Tiba-tiba saja malam ini aku merasa sangat berdosa. Tapi untunglah Tuhan menyadarkanku lewat sesuatu. Tiba-tiba hp-ku bergetar dan beberapa pesan masuk secara bersamaan. Isinya sempat membuatku kaget dan nyaris terperanjat. Isinya menyatakan bahwa seseorang yang tidak kusangka telah memenangkan sebuah lomba yang impossible buatku. Ah, tetapi siapa yang menyangka, Tuhan telah menakdirkan semuanya, dan semuanya tiba-tiba menjadi pisau yang siap menikam dadaku.
Kira-kira sebulan lalu, kalau aku tak salah, aku sempat memberi semangat pada seseorang atas kompetisi yang akan diikutinya. Aku memberinya semangat dan motivasi, dan membantunya mendapatkan informasi dan pengalaman dari peserta tahun lalu. Dari sana terlihat ia sangat gundah dan gelisah, dan aku menyangka bahwa ia tak akan bisa memenangkannya. Bahkan aku menyangka bahwa ia hanya sia-sia mengikuti itu semua.
Ah, betapa bodohnya aku telah berpikir seperti itu. Tampang bukan menjadi penentu seseorang akan berhasil atau tidak, siapa yang menyangka? Dia lulus dan memenangkan kompetisi itu. Dia mengirimiku sms malam ini, mengucapkan terimakasih atas motivasi yang telah aku berikan dulu. Dan saat itu juga perasaanku jadi campur aduk.
Tahukah kau Kawan suatu pepatah yang sangat indah, “Don’t Judge a Book By It’s Cover!” Terasa sangat menarik dan simple, tetapi artinya sangat menohok ke jantung, karena ini kualami secara langsung. Tuhan telah memberiku pelajaran lewat dia. Ah, aku memang bukan manusia sempurna. Terkadang kesombongan dan keangkuhan membuatku meremehkan orang lain, padahal ternyata mereka punya kompetensi lebih dariku. Fatal! Ini terjadi dua kali, bahkan sebenarnya hampir berkali-kali, tetapi aku baru bisa mengambil kesimpulannya sekarang. Tetapi sungguh aku sangat bersyukur karena aku bisa mengambil hikmah dari semua ini, akhirnya aku belajar dari semua ini. Sungguh beruntung orang-orang yang belajar dari pengalaman yang melesat-lesat.
Jujur saja, sebelumnya aku meragukan kemampuannya. Aku mengira dia takkan memenangkan kompetisi itu. Aku menilai dari segi kepercayaan dirinya. Dia kurang percaya diri, tetapi bahkan dia mengutarakan bahwa dia memperoleh motivasi dariku, dan dia berterimakasih untuk itu. Betapa munafiknya aku, di satu sisi aku bilang ini, tapi di sisi lain aku bilang hal berbeda. Sebenarnya aku tak tahu harus bilang apa, tiba-tiba saja ingatanku tentang hal yang telah lama-lama itu berserakan kembali. Apa aku harus bilang padanya, “Maafkan aku sempat meragukan kemampuanmu.” Apakah aku harus bilang itu, lalu apa yang akan dijawabnya?
Sejujurnya aku merasa sangat bersalah dan berdosa. Seharusnya aku menyadari bahwa setiap orang terlahir dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Sesuatu yang terlihat buruk di mata kita mungkin adalah kelemahannya, tetapi ternyata dia memiliki sisi positif lebih dari yang kita bayangkan. Mau tak mau kita harus menerima hal itu, kita harus bisa menerima setiap kelemahan orang lain. Inilah satu kesalahan memandang sisi negative dari seseorang. Well guys! Be positive and Don’t Judge a Book By It’s Cover!








0 comments:
Posting Komentar