aku belum salat, kalian saja yang lanjutkan ya!”

“Baiklah,” ucapku dan dia--perempuan di sampingku--serempak.

Ardi langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Kami berpandangan cukup lama sampai akhirnya perbincangan mata ini menyetop matanya dan mengisyaratkan padanya untuk bersikutat lagi dengan blangko absen tersebut.

#2

Anggun, perempuan yang katanya cantik. Entah sejak kapan kata “katanya” ini mengganggu struktur kalimat itu, yang jelas kata ini telah terpatri di dalam benakku cukup lama. Bahkan sejak pertama kali aku dan dia berpandangan--walaupun cuma sekilas.

Ada data yang kamu simpan di komputer ruang guru?”

“Ada, Dan,” dia tak menatapku saat ini, hanya mengucapkan iya sambil terus sibuk dengan surat menyurat itu.

“Kalau begitu ayo kita ambil kesana, jangan lupa bawa flashdiskmu ya!”

“Ok!”

Kami berjalan ke kantor majelis guru. Sebelumnya dia telah minta izin untuk keluar pada jam pelajaran biologi pada guru yang sebentar lagi akan mengajar di kelasnya. Aku hanya melihat, sampai dia berlari mengejar langkahku.

Kami berjalan berdua, sesekali aku sempat membuka perbincangan,

“Kau tahu dimana file itu disimpan?”

“Tentu saja” ucapnya sambil memperhatikan gundukan kerikil kecil di bawahnya.

“Oh ya, bagaimana keadaanmu?” aku melihat sekilas ke arahnya, dia juga menatapku lekat-lekat, kemudian membuang pandang.

“Baik,” jawabnya datar.

Aku tahu dia bohong. Karena aku bisa melihat sekilas wajahnya diliputi gelisah. Selain itu aku memang merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Wanita ini sungguh membuatku penasaran.

Dia memang penyembunyi rahasia yang baik. Tapi aku tak dapat dibohongi. Aku tahu, di balik senyumnya itu, dia sedang menangis kuat. Aku tahu dari sorot matanya itu ada duka yang sedang menenggelamkannya.

Tapi aku tak berkata apa-apa. Aku tak ingin mencampuri kehidupannya.

“Oh ya bagaimana hubunganmu dengan lelaki itu?”

“Lelaki mana?”

Aku tertegun, mengingat sesuatu.

#3

Aku ingat lagi. Lelaki A, lelaki B, lelaki C, dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang membuat--perempuan yang katanya cantik--ini sangat digemari oleh kaum Adam. Banyak orang yang mengaguminya. Lantaran kecantikannnya itu telah membuat orang-orang penasaran.

Namun, di balik semua itu, aku ingat lagi bahwa hanya ada seorang lelaki yang sangat dicintainya. Ya, dia pernah cerita tentang hidupnya. tentang lelaki A yang sangat dicintainya itu. Aku kasihan mendengar ceritanya, karena lelaki itu tak menyadari perasaan perempuan ini.

Aku mencoba melupakan pikiran ini. Karena kini kami telah sampai di sebuah komputer dimana file yang kami cari itu di simpan. Aku perhatikan sekeliling, sepi. Mungkin guru-guru tengah sibuk mengajar di kelas masing-masin. Sedang menyuapi ilmu pada muridnya.

Aku duduk di sebuah kursi. Sedang Anggun, masih sibuk mengutak-atik komputer untuk mencari file itu. Dia mencolokkan flashdisknya itu. Lalu matanya sibuk lagi berputar-putar mencari file itu.

“Oh ya, maksudku lelaki itu adalah Hadi”

Dia menoleh, lalu raut wajahnya berubah.

“Aku mencoba melupakannya”

“Oh”, jawabku singkat, tanpa tahu harus berkata apa.

Dia lalu mencopy-kan file itu ke flashdisknya. Yang dilanjutkan dengan mematikan komputer itu. Kemudian dia memberikan flashdisk itu padaku.

“Aku dengar kau telah menjalin hubungan dengan lelaki lain?”

Dia mengangguk, membenarkan ucapanku. Kemudian kami menyusuri jalan keluar dari ruangan--yang sepi--ini.

“Berarti kau telah lupa pada Hadi?”

Mungkin saja, jawabnya asal - asalan.

Di luar, kami mengarahkan langkah pada tujuan berbeda. Aku melambaikan tangan padanya. Begitu pula dia. Kami kembali ke kelas masing-masing, dia melanjutkan pelajaran biologi, sedang aku memutuskan untuk pulang karena tak ada lagi pelajaran siang ini.

Sementara itu aku menoleh pada flashdisk di tanganku

“Usang juga ya!”

#4

Sore ini, senja memerah. Aku sudang sibuk di kamar yang ukurannya tak terlalu besar. Pandanganku fokus pada layar komputer. Ditemani musik yang mengalun dari sound system yang dipasang cukup keras.

Aku sedang sibuk mengutak-atik file yang kemarin diberikan Anggun. Flashdisk yang bernama “Broken” itu semakin membuatku iba padanya. Entah apa maksud dari pemberian nama pada flashdisk berwarna hitam itu.

Flashdisk yang tutupnya telah hilang, sedikit warna hitamnya telah berubah menjadi keputihan, mungkin karena tergores atau karena tak dirawat dengan baik. Di ujung-ujungnya ada sedikit debu yang menempel keras. Pada bagian samping ada besi yang berkarat.

Kuperhatikan baik-baik flashdisk ini, setelah meng-copy beberapa data yang kuanggap penting. Sekali lagi, flashdisk ini telah karatan. Usianya telah tua. Tapi apa bedanya dengan flshdisk-ku? Bukankah kami membelinya pada toko yang sama dan juga di hari yang sama?

Aku mencari flashdisk itu. Ketemu. Lalu membandingkannya. Tiga tahun lalu, kami membelinya. Aku berwarna biru, dan dia berwarna hitam. Namun, kini punyaku telah rusak. Dan aku hanya meletakkannya di sebelah komputerku. Baru beberapa hari ini, penyimpan memori ini tak dapat terbaca. Entah kenapa?

Tapi bagaimana dengan punya Anggun? Aku menatap lekat-lekat pada flashdisk ini, sambil mengaduk-aduk pikiranku.

“Bukankah kejadian ini juga terjadi pada pemiliknya?" Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari pikiranku sendiri.

“Apa maksudnya?”

“Dia telah banyak dipermainkan oleh lelaki yang mencintainya?”

“Lelaki A, lelaki B, dan lelaki C?”

“Ya, mungkin lebih banyak dari itu!”

Aku menatap flashdisk menyedihkan ini, barangkali ada benarnya.

#5

Aku berniat membersihkannya. Tanganku bergerak perlahan mengelap flashdisk ini dengan sapu tangan. Aku tak peduli senja telah menjadi hitam. Tanganku bergerak maju mundur dan dengan lembut mengelapnya.

Aku mendekatkan flashdisk itu ke hidungku. Tiba-tiba indra penciumanku menangkap sebuah aroma. Sebuah aroma yang sedap.

Ya, ini adalah bau sebuah parfum. Khas aroma perempuan. Aku juga tak tahu mengapa ada aroma ini.

“Itu adalah aroma tubuhnya. Tidakkan kau pernah mencium aroma ini sebelumnya?”

“Ya, kadangkala kalau kami berpapasan!”

Ya, aku yakin ini aroma tubuhnya. Wangi sekali. Tapi kenapa juga ada pada flashdisk ini?

Oh ya, mungkin saja ini adalah gambaran Anggun. Mulai dari kerusakan yang menimpanya, dan bau itu. Bau yang mengundang kumbang untuk mendekatinya.

Terakhir, aku memindahkan tutup flashdisk milikku yang rusak itu pada flashdisk ini. Semoga saja dengan begini dia tetap terawat.

Semoga juga perempuan itu senang.

#6

“Anggun!!” Aku berteriak memanggilnya yang lewat pagi ini di depan kelasku. Lalu menyerahkan benda kecil miliknya itu.

“Ok makasih!” Dia mengambil flashdisk itu dari tanganku. Kemudian membalikkan tubuh lalu pergi.

Aku menatapnya dari kejauhan. Dia berbalik arah kemudian, aku tahu dia pasti merasakan sesuatu yang lain.

“Tutup ini?”

“Ambil saja!”

Ucapku datar diiringi kepergiannya.

“Sesingkat itukah?” Aku mendengar sesuatu lagi. Aku tak menjawab, hanya diam saja.


Kemudian bau itu menghampiri lagi. Bau yang semakin kental dari aroma tubuh perempuan itu.



(2010)

0 comments:

Posting Komentar

Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy