Kalau dahulu saya bisa bilang bahwa membaca buku-buku tebal itu adalah membosankan, sekarang saya menyesal pernah menyatakan hal itu. Kenapa? Ternyata saya salah besar selama ini. Setelah saya memutuskan untuk menekuni dunia tulis menulis, saya mulai mengerti mengapa membaca dijadikan sebagai salah satu syaratnya. Dimulai dari menulis puisi, saya memboyong hampir semua antologi puisi tunggal ataupun antologi puisi ramai-ramai. Zaman berubah dan saya mulai tertarik menulis cerpen, lalu bertebaranlah kumcer-kumcer menarik di rumah. Begitu juga ketika memulai menulis novel (di awal karir kepenulisan) saya membutuhkan beberapa novel teenlit, berbagai buku pengetahuan, nonton TV yang banyak, dan pastinya inspirasi yang berlebih setiap hari.
Kini, saya mengerti setelah memulai menulis esai di akhir tahun 2010 dan rutin di tahun 2011 ini. Setelah begitu banyak lomba menulis esai yang ditawarkan di internet, saya mencoba mengikutinya satu-persatu. Karena pertamanya nggak punya inspirasi dari kisah nyata (kebetulan waktu itu sedang menulis tentang kejujuran) maka saya membuka kembali novel lama saya. Demi Allah Aku Jadi Teroris, menjadi salah satu novel yang saya baca kembali. Dengan sebuah kemauan, saya menamatkan novel itu dalam sehari. Walaupun tidak ada pesan tersirat tentang kejujuran, saya memuji diri sendiri karena bisa menamatkan sebuah buku dalam sehari.
Pengembaraan saya dalam novel berlanjut. Kebetulan waktu itu novel Ranah 3 Warna sedang populer. Beberapa teman yang suka membaca bertriyun buku sudah memilikinya. Kebetulan aku beruntung karena dapat membacanya. Seseorang menertawaiku, “Hey…kalau mau baca Ranah 3 Warna, sebaiknya kamu baca Negeri 5 Menara dulu biar nyambung!” Maka berkat kebaikan hati seseorang, aku dapat pinjaman Negeri 5 Menara.
Hari Minggu jam 8 pagi, aku mendapatkan buku ini. Dan menamatkannya dalam waktu 6 hari. Mungkin memang agak lama (sebab aku terjebak antara waktu yang tidak pernah memberi kelonggaran). Haha, hidupku berubah drastic selama 6 hari ini (semoga seterusnya juga begitu). Sebelum membaca buku ini aku adalah seseorang yang sangat lemah. Mudah guncang dan goyah. Pikiranku dapat saja dirasuki oleh berbagai hal negative, aku sangat mudah tertekan dan menganggap segala sesuatu sebagai beban, aku juga sering bersedih, menempatkan diriku pada posisi sulit, dan pastinya aku bukanlah pribadi yang bisa dikenal dalam sekali lihat.
Aku nggak tahu apa saja perubahan yang telah diberikan buku ini padaku. Yang jelas, hidupku merasa adem ayem akhir-akhir ini. Dengan berbagai kesibukan seperti tanggung jawab untuk menyelesaikan majalah sekolah, deadline sebagai koordinator humas Buku Tahunan, anggota bidang dana SMAPSIC6+JR2, menyelesaikan selebaran untuk SMAPSIC6+JR2, jurnalis di harian Singgalang, penulis lepas di inioke.com, dan pastinya pelajar yang setiap hari menunggui sekolahnya. Biasanya dengan kesibukan seperti ini saja aku sudah merasa stress, tapi entah kenapa aku nyantai saja.
Well, hatiku memang bergetar setiap kali membaca mantra man jadda wa jada, apalagi di penghabisan novel ini. Entah seperti apa sentruman yang diberikan novel ini, entahlah. Yang jelas semuanya terasa beres. Ibadahku terasa beres, pikiranku menuju arah positif, dan hidupku berubah perlahan menjadi ideal.
Memang, di pertengahan novel ini, aku merasa novel ini tak memiliki permasalahan yang berarti. Cerita yang disuguhkan di sini benar-benar cerita nyata, tidak terlalu banyak gejolak yang ditimbulkan kecuali di awal dan menuju akhir. Tapi mungkin itulah yang memberikan ketenangan, karena emosi kita tak memburu selama membacanya. Malah mungkin berapi-api saat membaca berbagai motivasi yang ada di dalamnya.
Di novel ini juga aku menemukan keidealisan yang mungkin tak akan pernah ada di dunia nyata (dramatis sekali). Misalnya saja keikhlasan, kejujuran, kesungguhan, dan menghargai waktu sangat diajarkan di sini. Beda banget dengan kehidupan biasa yang penuh kebohongan, nafsu, kemunafikkan, bahkan juga menyia-nyiakan waktu. Huft…aku ingat beberapa tulisanku yang sangat menggelisahkan, namun aku menemukan jawabannya di sini.
Viel Gluck deh buat yang sudah membacanya. Semoga larut dalam buku bervitamin yang tebal ini. Mari melanjutkan pengembaraan dengan Ranah 3 Warna.








0 comments:
Posting Komentar