Menjelma Senja




#1

Dengan mulut menguap, dan sisa penat yang masih lekat di tangan kiriku yang sibuk menulis, betis yang ngilu karena berlari, keringat yang mengucur sedari tadi, dan napas yang terengah-engah karena berlari, kucoba melangkah ke luar pagar sekolah. Sudah sore begini aku baru dapat pulang. Pelajaran jam terakhir benar-benar membuat bola mataku mengatup sempurna.

Dengan mengendap-endap, kucoba melarikan diri dari rapat ekskul. Masih ada saja alasan yang harus membuatku pulang sore-sore. Dua jam sebelum rapat ini akan diadakan, aku sudah di sms duluan, mungkin takut aku akan lari, seperti yang kerap kulakukan.

Beberapa menit saja aku sudah tiba di gerbang tua yang menghubungkan sekolah ini ke jalan. Ramai. Sudirman yang dipenuhi motor, mobil, angkot, dan bus yang lalu lalang, sementara di trotoar ini pejalan kaki asik menekurkan kepala, menghitung kerikil yang ada. Beberapa penjual makanan dan minuman sedang mengelap keringat mereka yang bercucuran, yang lainnya sibuk melayani pelanggan di gerobak mereka yang kumuh.

Mataku celingak celinguk kiri kanan. Menunggu angkot yang lewat. Angkot berwarna merah dengan motif lukisan kartun conan. Itulah yang baru saja kulihat. Tanpa ragu langsung kunaiki angkot ini.

Aku tahu sekali setiap angkot yang ada di kotaku ini memilik tujuan yang sama, yaitu mencari penumpang. Tapi inikah gaya mereka untuk memikat hati para penumpang yang bertaburan? Dengan memasang motif lukisan yang semrawut dan acak-acakan? Inikah yang mereka sebut dengan gaya dinamis?

#2

Terlalu lama menunggu penumpang. Angkot yang kunaiki ini melaju perlahan bagai siput. Jalanan yang usang, berdebu, dan panas. Di dalamnya hanya ada aku., yang duduk paling sudut dekat speaker. Ruang lapang angkot ini sama sekali tak berisi. Bisa dibilang, hanya aku dan supirnya yang menghuni.

Sepuluh menit berlalu. Namun angkot ini seolah kehabisan bensin untuk sekedar melaju. Sampai sekarang baru ada dua penumpang. Jauh dari apa yang diharapkan. Padahal mobil baru nan bagus ini sangat layak untuk ditumpangi. Musik yang mengalun begitu lembut, ditambah wewangian yang sesekali tercium dari pewangi kendaraan, dan berbagai aksesori khas wanita. Ya, khas wanita.

Namun, tiba-tiba darahku berdesir cepat, jantungku berdetak kuat, sekujur tubuhku memanas, dan mukaku memerah seperti tomat, ketika melihat seseorang berjalan mendekati angkot ini. Seorang wanita bertubuh kecil, berbaju seragam sewarna denganku melempar senyum.

Dia mengenaliku, tentu saja. Kami berada di sekolah yang sama, berseragam putih abu-abu dengan lambang yang sama, dan sering bertatap muka ketika upacara bendera, istirahat di kantin, dan meminjam buku di perpustakaan. Telah lama aku mengenalinya, bahkan sebelum kami berpura-pura berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.

Aku membalas senyumnya, “Dari mana?”
“Dari toko buku”, paparnya singkat. Senja yang kusam. Suaranya melemah, matanya sayu, dan ruas-ruas kepenatan jelas tergambar dari air wajahnya. Tapi ia hanya tersenyum, menggerakan ruas-ruas pipinya.

Ia duduk di sebelahku. Dekat, dan sangat dekat. Pun jantungku berdetak, kuat, dan makin kuat. Aku grogi di dekatnya, salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa, haruskah bicara sembari tersenyum, atau diam saja.
Apa yang dibelinya di toko buku? Mengapa aku tak melihat buku yang baru saja dibelinya? Dengan siapa gerangan ia kesana? Ah… entahlah!

#3

Luna. Sudah tiga tahun ini aku mengenalnya. Dan sudah tiga tahun ini pula aku diam-diam menyukainya. Menyukai hampir seluruh bagian dari dirinya. Caranya tersenyum, berkata-kata, memandang lawan bicara, bercanda, marah, bersedih, dan menangis. Aku tak akan melewatkan sedikitpun momen berharga dengannya.

Namun apalah artinya semua itu. Berawal dari pertemuan singkat di sebuah angkot tiga tahun yang lalu, saat kami masih putih biru, berangkat ke sekolah di pagi yang kelabu. Saat itu aku untuk pertama kalinya antara mataku dan matanya dipertemukan. Sepanjang perjalanan, aku hanya memperhatikannya, cara dia menatap orang lain dengan matanya yang tajam namun teduh, membaca buku, melirik penumpang lain, dan aku akan mengalihkan pandangan jika ia curiga padaku.

Dengan tatapannya yang tajam, aku sangat menyukainya. Matanya yang bak bakso membuatku tergila-gila. Entah kenapa, aku jadi tertarik padanya. Sejak takdir bersepakat dengan sebuah angkot untuk mempertemukan kami berdua pada setiap pagi yang hampir sama. Kelabu.

Aku dan dia beda SMP. Sebelum akhirnya aku sempat berharap akan satu sekolah dan itu memang terjadi. Mulai sejak itu aku akan mencari tahu dirinya. Menelusuri seluk beluk kehidupannya, berbagai macam cara kulakukan. Mencari jati dirinya di internet lewat google, situs jejaring sosial seperti facebook, dan friendster.

Awal sekali aku bertemu dia, aku berharap dia adalah anak lugu. Setidaknya aku salah besar karena ternyata dugaanku itu salah. Aku memang bukan peramal yang bisa membaca sifat seseorang. Bagaimana tidak, aku hanya menilainya di angkot. Sebuah pertemuan singkat yang membuatku mengaguminya.

#3

“larut dengan diri masing-masing
diam dan kaku, bersikeras ingin menjadi batu”

Penggalan puisi yang kubaca tadi pagi kembali mengerjaiku. Setelah sebelumnya aku sempat dipermalukan karena suaraku serak tiba-tiba, kini aku dan Luna juga menjadi lakon dalam puisi itu.

Angkot melaju semakin kencang dan semakin penuh. Kini aku dan dia sebelahan. Tak ada pembatas antara kami berdua. Bisa dipastikan tubuh kami bersentuhan, namun bibir kami saling diam.

Senja semakin megental. Ia sempat beberapa kali menghela napas lain dari biasanya. Penatkah? Mungkin. Tetesan keringat membasahi keningnya. Lalu ia mengelapnya dengan tissue yang ia ambil dari tas merah muda yang sejak tadi berada di pangkuannya.

Kami masih memainkan pantomime. Begitu juga penumpang lain. Tapi aku tahu kami sedang tidak berada di panggung dengan penonton berdasi kupu–kupu, memainkan recital piano, memakai tuxedo berwarna putih dan berada di bawah tirai berwarna marun. Kami hanya sedang duduk dan menerawang dengan pikiran masing-masing.

Luna tengah sibuk sendiri. Mengurusi pesan-pesan yang bergilir mampir di telepon genggamnya. Aku sempat melirik, namun tak bisa melihat pesan yang dibacanya lantaran ukuran font yang sangat kecil.

Sempat beberapa kali aku mencoba mengalihkan perhatian. Misalnya dengan pura-pura tidur, baca buku, atau melihat pepohonan yang dilalui angkot ini. Namun, gagal! Aku tak bisa tidur karena tiap aku memejam, aku hanya akan membayangkan wajahnya dengan tangan yang seakan menerkam aku, tapi aku rela tertelan ke dalam hatinya. Aku tak bisa baca buku karena itu dapat merusak mata, dan satu lagi, aku tak bisa mengalihkan pandangan ke jalan karena aku selalu meliriknya.

Ah, aku mulai bosan. Oh ya, mungkin kau bertanya, kenapa aku tak mengajaknya bicara. Sebenarnya terlalu banyak yang ingin kubicarakan. Pelajaran di sekolah pagi tadi, pentas seni kemarin, guru yang paling pemarah di kelas, tugas di sekolah, murid yang dihukum, dan kabarnya hari ini.

Tapi, aku tak ingin bicara. Perasaanku terlalu kuat untuk menahanku agar tidak bertutur kata. Mulutku jadi bisu seketika.

Tadi aku hanya bertanya, “Dari mana?” Tidakkah itu kata-kata bodoh dari seseorang yang telah lama saling mengenal, bahkan sampai tiga tahun?

Mungkin kau pikir aku bodoh, karena membiarkan kesempatan ini berlalu. Mungkin sekarang kau sedang mencemoohiku lantaran aku cuma pecundang di dekatnya, atau kau sedang gemas dengan diriku yang lumpuh tiba-tiba.

#4

Jarum arlojiku mengarah pada angka 16.34, ketika aku meliriknya yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku masih ingat, di jam yang sama aku pernah membuatkan cerpen untuknya. Di hadiah ulang tahunnya tentang kisah cintanya.

Di sana, aku pernah berkisah tentang diriku yang telah lama menyukainya. Walaupun dia memilih lelaki lain, di cerita itu aku sempat merelakannya. Tentu saja di kehidupan sebenarnya aku takkan pernah melakukan hal itu. Tapi aku memang membiarkannya. Membiarkannya mencintai lelaki lain yang tidak juga mencintainya.

Dia sempat kaget membaca cerpen itu. Bertanya ia setelah membaca HVS lima lembar itu.

“Hei...kamu suka sama aku?”
“Tentu saja nggak Lun, itu kan cuma cerita...”
“Oh...Hmmm”, ia tersenyum kemudian.

Aku memang tak akan meninggalkan momen saat dia tersenyum. Aku akan memandanginya, dan aku tak pernah bosan melirik bibirnya yang seperti gincu warna merah.

Pernah pertama kali, saat aku dan dia baru masuk SMA. Saat itu senja. Kami berdua baru pulang MOS (Masa Orientasi Siswa). Aku juga sedang sakit, sepertinya dia juga. Lantaran terlalu penat dengan aktifitas seharian. Kebetulan kami satu kelas waktu itu. Jadi aku bisa mengenalnya, dan memperhatikannya.

Aku tak menyadari ketika dia memanggilku sambil berlari.
Di, kamu mau pulang?” Hei dia memanggilku.“Iya...kamu mau bareng Luna?” aku membaca nama yang tertera di nametag-nya.
Oh iya belum kenalan, padahal kita sering ketemu ya?” ia menjulurkan tangan serta tersenyum dan menampakkan barisan gigi yang rapi.
“Panggil aku Alan...”, aku menyambut perkenalan itu dengan menjabat tangannya.

Aku senang sekali hari itu. Punya kesempatan untuk bisa pulang dengan dia. Di jalan kami ngobrol banyak sekali.

Tentunya setiap poin dari percakapan kami akan kusimpan di memori terdalam yang selalu akan kuingat. Dari situ sejak pertama kali itu aku mengenal sedikit dari bagian hidupnya yang kelabu.

#5

Lelaki mana yang tak akan menyukainya Luna—kalaupun ada, pasti lelaki itu dungu. Dengan wajah yang putih mulus, bibir mungil berwarna merah muda, dan rambut yang panjangnya sebahu. Sungguh sempurna—setidaknya di mataku.

Berulang kali aku berpikir, menatap langit-langit angkot, mencari topik pembicaraan dengan perempuan yang telah lama mengurung hatiku ini, seperti mengurung sebuah merpati putih di sangkarnya.

Tentang kisah cintanya? Basi. Aku tak ingin membuatnya bersedih hanya untuk mengenang lelaki hujan itu. Lelaki yang seperti hujan di hatinya. Yang pernah aku deskripsikan sebagai seorang yang paling beruntung, karena pernah dicintai oleh Luna.

Andaikan lelaki itu aku!

Rumahku dan rumahnya hampir dekat. Memang rumah kami tak terlalu jauh. Hanya jarak beberapa meter saja. Perlahan penumpang angkot ini mulai menyusut, aku makin kecut saja karena cuma aku dan dia yang tersisa.

Pemandangan seperti biasa. Belantara hijau ala komplek kecilku akan kembali terlihat. Aku suka berada di sini mencium aromanya yang wangi. Sewangi parfum yang sedang dikenakan Luna sekarang. Sempat beberapa kali parfum itu disedu oleh hidungku, dalam hari yang sama. Wangi bunga sepertinya, tidak membuatku pusing, wanginya lembut dan tidak terlalu keras, cukup nikmat untuk dihidu.

Pemandangan hijau ini membawaku ke jalan menyusuri rumah Luna. Rupanya ia akan turun duluan. Senang rasanya bisa pulang bersama perempuan ini. Setidaknya telah lama aku menantikan momen ini—walaupun kami hanya memainkan pantomime—sejak pertama kali bertemu.

Mobil ini berhenti pada sebuah gang menuju rumah Luna. Ia menyetop angkot ini. Bersiap-siap hendak turun, dan melirik padaku, sepertinya ada sesuatu yang akan dia ucapkan.

Di, aku duluan ya...” lagi-lagi dia melempar senyum, membuatku kepayang.
Tiba-tiba saja, tanpa kusadari, aku mengucapkan sesuatu,
“Luna tunggu!”
Ucapanku barusan menyetop langkahnya, membuatnya berbalik dan menoleh padaku.
“Luna...aku suka sama kamu!”

Dia diam. Begitu pun aku. Namun matanya mencair tiba-tiba. Secair senja. Lalu diam-diam aku juga ikut-ikutan menjelma senja.



(2010)
Read More … Menjelma Senja

Fana


Fana, izinkan aku bercerita pada hujan malam ini tentang cantiknya dirimu. Hujan di bulan Januari telah membawa kita bersama hari ini. Bukankah kita berjanji untuk pergi nonton berdua? Maka dengan nekat aku membeli tiket itu siang tadi, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu. Kuatkah aku?

Satu Januari. Semalam tahun baru dan kau lebih memilih tidur ketimbang menikmati kembang api bersamaku. Kau tahu? Aku hanya menunggumu. Berjam-jam aku berharap kau keluar untuk sekedar menonton televisi. Tetapi nyatanya kau tak datang bahkan hingga 2013 menyambut kita. Aku sempat tertidur di ruang TV saking mengantuknya, tapi aku mencoba tetap kuat menunggu hingga 00.00 itu. Padahal aku tak peduli dengan pergantian tahun tiap tahun itu.

Waktu berdetak terlalu lama. Aku mencoba memejamkan mata tapi tak bisa. Bahkan saat setengah tertidur dan terjaga, aku masih berujar dalam hati, “Fana, kamu dimana? Keluarlah, aku mohon. Aku membutuhkanmu!” Aku tahu semua itu tak ada gunanya.

Maka aku beranikan diri tadi pagi untuk sekedar mengirimimu pesan singkat, “Bisakah kamu menemani saya menonton film nanti? Dengan Sammy juga.” Kau tahu? Sammy tidak termasuk ke dalam daftar orang yang akan kuajak nonton. Hanya kamu, selalu kamu. Sammy hanyalah teman agar aku tidak grogi menghabiskan waktu berdua denganmu.

Kamu adalah alasanku untuk bahagia dan bersedih sekaligus. Kamu tahu kan betapa kecewanya aku tadi pagi karena kamu tidak bersamaku menyambut malam tahun baru itu. Aku tak peduli pada tahun barunya, aku hanya peduli padamu.

Kau mengiyakan ajakanku untuk menonton film itu. Aku senang, sekaligus gugup. Jantungku berdetak kuat. Entah apa rasanya hatiku saat itu. Dan kau selalu berhasil membuatku gugup mengenai apa-apa yang berhubungan denganmu.
*

Aku memutuskan untuk membeli tiket itu duluan. Aku hanya tak ingin kehabisan tiket. Dengan perasaan campur aduk  aku berjalan kaki ke bioskop. Memesan tiket untuk tiga orang, Aku, Sammy, dan kamu. Aku tahu kau hanya bergurau saat bilang ingin dibayarkan. Tapi anggaplah ini sebagai pemberian seorang teman, (tak lebih).

Perasaanku masih campur aduk setelah kembali dari bioskop. Sedih dan gugup bercampur jadi satu. Sedih karena aku bahkan belum melihat wajahmu hari ini ataupun semalam, dan gugup karena beberapa jam lagi kau akan menonton film bersamaku, untuk pertama kali. Kombinasi yang aneh, sepertinya.

Setengah tiga sore, hujan. Melamun adalah salah stau opsi untuk menghabiskan waktu. Tiba-tiba ada pesan darimu, “Aku tak bisa ikut nonton nanti malam, tugasku masih belum beres.” Kemudian rasanya sebelah hatiku hancur dilindas mobil. Ingin rasanya memaki dirimu dan tidak lagi tersenyum padamu. Aku kecewa berat. Bahkan berpikir untuk mencabik saja tiket yang sudah kubeli tadi. Tapi tidak, aku harus realistis.
“Tak apa-apa sih, tapi aku sudah beli tiketnya. Ya sudah aku cari orang lain saja.” Aku mengetiknya dengan setengah kecewa karena hati baru saja terlindas mobil. Kemudian aku tak menyadari sebuah pesan masuk darimu,
“Oh tiketnya sudah dibeli? Ya sudah, aku jadi ikut.”

Ah sudah berapa kali kamu mempermainkan perasaanku hari ini. Tanpa kamu tahu, aku telah jatuh dalam dan semakin dalam.
*

Waktu berdetak sangat lama. Hingga jam tujuh malam, waktu yang sudah ditentukan untuk kita. Aku sudah siap sejak pukul setengah tujuh. Satu harapanku saat itu, kamu berdandan yang cantik. Aku selalu terhibur tiap melihatmu tampil begitu cantik. Karena hatiku telah kamu, mataku telah kamu.

Nyatanya kamu benar-benar cantik malam ini. Maka kita berangkat. Di bawah hujan, sepayung berdua. Klise memang, tetapi aku menikmatinya.

Kita sampai di bioskop beberapa saat sebelum film dimulai. Pada saat itu Sammy belum datang. Ah bisa-bisanya anak itu terlambat. Lalu apa yang terjadi pada kita, memainkan lakon kekasihkah? Kita hanya saling berpandangan. Aku menatapku dalam, sementara kamu membalas dengan tersenyum.

Sammy datang setelah beberapa kali ditelepon. Ia datang sambil nyengir sementara aku sedikit manyun. Benar dugaanku, Sammy bisa memecah sunyi di antara kita berdua. Ia membuat banyolan atau sekedar menceritakan pengalaman memalukanku. Ia dan aku berhasil membuatmu tertawa malam itu.

Tak kusangka ternyata yang menonton hanya 10 orang. Kita bertiga terkejut bukan? Kalau tahu begitu tak perlu kubeli tiket tadi siang. Kukira penuh bioskop ini oleh gerombolan manusia. Kita menonton dengan seksama, aku duduk di tengah, di antara kamu dan Sammy. “Cinta Tapi Beda,” sebuah film yang menceritakan kisah cinta pria dan wanita yang berbeda keyakinan. Kita menikmati film itu sambil sesekali berkomentar. Ya setidaknya Sammy adalah kritikus film yang baik jika ia tidak mengkritik film itu saat aku tengah khusyuk menonton.

Di tengah film kita masih sempat mengobrol. Aku lupa yang kita bicarakan. Aku hanya terpesona pada wajahmu. Di tengah keremangan, diterpa sedikit sinar dari layar besar itu, ternyata begitu indah. Kau tersenyum padaku, entahlah. Kemudian tangan kita bersisian. Andai aku bisa menggenggamnya. Bolehkah aku bermimpi untuk sekedar menggenggam tanganmu?

Kita tak lagi saling mengobrol saat klimaks film muncul. Pria dan wanita itu tak direstui oleh keluarganya. Padahal mereka telah berusaha untuk meminta restu. Kemudian aku merasa kisah tersebut mirip denganku, dalam konteks yang berbeda. Aku mencintaimu namun tak boleh memilikimu. Tapi kau tak mencintaiku, bahkan tak perlu kau tahu.

Inilah cinta yang berbatas perbedaan
Yang membuat jarak di antara kita
Meski keyakinan ini tak sejalan
Kita kan trus perjuangkan
Cinta ini abadi selamanya

Suara Hendra Abeth masih terngiang-ngiang di telingaku sejak pemutaran film itu. Judul lagunya Perbedaan. Terdengar syahdu sekaligus menusuk, membuatku mati secara perlahan. Meregang sakit yang tak berujung.

Secara tidak langsung, lagu tersebut cocok untukku. Cinta kita berbatas perbedaan, tidak memang. Kita sama, satu bentuk tubuh, kelamin yang sama. Soal jarak? Tentu saja, cinta ini menjadikan jarak kita makin kentara. Walaupun sebenarnya kita bisa begitu dekat, tapi hatiku selalu ragu untuk mengetuk pintu hatimu. Keyakinan tak merestui kita bersama. Juga bukan kita yang akan memperjuangkan cinta ini untuk abadi, hanya aku. Hanya aku!
*

Film itu selesai, mereka bersatu. Lalu bagaimana dengan kita?

Diam-diam aku menangis sendirian. Menangis untukmu juga untuk diriku sendiri. Ya Tuhan, betapa aku mencintai perempuan di sampingku ini dan betapa aku tak dapat memilikinya. Aku harus melupakannya sementara aku masih mencintainya. Ya Tuhan haruskah aku melupakannya? Atau haruskah aku menerima kekuranganku ini tanpa protes padamu? Lalu bagaimana dengan sakit yang selalu menusuk-nusuk ulu hatiku ini?

Semua pertanyaan itu sesungguhnya tak pernah bisa kujawab. Aku selalu stuck setiap kali pemikiran itu muncul dalam benakku. Haruskah ikhlas atau memaksakan diri untuk menjadi normal? Ini tidaklah semudah yang orang-orang pikir. Menjadi seseorang dengan kelainan hati berbeda, aku tak bilang seks. Aku tak pernah ingin menodai perempuan yang kucintai itu. Lantas kelainan macam apa ini? Sementara orang-orang di luar sana hanya dapat memaki-maki kekurangan kami tanpa pernah mau merasakan sakitnya. Mereka hanya men-judge tanpa pernah tahu luka yang kami torehkan sendiri.

Aku masih terduduk lama saat film itu selesai dan lampu bioskop kembali dinyalakan. Terang benderang sudah, dan semoga baik Sammy ataupun kamu tak melihat merah di mataku barusan. Sammy masih tetap berkomentar mengenai film tersebut padaku. Kelihatannya ia sangat tertarik karena ia juga berbeda keyakinan denganku. Sementara kamu telah berjalan duluan meninggalkan kami di belakang.

Aku benar-benar ingin menangis kecuali Sammy terus berkoar-koar di telingaku. Sesungguhnya aku hanya bisa berjalan sambil menunduk. Masih di pelataran bioskop itu. Hujan di malam hari sekitar pukul sembilan malam. Keadaan mulai gelap dan toko-toko mulai tutup. Hanya lampu jalanan dan pendar lampu mobil yang menyinari jalanan. Sementara Sammy meninggalkan kita ke toilet. Kita terpaku, aku dengan pikiranku, dan kamu dengan lamunanmu yang entah.

Sammy kembali dari toilet sambil nyengir. Kemudian kita memutuskan untuk berjalan kaki saja. Bukankah tempat tinggal kita cukup dekat dari bioskop ini. Berjalan di tengah hujan, sepayung berdua. Sesekali Bau tubuhmu diantar angin ke indera penciumanku. Selalu khas. Satu hal, aku selalu cinta pada bau tubuhmu. Kau membiarkan wangi tubuhmu apa adanya, tanpa perlu menggunakan parfum.
*

Kita dan Sammy berpisah di sebuah gang menuju tempat tinggalnya. Tinggal aku dan kamu, tak ada yang mengganggu lagi. Kita singgah sebentar di mini market karena kau hendak membeli sesuatu. Aku hanya memperhatikanmu. Yakinkah aku pada perasaanku sendiri?

Kita telah sampai di depan pintu kos-kosan. Kamu yang membuka kuncinya. Aku hanya memperhatikannya. Hingga akhirnya bibirku berujar sesuatu yang akan kusesali selamanya,
“Fana, aku…..aku mencintaimu.” Aku mengambil napas panjang, membuat jeda di antara kalimat tersebut.
Kamu tidak menjawab, hanya menatapku dengan sayu.

Aku kaku, tak bergerak. Tak percaya dengan yang kulakukan barusan. Kamu menunduk, lalu menangis, seperti memohon pertolongan. Tubuhku bergetar dan tiba-tiba hatiku luruh.

Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Tuhan.


(2013)


Read More … Fana

Flshdisk Seorang Perempuan



#1

Siang dengan matahari tepat di atas ubun-ubun. Hangat yang berlebihan dapat kurasakan dari bola raksasa tua berwarna kuning kemerahan dan bulat ini. Tanpa terasa, tanganku kembali menyeka butir keringat yang jatuh perlahan di leher, kening, dan dadaku. Sementara itu wajahku masih pucat pasi dengan kantung mata yang makin membesar. Mungkin potret hidupku yang selalu acak - acakan.

Suara ribut di kelas, teriakan anak-anak--remaja--yang masih main kejar-kejaran, bekal makan siang, suara adzan zuhur, lalu lalang di kantin, pemandangan mengambil wudhu untuk segera menyapa Pencipta Alam ini. Semuanya begitu nyaring di benakku, namun tak satupun hal itu aku lakukan. Aku malah menemui seorang teman--perempuan yang katanya cantik--untuk menagih tugas ekskul.

Ditemani dengan seorang teman--pria--yang mengambil ekskul yang sama, aku menjulurkan langkah gontai menuju kelas perempuan itu. Lorong-lorong yang ribut, suara riuh “bocah-bocah” SMA, gelak, canda tawa, traktiran, suara lagu ulang tahun, sorak - sorak sorai karena baru menang perlombaan, jerit bahagia lantaran baru diterima, tangis sedih karena nilai jelek dalam ulangan, sudah makanan sehari-hari bagiku.

Dengan baju seragam kusut, acak-acakan, tampang kusut lantaran baru saja ada pelajaran membosankan, masalah yang bertumpuk, ditambah dengan deadline kerja yang tinggal beberapa hari lagi. Otomatis raut wajahku sangat kusam di depan perempuan itu. Dia hanya menatapku dengan pandangan biasa, dengan senyum sewajarnya. Dia habis makan, kulihat bercak kuah gulai di jilbabnya yang berwarna putih.

Anggun. Wanita--yang katanya cantik--dengan cukup antusias menyambut kami di kelasnya. Aku langsung saja menyeret kursi untuk membicarakan beberapa masalah. Begitupun Ardi, langsung membuka buku dan membaca beberapa surat yang akan kami bahas bersama.

“Langsung saja ya,” ucapku dengan nada datar disertai anggukan dari perempuan di sebelahku.

“Ini ada beberapa surat yang belum kamu tanda tangani, tolong tanda tangani sekarang ya!”

Tanpa suara, perempuan itu melakukan perintahku dengan mengambil pena di dalam tas ranselnya yang berwarna hijau. Tanpa suara pula dia langsung menumpahkan tinta pada blangko absen tersebut.

Bel masuk baru saja dibunyikan, Ardi yang dari tadi gelisah langsung bicara dengan tiba-tiba,

“Aku belum salat, kalian saja yang lanjutkan ya!”

“Baiklah,” ucapku dan dia--perempuan di sampingku--serempak.

Ardi langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Kami berpandangan cukup lama sampai akhirnya perbincangan mata ini menyetop matanya dan mengisyaratkan padanya untuk bersikutat lagi dengan blangko absen tersebut.

#2

Anggun, perempuan yang katanya cantik. Entah sejak kapan kata “katanya” ini mengganggu struktur kalimat itu, yang jelas kata ini telah terpatri di dalam benakku cukup lama. Bahkan sejak pertama kali aku dan dia berpandangan--walaupun cuma sekilas.

Ada data yang kamu simpan di komputer ruang guru?”

“Ada, Dan,” dia tak menatapku saat ini, hanya mengucapkan iya sambil terus sibuk dengan surat menyurat itu.

“Kalau begitu ayo kita ambil kesana, jangan lupa bawa flashdiskmu ya!”

“Ok!”

Kami berjalan ke kantor majelis guru. Sebelumnya dia telah minta izin untuk keluar pada jam pelajaran biologi pada guru yang sebentar lagi akan mengajar di kelasnya. Aku hanya melihat, sampai dia berlari mengejar langkahku.

Kami berjalan berdua, sesekali aku sempat membuka perbincangan,

“Kau tahu dimana file itu disimpan?”

“Tentu saja” ucapnya sambil memperhatikan gundukan kerikil kecil di bawahnya.

“Oh ya, bagaimana keadaanmu?” aku melihat sekilas ke arahnya, dia juga menatapku lekat-lekat, kemudian membuang pandang.

“Baik,” jawabnya datar.

Aku tahu dia bohong. Karena aku bisa melihat sekilas wajahnya diliputi gelisah. Selain itu aku memang merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Wanita ini sungguh membuatku penasaran.

Dia memang penyembunyi rahasia yang baik. Tapi aku tak dapat dibohongi. Aku tahu, di balik senyumnya itu, dia sedang menangis kuat. Aku tahu dari sorot matanya itu ada duka yang sedang menenggelamkannya.

Tapi aku tak berkata apa-apa. Aku tak ingin mencampuri kehidupannya.

“Oh ya bagaimana hubunganmu dengan lelaki itu?”

“Lelaki mana?”

Aku tertegun, mengingat sesuatu.

#3

Aku ingat lagi. Lelaki A, lelaki B, lelaki C, dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang membuat--perempuan yang katanya cantik--ini sangat digemari oleh kaum Adam. Banyak orang yang mengaguminya. Lantaran kecantikannnya itu telah membuat orang-orang penasaran.

Namun, di balik semua itu, aku ingat lagi bahwa hanya ada seorang lelaki yang sangat dicintainya. Ya, dia pernah cerita tentang hidupnya. tentang lelaki A yang sangat dicintainya itu. Aku kasihan mendengar ceritanya, karena lelaki itu tak menyadari perasaan perempuan ini.

Aku mencoba melupakan pikiran ini. Karena kini kami telah sampai di sebuah komputer dimana file yang kami cari itu di simpan. Aku perhatikan sekeliling, sepi. Mungkin guru-guru tengah sibuk mengajar di kelas masing-masin. Sedang menyuapi ilmu pada muridnya.

Aku duduk di sebuah kursi. Sedang Anggun, masih sibuk mengutak-atik komputer untuk mencari file itu. Dia mencolokkan flashdisknya itu. Lalu matanya sibuk lagi berputar-putar mencari file itu.

“Oh ya, maksudku lelaki itu adalah Hadi”

Dia menoleh, lalu raut wajahnya berubah.

“Aku mencoba melupakannya”

“Oh”, jawabku singkat, tanpa tahu harus berkata apa.

Dia lalu mencopy-kan file itu ke flashdisknya. Yang dilanjutkan dengan mematikan komputer itu. Kemudian dia memberikan flashdisk itu padaku.

“Aku dengar kau telah menjalin hubungan dengan lelaki lain?”

Dia mengangguk, membenarkan ucapanku. Kemudian kami menyusuri jalan keluar dari ruangan--yang sepi--ini.

“Berarti kau telah lupa pada Hadi?”

Mungkin saja, jawabnya asal - asalan.

Di luar, kami mengarahkan langkah pada tujuan berbeda. Aku melambaikan tangan padanya. Begitu pula dia. Kami kembali ke kelas masing-masing, dia melanjutkan pelajaran biologi, sedang aku memutuskan untuk pulang karena tak ada lagi pelajaran siang ini.

Sementara itu aku menoleh pada flashdisk di tanganku

“Usang juga ya!”

#4

Sore ini, senja memerah. Aku sudang sibuk di kamar yang ukurannya tak terlalu besar. Pandanganku fokus pada layar komputer. Ditemani musik yang mengalun dari sound system yang dipasang cukup keras.

Aku sedang sibuk mengutak-atik file yang kemarin diberikan Anggun. Flashdisk yang bernama “Broken” itu semakin membuatku iba padanya. Entah apa maksud dari pemberian nama pada flashdisk berwarna hitam itu.

Flashdisk yang tutupnya telah hilang, sedikit warna hitamnya telah berubah menjadi keputihan, mungkin karena tergores atau karena tak dirawat dengan baik. Di ujung-ujungnya ada sedikit debu yang menempel keras. Pada bagian samping ada besi yang berkarat.

Kuperhatikan baik-baik flashdisk ini, setelah meng-copy beberapa data yang kuanggap penting. Sekali lagi, flashdisk ini telah karatan. Usianya telah tua. Tapi apa bedanya dengan flshdisk-ku? Bukankah kami membelinya pada toko yang sama dan juga di hari yang sama?

Aku mencari flashdisk itu. Ketemu. Lalu membandingkannya. Tiga tahun lalu, kami membelinya. Aku berwarna biru, dan dia berwarna hitam. Namun, kini punyaku telah rusak. Dan aku hanya meletakkannya di sebelah komputerku. Baru beberapa hari ini, penyimpan memori ini tak dapat terbaca. Entah kenapa?

Tapi bagaimana dengan punya Anggun? Aku menatap lekat-lekat pada flashdisk ini, sambil mengaduk-aduk pikiranku.

“Bukankah kejadian ini juga terjadi pada pemiliknya?" Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari pikiranku sendiri.

“Apa maksudnya?”

“Dia telah banyak dipermainkan oleh lelaki yang mencintainya?”

“Lelaki A, lelaki B, dan lelaki C?”

“Ya, mungkin lebih banyak dari itu!”

Aku menatap flashdisk menyedihkan ini, barangkali ada benarnya.

#5

Aku berniat membersihkannya. Tanganku bergerak perlahan mengelap flashdisk ini dengan sapu tangan. Aku tak peduli senja telah menjadi hitam. Tanganku bergerak maju mundur dan dengan lembut mengelapnya.

Aku mendekatkan flashdisk itu ke hidungku. Tiba-tiba indra penciumanku menangkap sebuah aroma. Sebuah aroma yang sedap.

Ya, ini adalah bau sebuah parfum. Khas aroma perempuan. Aku juga tak tahu mengapa ada aroma ini.

“Itu adalah aroma tubuhnya. Tidakkan kau pernah mencium aroma ini sebelumnya?”

“Ya, kadangkala kalau kami berpapasan!”

Ya, aku yakin ini aroma tubuhnya. Wangi sekali. Tapi kenapa juga ada pada flashdisk ini?

Oh ya, mungkin saja ini adalah gambaran Anggun. Mulai dari kerusakan yang menimpanya, dan bau itu. Bau yang mengundang kumbang untuk mendekatinya.

Terakhir, aku memindahkan tutup flashdisk milikku yang rusak itu pada flashdisk ini. Semoga saja dengan begini dia tetap terawat.

Semoga juga perempuan itu senang.

#6

“Anggun!!” Aku berteriak memanggilnya yang lewat pagi ini di depan kelasku. Lalu menyerahkan benda kecil miliknya itu.

“Ok makasih!” Dia mengambil flashdisk itu dari tanganku. Kemudian membalikkan tubuh lalu pergi.

Aku menatapnya dari kejauhan. Dia berbalik arah kemudian, aku tahu dia pasti merasakan sesuatu yang lain.

“Tutup ini?”

“Ambil saja!”

Ucapku datar diiringi kepergiannya.

“Sesingkat itukah?” Aku mendengar sesuatu lagi. Aku tak menjawab, hanya diam saja.


Kemudian bau itu menghampiri lagi. Bau yang semakin kental dari aroma tubuh perempuan itu.



(2010)
Read More … Flshdisk Seorang Perempuan

Progress Novel Untitled dan Problemnya


Well, setelah akhir-akhir ini disibukan dengan novel untitled ini, gue mau cerita sedikit tentang progressnya.

Jadi gue udah nulis sebanyak lima bab, dan sekarang sudah mau otw ke bab enam. Tapi banyak yang bilang kalau konfliknya kayak belum muncul, padahal ini udah pertengahan cerita. Gue memang baru mau cerita tentang penderitaan tokoh utama itu di bab enam sama bab tujuh. Tapi seperti tadi, gue merasa telat konfliknya.

Gue pernah baca blognya mas Dendi di dendiriandi.com di sana dia bilang bahwa lebih bagus novel itu konfliknya langsung ditayangkan lebih dulu. Kalau ga ya ceritanya bakal ditinggalin pembaca karena ceritanya belum berkembang.

Oh ya, gue juga punya masalah sama karakter-karakter dalam novel itu. Karakter yang sebagiannya nyata itu protes ke gue, bilang bahwa gue sesuka hati memainkan karakter. Oh ya, karakter di sana juga banyak banget, setelah Audrey (Alwin), temen kosnya yang 14, Andin, Ayah Bunda, belum lagi temen-temennya di kampus ntar, terus juga ada cerita-cerita masa lalunya. Jadi gue merasa terlalu banyak make tokoh, takutnya ga fokus.

Novel ini kan jalan ceritanya perpindahan roh ya, dari Audrey ke Alwin pas dia kecelakaan pesawat, bad news-nya adalah gue belum menemukan judul yang pas buat novel ini. Astagaaa!

Another problem is, gue suka nunda-nunda buat nulis. Nonton dulu lah, baca dulu lah, main game dulu, apalagi sekarang puasa, malesnya kebangetan. Selain itu, semua referensi buku yang biasa jadi inspirasi gue ketinggalan di nangor.

And the ultimate problem is, charger laptop rusak. Menghalangi pergerakan banget, setelah kemaren service ulang, sekarang ada aja masalahnya.

Well, anyone can help?
Read More … Progress Novel Untitled dan Problemnya

Novel Bab 5



Lima



I wouldn’t choose any companion in the world but you

- Shakespeare

Senja di Jatinangor begitu damai. Dari balkon kosan, terlihat beberapa anak berlarian di gang sempit, bapak-bapak yang sibuk mengurusi burungnya (binatang-red), dan Aa delivery service yang sumringah mengantarkan makanan ke kosan-kosan. Oh ya, Jatinangor juga punya pemandangan sunset yang bagus. Langit tampak indah dengan warna jingga kemerahan, seperti pipi seorang gadis yang malu karena ketahuan ngupil di foto buku tahunan.
Gue sudah kembali dari Depok, menunggu masa perkuliahan yang tinggal beberapa hari lagi. Sambil menunggu itu, gue memutuskan untuk stay di Nangor saja. Menngunjungi banyak tempat, kenalan dengan lebih banyak orang, makan makanan yang berbeda di warteg setiap hari, dan menjahili orang yang berbeda.
Tentu saja gue menempati kosan kembali. Oh ya, kalau di sini orang-orang menyebut kos-kosan dengan nama “pondok.” Ada Pondok Wira, Pondok Az-Zahra, Pondok Pedekate, Pondok Nusantara, dan masih banyak nama lain yang lebih aneh lagi. Kosan gue sendiri namanya Pondok Muslimah. Terdiri dari dua lantai dan 14 kamar. Di bawah ada enam kamar layak huni, dan di atas ada tujuh kamar. Bingung kan satu kamar lagi kemana? Jadi satu lagi itu gudang, kecuali ada yang berminat mengisinya.
Penghuni pondok gue juga ada 14, jadi ada yang sekamar berdua. Beberapa di antaranya mungkin sudah pernah gue sebut, namun yang lainnya belum. Sejauh ini gue sudah lumayan kenal sama mereka. Nah, kali ini gue akan nyeritain mereka satu-satu sesuai sudut pandang gue yang minus lima dan silindris setengah.
Kiran
Bagi yang pertama kali bertemu pasti menyangka, “Ini anak kece juga ya?” Bagi yang cowok pasti bilang, “Wah gila maan! Gaul.” Yang cewek pasti bergumam, “Njirr stylish banget!” Tapi setelah mengenalnya pasti mereka semua serempak bilang, “Tolooong jangan bawa gue ke dunia lo yang freak itu!” Jika ini film, akan ada gerakan flash back waktu secara cepat dan kembali ke awal pertemuan. Lalu orang-orang akan bilang, “Oke, nama lo siapa tadi?” dengan takut-takut.
Kiran adalah gabungan anak yang urakan, suka parno sendiri, terkadang bisa sangat menggoda, tapi kadang bisa sangat rajin. Dia juga rajin belajar diluar gayanya yang kece badai, selain itu dia juga teman curhat yang paling polos diantara yang lain.
Lana
Biasa dipanggil LAN dan tersedia di gedung-gedung perkantoran....oke itu Local Area Network! Fokus Dre! Fokus! Orangnya misterius, jarang keluar kamar, dan jarang ngobrol sama anak kosan lain. Tetangga sebelah gue, tetapi paling jarang ketemu gue. Pernah baca novel Eclair? Jika di sana Stephanic ingin mengetahui apa yang dilakukan tetangganya sebelum meninggal, maka gue pengen sekali tahu apa yang dilakukannya di kamar.
Lana kuliah keperawatan, tapi yang ada di otaknya dan bindernya cuma gambar. Struktur bangunan, beton-beton, besi, semen, konstruksi, yap! Benar sekali! Dia ingin jadi arsitek. Tapi putaran nasib membawanya bertemu dengan kami, dan sepertinya dia belum siap dengan pertemuan ini.
Widi
Anaknya supel, kuliah statistika, hobi ketawa meskipun sesuatu yang ditertawakannya tidak lucu sama sekali. Dari dulu sih orangnya suka ngerjain, beda tipis sama gue yang suka jahil. Orangnya tinggi dan tiap masuk kamar gue takut kepalanya kejedot kusen pintu.
Gue kenal Widi sejak di Padang, tapi gue nggak tahu nama dia. Anak statistika, hobinya gila-gilaan bareng gue. Meskipun sudah kenal dan suka gaul bareng sejak di Padang dulu, gue melupakan satu hal esensial: nama. Sejak di Padang, gue nggak pernah tahu nama anak ini. Dan ternyata....dia juga begitu.
Martha
Namanya Martha, kepanjangannya Marthabak, oke itu nama makanan yang berbahan dasar tepung dan telor. Sama kayak Widi, dia anak Statistika juga. Punya rambut bagus kayak Lindsay Lohan dan badan kayak Alison Brie yang sedang gemuk. Anaknya kalem, tanpa alasan suka senyum-senyum sendiri kalau ketemu gue. Martha punya logat batak yang kalau ngomong sama orang, orangnya juga ikut-ikutan Batak.
Husna
Orang yang bertemu dia pasti terkesan karena ia shalih, khatam tiga kali, dan baik sekali. Husna adalah anak yang besar dari lingkungan pesantren. Biasanya kalau di kosan dia selalu pakai rok. Pakaiannya juga selalu tertutup, dan kalau sudah ngomong soal agama, nggak ada tandingannya. Gue harap nanti Husna bisa membawakan program religi kayak, “Mama Husna curhaaat dooong!”
Naya
Seperti yang pernah gue bilang, Naya itu kalem. Kuliahnya Sastra Inggris sehingga jangan salah jika kalian mendapatinya suka nonton film tanpa subtitle. Hobinya teleponan kalau orang-orang sudah tidur. Terus main permainan tutup telepon tuh,
“Kamu yang tutup duluan yaah”
“Kamuu ajaaa”
“Engga kamuuu ajaaa”
Habis itu pasang tampang sok unyu yang sebetulnya memuakkan. Oke, kalian pernah lihat stand up comedy yang bertajuk seperti ini? Kurang lebih deskripsinya seperti itu.
Yaya
Anaknya polos tapi bisa menggelinjang tiba-tiba. Hal yang ngenes pas habis kenalan sama dia adalah ketika dia terlalu excited ngeliat gue dan tidak memperhatikan jalan, dia nabrak meja setrikaan. Dan gue tahu, itu sakit banget! No matter, urang awak yang satu ini kuliah statistika dan punya kelebihan lemak yang bisa dipakai buat hibernasi di musim dingin. Sukanya sama sekuel Twilight, One Direction, kadang suka juga dengerin Maroon Five, Bruno Mars, pokoknya lagu yang bisa bikin happy deh.
Caca
Kalau ini film pendek, maka akan ada backsound lagu Bruno Mars yang Count on Me dan langsung terpampang foto Cacadia lagi monyongin bibir, plus nama. Jadi anak ini memang asli bisa banget monyongin bibir. Pas lagi ngambek, pas lagi bete, tiba-tiba dia monyong, dan itu lucu banget. Orangnya asli unyu, punya pipi yang enak banget buat dicubitin. Intinya sih, orangnya enak banget buat diangkat jadi adek kandung (?)
Tapi meskipun unyu begitu, dia dan keluarganya sedikit idiot. Beberapa hari yang lalu, waktu gue lagi internetan di atas, gue tiba-tiba dimintain tolong sama bapaknya buat bukain pintu kamar. Jadi mereka sekeluarga sudah dua jam terkunci di kamar dan kosan lagi kosong. Berawal dari check and ricek gembok baru sih. Begitulah kejadian aneh yang gue ingat tentang dia.
Deefa
Gue udah sering cerita kan tentang neng yang satu ini? Senyumnya yang bikin tentram, sinar matanya yang penuh semangat, dan pembawaannya yang selalu ceria. Namun dibalik semua itu siapa yang tahu? Deefa adalah orang yang kalau diajak ngobrol bisa bikin semangat lagi, bikin nggak galau, dan easy going. Pokoknya dia adalah segala yang dibutuhkan sebagai teman (pacar doong?) Ah, tapi mata gue telah jatuh pada seseorang bermata sayu itu.
Anak sistem informasi yang satu ini ngakunya tidak begitu suka dengan dunia IT, tapi bisa menginstall ulang komputer dengan cepat, unlock wifi, suhu phtoshop, dan berbagai macam trik lainnya. Deefa adalah penggemar beratnya One Direction, dan lagu favoritnya adalah Little Things.
Nisa
Karakternya nggak jauh beda sama Deefa. Suka kemana-mana bareng, makan bareng, belajar bareng, bahkan tidur juga bareng (?) Kuliah Fisika, tapi tampangnya tidak seperti Hukum Archimedes ataupun teori mekanika kuantumnya Max Born, untungnya! Menyukai segala jenis hal tentang boy band dan girl band korea sekaligus dramanya. Penggemar berat Yoona SNSD, Krystal Fx, dan berharap suatu hari nanti bisa ikutan dance cover bareng mereka.
Rara
Selanjutnya ada Rara yang biasanya suka nyolot, lemot, dan kadang idiot. Dia adalah orang yang pede aja mau ngomongin apa. Penggemar K-Pop juga, tapi ngakunya masih ngefans berat sama Agnes Monica. Masih satu aliran sama Nisa yang begitu menyukai Yoona dan teman-teman, tapi Rara lebih suka sama Boa, Shinee, Suju, dll. Oh ya, dia masih tetap dengerin lagu-lagunya Alicia Keys, Pink, Rihana, dan penyanyi solo barat lainnya. Tunggu, ini berarti dia suka semua aliran musik ya?
Kuliah keperawatan sama seperti Lana, tapi punya kepribadian yang jauh beda sama temen sekamarnya, Tanri.
Tanri
Tanri ini orangnya kalem, mukanya suka jutek, dan tatapan matanya tajam, setajam silet. Kadang gue ngeri kalau lihat dia, berasa mau dipalak. Orangnya banyakan diem, tapi kadang suka ngaco. Pas Ospek Universitas jam lima pagi, dia sudah keluar dan siap berangkat. Terus tiba-tiba ngomong sendiri, “Eh kacamata gue ketinggalan ya? Pantesan kabur...” Gue speechless melihatnya.
Kuliah keperawatan juga tapi menyukai banyak hal tentang dunia silat, khususnya organisasi merpati putih. Mungkin dulu film favoritnya Joko Tingkir dan Wiro Sableng yang sekarang film sejenis itu sudah banyak sekuelnya di Indosiar. Tapi gue nggak berharap anak ini bakal naik elang kemana-mana, pelihara naga, atau kegiatan sejenis.
 Fana
Dia adalah seluruh definisi gue tentang cinta, dan jika nanti gue kehilangan seluruh definisi itu, gue akan tetap mencintainya. Jatuh cinta kadang membuat kita naif ya? Gue suka semua hal tentang dia. Matanya, senyumnya yang tipis, cara berjalannya, sikap misteriusnya, dan karakternya yang feminim. Meskipun gue belum banyak berinteraksi dengan dia, gue belum kenal dekat dengan dia, bahkan gue belum tahu orangnya seperti apa.
Tapi, seperti sebuah teori Psikologi Komunikasi. Ada karakter-karakter tertentu yang dimiliki seseorang dan sesuai dengan gambaran-gambaran yang ada dalam pengalaman kita, sehingga kita bisa saja benci ketika pertama kali melihatnya atau langsung suka ketika pertama kali bertemu. Padahal kita belum pernah bicara padanya. Itu kata Jalaluddin Rakhmat. Sederhananya begini, banyak sekali ingatan tentang orang-orang dalam pikiran kalian, yang dibenci ataupun dicintai. Nah tumpukan memori itu membuat kita melihat orang baru sesuai dengan persepsi kita terhadap orang-orang yang kita kenal di masa lalu. Misal ekspresi sendunya membuat kita merasa dekat, gaya humornya membuat kita nyaman di dekatnya, atau raut sinisnya langsung membuat kita benci.
Lalu, apakah gue jatuh cinta pada Fana karena ciri-cirinya kurang lebih sama dengan mantan gue sebelumnya? Bisa jadi begitu.
***
Selain suka baca bukunya Andrea Hirata, Dewi Lestari, Ahmad Fuadi, Damien Dematra, atau penulis-penulis novel lainnya seperti Fauzan Mukrim, Dendi Riandi, Roy Saputra, dan Pribadi Prananta, gue juga suka baca-baca novelnya Tere Liye. Gaya Bang Tere dalam menulis novel kadang memang bikin ngehe sendiri. Orang-orang yang sedang galau bisa jadi tambah galau dibuatnya. Buku-buku galaunya misalnya Sepotong Hati yang Baru, Berjuta Rasanya, atau Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah bisa bikin galau seharian.
Hanya perlu bersabar, dan semua skenario baik itu tercipta sendiri.” Itu kata Bang Tere dalam novelnya Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, dan gue mengamininya. Rasa penasaran menyelimuti gue selama di Depok kemarin. Ya, gue penasaran dengan Fana. Mengapa dia begitu pendiam, mengapa dia terlihat sangat misterius? Dan kemungkinan-kemungkinan lain yang gue reka-reka sendiri di otak. Bahkan saat ini, saat menemani Deefa yang lagi menghias kamar, gue masih mikirin dia.
“Ini cocoknya di sini kai ya?” Deefa dengan semangat menata kamar dengan poster band favoritnya, One Direction.
“Hmmm....iya,” gue melihatnya dengan tatapan kosong.
Gue masih mengingat kejadian kemarin sore, pas gue tiba-tiba ketemu Fana di dekat jemuran. Gue langsung sumringah dan langsung menyapanya.
“Heeeei kamuuu...”
Dia menatap gue dengan bengong.
“Aaaah, maaf gue salah orang (lagi)” Ya, dengan malunya gue mengakui bahwa gue mengira itu Deefa.
Gue langsung pergi waktu itu, meninggalkannya dengan sejuta tanda tanya, “Ini orang geblek apa idiot ya? Salah orang melulu!”
Tupai tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Yah, gue kan bukan tupai! Tidak masalah dong kalau khilaf lagi. Dan seperti kata Bang Tere lagi, “Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.” Maka pertemuan gue dengan Fana yang absurd tersebut adalah salah satu skenario Tuhan yang tidak gue pahami.
“Dre, kenapa? Kesambet setan mana?”
“Haaah....” Gue melongo, pertanyaan Deefa barusan membuat gue kembali ke bumi.
“Eh engga Dee, gue lagi ga enak badan aja kayaknya...’
“Hoo gitu? Balik kamar aja atuh, istirahaat. Aku bisa masangin posternya sendiri kok.”
“Gue keinget Nisa, Dee...”
Gue memang lagi ingat Fana, sekaligus ingat peristiwa yang dialami Nisa beberapa hari lalu. Peristiwa yang membuat kami malu sebagai teman.
***
“Udah udaah, tenaang. Kita makan dulu habis itu beli obat buat Nisa ya.”
Gue mencoba menghibur Deefa yang sedikit khawatir karena teman seperjuangannya sakit.
“Mudah-mudahan gapapa yaa...”
Malam ini gue makan berdua bareng Deefa...di warteg. Harusnya eksklusif karena ini makan malam pertama kami berdua saja. Tapi please gue tidak serendah itu untuk memanfaatkan keadaan. Nisa sendiri lagi sakit dan memutuskan untuk istirahat di kosan. Maka setelah makan malam, gue berkeliling ke apotek-apotek bersama Deefa untuk membeli obat.
Setelah mengecek keadaan dan memastikan keadaan Nisa baik-baik saja, gue memutuskan untuk balik ke kamar sendiri dan pamit pada Deefa. Di kamar gue memutuskan untuk baca-baca sebentar dan kemudian tidur. Sudah larut juga, pikir gue. Di kamar atas Nisa barangkali juga sedang tidur, mudah-mudahan saja sakitnya hanya demam biasa. Barangkali Deefa yang terlalu khawatir. Gue membatin dalam hati.
“Arrrrgghhh...” Jam tiga pagi dan gue terbangun karena alergi. Bintik-bintik merah muncul di kaki, gatal setengah mati, membuat gue tidak bisa tidur lagi.
Sambil mengolesi kaki dengan minyak kayu putih, gue membuka twitter dan melihat timeline. Nisa sedang mengeluhkan sakitnya di sana.
“Aduuuh sakit banget, udah ga kuat lagi...”
Kemudian gue me-reply tweet tersebut, “Iyaak teruskan! Tarik napas...hembuskaaan!” Tentu saja gue nggak bilang itu woooy!
“Kamu kenapa Nisa? Perlu minyak kayu putih atau obat?”
Gue memilih untuk membalas dengan normal, tak lama kemudian ada balasan lagi darinya.
“Gapapa kok Dre, nanti ngerepotin...”
“Yaudah, nanti kalo butuh sesuatu telepon aja ya...”
Bodohnya membalas seperti itu. Bukannya menyusul ke atas, gue malah mencoba tidur kembali.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bel, lalu ada yang menyahut.
“Ayaaah?” Itu suara Nisa dari atas.
“Iyaaa...”
“Tuiiing,” dia melempar kunci kosan dari atas karena tidak sanggup turun ke bawah (ada saran bunyi kunci yang lebih baik?).
Ayahnya lalu masuk dan naik ke atas, dan gue nggak turun sama sekali. Beberapa kali suara grasak-grusuk terdengar dari atas. Gue nggak tahu itu apa, yang jelas sedang tidak ada pertandingan gulat di atas. Hingga beberapa menit kemudian Nisa dan ayahnya turun dan pergi. Mereka pulang ke rumah. Dan bodohnya gue karena tidak keluar dari kamar sama sekali. I didn’t get out of my room just even one minute! How pathetic I was.
Keesokan harinya gue menanyakan kejadian Nisa semalam pada Deefa.
“Dee, semalam tahu ga?”
“Iyaaa...aku tahu, dan aku baru keluar pas ayahnya Nisa dateng.”
“Mending, aku udah bangun waktu itu tapi ga keluar kamar. Bego banget malah!”
“Aku baru keluar pas ayahnya dateng, dan aku ga sadar kalo sebelum itu dia lagi sakit banget!”
Kami berdua terdiam, sama-sama menyesal karena tidak bisa menjadi teman yang dapat diandalkan.
“Aku kena tipes...”
Dua pesan masuk, satu di handphone gue, dan satu lagi untuk Deefa. Pesan itu, dari Nisa.
***
Semenjak Nisa sakit, apa-apa dilakuin Deefa bareng gue. Makan bareng, nonton streaming bareng, nyanyi-nyanyi nggak jelas bareng, ejek-ejekan bareng, mandi aja sih yang nggak bareng. Pernah suatu kali dia nemenin gue tidur, soalnya gue lagi ketakutan. Malam itu, dia membawa semua barang-barangnya ke kamar gue dan dengan ikhlas tidur bareng gue.
Gue nggak bisa tidur malam itu. Jadinya ya gue baca buku saja. Romannya Remy Sylado, Matahari, menemani gue menghabiskan malam yang dingin. Selain itu, Deefa mengigau yang tidak gue mengerti.
“Aku ga apa-apa, aku ga kenapa-napa...”
Gue yang bingung langsung melihat ke arahnya.
“Dee, kamu kenapa?”
Dia melihat ke gue lalu tersenyum, “Aku gapapa...” habis itu dia tidur lagi.
Malam itu, setelah melihatnya tertidur pulas, mengigau, dan semua hal yang sudah kita lewati bareng-bareng, gue menyadari satu hal. Gue tidak mencintainya, gue memang nyaman bersamanya, suka ngobrol lama-lama, dan menyukai sikap cerianya. Tapi bukan seperti ini definisi cinta yang pernah ada dalam kamus gue.
Semua definisi itu masih pada Fana...
Read More … Novel Bab 5
Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy