Aku tulis ini bukan untuk membanggakan diri, bukan untuk memamerkan siapa aku, tapi hanya untuk menyatakan sebuah kebingungan atau mungkin kebodohan.
Akhir-akhir ini aku sering sekali menulis dan membaca. Setiap waktu luang di malam hari selalu kugunakan untuk membaca. Buku yang akhir-akhir ini kubaca adalah Motivasi Dosis Tinggi, novel Negeri 5 Menara, La Tahzan, dan novel Demi Allah Aku Jadi Teroris. Dan akhir-akhir ini pun aku seperti terjebak dalam ruang lingkup seminar. Jika hari Sabtu lalu aku menghadiri bedah buku Nirwan Dewanto, maka siang tadi aku mengikuti seminar Hot Issues di sekolah. Bersama teman-teman dari ekskul English Community, teman-teman dari seekolah lain, beberapa guru, dan pastinya Mrs. Barbara.
Seminar yang satu ini pun terlihat instan kuikuti. Ceritanya pagi itu aku akan belajar matematika di kelas Sosiologi (sedikit aneh?). Lalu melihat kerumunan di TRRC Room (ruangan yang biasa digunakan sebagai aula), dan sekejap mata aku telah berada di antara kerumunan itu. Aku tak mengetahui jika akan ada seminar tentang Hot Issues di sana, sehingga aku jadi kurang update. Karena tertarik, aku mengikutinya. Mengisi namaku di daftar hadir, dan meminta izin pada guru yang sedang mengajar di kelas (juga mengisi sendiri surat izin di kelas). Dalam sepersekian menit aku telah duduk manis di ruangan itu.
Aku banyak bertemu teman lama. Tentu saja mereka juga baru bertemu denganku hari ini (sebenarnya kota ini cukup luas, aku sudah bertemu dia hampir setahun). Aku bergabung dengan kelompok 4 (Group 4), dengan tema poverty. Diskusi dimulai oleh Mrs. Barbara, setelah sebelumnya ada embel-embel dari kepala sekolah.
Dari sini aku menyadari kebodohanku. Jika dulu Bahasa Inggris adalah kebiasaan (yang dipaksakan) bagiku, maka kini berbeda. Banyak sekali kosakata Mrs. Barbara yang tidak kuketahui. Apalagi setelah aku memutuskan untuk QUIT dari lembaga kursus Bahasa Inggris. Kemampuanku berbahasa asing semakin luntur. Sehingga aku terlihat seperti orang bodoh dalam diskusi ini. Aku sadar, kemampuan akan semakin memudar jika tidak diasah, ini terbukti. Jika dulu aku paling senang berdiskusi dengan Bahasa Inggris, men-translate sesuatu apapun itu, maka kini kebiasaan itu nihil kulakukan. Inilah imbasnya.
Kebodohan keduaku ini yang paling menohok ke jantung. Aku tahu, dari dulu kemampuanku menyerap pelajaran selalu seimbang. Walaupun ternyata nilaiku dalam pelajaran social jauh lebih tinggi. Group yang kutumpangi tadi membahas tentang poverity, aku memulai diskusi dengan Bahasa Inggris yang kacau dan ugal-ugalan. Beruntungnya teman-teman di sana cukup mengerti kelemahanku dan membiarkanku terkadang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Membahas tentang kemiskinan, kepercayaan pada pemerintah, keuletan dari rakyat miskin, pemerintah yang sakit mental, obrolanku dengan mereka merambah sampai pada pengangguran tak kentara, KKN, dan otoda. Aku tak tahu kenapa bisa mengingat pelajaran SMP ini.
Diskusiku dengan adik kelas X makin menjadi-jadi saat group yang lain memulai presentasi. Pembahasan mereka bermacam-macam, mulai dari HIV AIDS, EDUCATION, CLIMATE WEATHER, PEACE, dll. Ada dua hal yang aku ingat, pertama adalah pembahasan tentang ‘kedamaian’ dan ‘hiv aids.’ Dalam presentasi tentang kedamaian kelompok kami berhasil membuat pertanyaan tentang fungsi PBB. Kira-kira pertanyaannya begini, “Sejak berdirinya PBB tanggal 28 Desember 1948, saat itu sengketa antara Indonesia dan Belanda masih merajalela, lantas apakah fungsi PBB demi menjaga perdamaian dunia?” Pertanyaan itu ditukar dengan mengubah topik, “Apakah PBB menjalankan fungsinya sebagai perserikatan bangsa-bangsa saat adanya sengketa antara Israel dan Palestina? Bahkan Israel sebenarnya bukan sebuah negara, melainkan segelintir kelompok yang mencari daerah untuk konstitusi mereka.” Tapi sayangnya pertanyaan kami yang bagus ini tidak jadi perdebatan karena kelompok lawan telah menyelesaikan diskusinya.
Tapi kami tidak menyerah. Pertanyaan tentang sex education membantu kami, “Kapan seharusnya pendidikan sex diberikan? Apakah pada masa pubertas? Sedangkan remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mereka mencari informasi tersebut secara diam-diam sehingga timbul salah persepsi dan miss komunikasi.” Kami tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertanya lagi. Aku sendiri sampai berdiri dan mengacungkan tangan demi bertanya. Untungnya dewi fortuna sedang berada di pihak kami sehingga kami bisa bertanya dengan puasnya.
Aku jadi mengambil kesimpulan yang mungkin adalah sebuah kebodohan, “Apakah keputusanku untuk memilih IPA salah? Sementara ternyata aku senang berdebat baik itu secara logis atau tidak logis.” Atau, “Apakah aku bodoh sehingga mempunyai pikiran picik seperti ini! Keaktifan dalam berdiskusi mungkin bukanlah penanda apakah orang itu lebih berbakat ke IPS.” Mungkin aku saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan ataukah ini ada benarnya?








0 comments:
Posting Komentar