Kembalilah Pada Duniamu


Pernah berusaha memasuki dunia orang lain? Tentu saja maksudnya bukan dunia lain, jangan mikir yang macam-macam. Seperti hokum alam, suatu hal pasti memiliki sebab dan akibat. Seperti hokum Newton III, tentunya memasuki dunia seseorang juga memiliki dampak positif dan negative terhadap diri kita sendiri.

Saya misalnya, mencoba memasuki dunia orang lain, terkadang menguras waktu, pikiran, dan perasaan. Dalam hal ini, saya ingin mundur saja. Baiklah, mari membahas aspek-aspek yang ada yaitu perasaan, pikiran, dan yang terakhir waktu. Anggap saja saya memasuki dunia teman saya sendiri.

Aspek pertama yaitu perasaan. Jadi ingat tentang ‘feed back’, Tentu saja dalam pertemanan kita membutuhkan perhatian dari teman kita tersebut. Terkadang jika kita sudah setulus hati memberi kasih sayang padanya, mungkin saja kita bertanya-tanya, “Tidak adakah sedikit balasan untukku?” Ini wajar, mengingat kita adalah manusia, kita teman dia, bukan ibunya—yang kasihnya sepanjang jalan. Sesuatu yang menguras perasaan dan hati, sungguh melelahkan menunggu feed back yang entah kapan datangnya.

Aspek kedua yaitu pikiran. Ayolah, seberapa banyak orang yang dimabuk cinta menghabiskan waktunya untuk memikirkan kekasihnya tersebut? Satu jam, dua jam, tiga jam, dua puluh empat jam? Jangan-jangan sampai mimpi pun terbawa-bawa. Hal yang kita rasakan selelu membuat kita berpikir, tentu saja dikecualikan pada seseorang yang mau peduli. Kebanyakan berpikir juga membuat gundah alias galau loh, makanya pikiran juga perlu dikontrol. Berpikir tentang apa misalnya? Tanyakan saja pada hatimu, mungkin begini. Kamu berpikir jam berapa dia buka facebook atau twitter, apa dia sudah makan, atau sedang tidur, apa yang dia pikirkan sekarang? Banyak sekali macamnya.

Terakhir ini yang sangat riskan, yaitu waktu. Banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan sia-sia cuma karena satu hal yang dianggapnya paling baik. Bermula dari perasaan yang menimbulkan pikiran dan menghabiskan waktu tadi. Beruntunglah yang masih bisa mengendalikan waktunya, yang tidak? Bersiap-siaplah menghabiskan waktumu dengan sia-sia. Saya kadang juga begitu. Maka dari itu, sebenarnya pedui pada seseorang itu tidak harus menghabiskan perasaan, pikiran, dan waktu. Semua ada kadarnya, jika tidak bisa menjalankan semuanya secara seimbang, lebih baik melakukan semua dengan sewajarnya, jangan dipaksakan.

Kembalilah pada duniamu, jangan terlalu memaksakan diri untuk memasuki pikiran seseorang, tidak akan bisa. Jalani semua dengan sewajarnya, jangan berlebihan.
Read More … Kembalilah Pada Duniamu

Berhenti Berharap dan Merendahkan Orang Lain


Cinta. Apakah cinta adalah sebuah kebutuhan? Sepertinya iya, mencintai dan dicintai seperti sebuah kesatuan struktural dan fungsional untuk menjaga suatu keutuhan fungsi dari hati. Mengapa demikian? Tentu saja karena hati membutuhkan asupan gizi yang dinamakan kebahagiaan. Munafik jika ada orang yang tak butuh bahagia. Kejam sekalikah dengan kata ‘munafik’? Sebenarnya bukan munafik, tetapi pemikiran yang suangguh aneh.

Mencintai? Definisinya menurut kamus entah berantah, “Mencoba memberikan suatu perasaan tanpa mengharapkan feed back untuk rasa itu.” Feed back? Terkadang mengharapkan feed back terlalu besar membuat seseorang itu kecewa, karena yang diharapkan tak kunjung memberi apa yang diingini. Feed back bisa dibilang sebagai suatu balasan, balasan perasaan lebih tepatnya. Tetapi seperti yang diutarakan di atas tadi, bukan cinta namanya jika mengharapkan feed back. Lantas, apakah kita bisa mencintai tanpa merasa dicintai? Tidak, perasaan itu akan timpang. Tapi percayalah, terlalu banyak orang-orang yang mengasihi kita tanpa kita sadari, dan sesungguhnya mereka juga mengharapkan feed back dari kita walaupun cuma sedikit saja.

Masih ingat dengan hukum Newton yang menyatakan tentang Gaya Aksi Reaksi? Percayalah bahwa F Aksi = -F Reaksi. Setiap gaya yang diberikan pada benda pasti mendapat balasan dari benda itu. Termasuk juga hati manusia, karena manusia lebih daripada benda mati yang hanya bisa memberi reaksi. Reaksi dari hati manusia bisa berlipat ganda, mungkin saja tidak ditunjukkan secara langsung. Makna filosofisnya, gaya—sekecil apapun yang kita berikan pada suatu benda—pasti akan mendapat reaksi. Begitu pula halnya manusia—sekecil apapun perasaan yang kita berikan pada seseorang—pasti akan mendapat balasan. Hanya saja balasan yang kita dapatkan belum sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Karena itu, kita hanya butuh sabar! Dan menunggu!

Berhentilah berharap pada orang lain yang mungkin belum bisa memberi feed back sesuai kadar yang kita ingini, berharaplah hanya pada Tuhan. Yakinlah Tuhan melihat setiap perbuatan baik yang kita lakukan, cepat atau lambat kita akan mendapat balasan, tentunya sesuai kadar pekerjaan kita. Sangat banyak orang-orang yang jatuh karena kekecewaan, mungkin karena mereka tidak mendapat feed back tadi? Begini, sebenarnya manusia itu banyak tipikalnya. Tak selamanya hukum Newton III tadi berlaku. Apalagi di dunia nyata, masih banyak orang-orang yang tidak mempedulikan cinta yang datang pada mereka. Maka pada orang-orang tersebut, efek Hukum Newton III agak sukar bereaksi. Tetapi cuma waktu yang bisa menjawabnya. Teruslah berikhtiar dan berdoa.

Sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita terkadang menjadi kesalahan. Percaya? Tidak semua orang yang kita cintai bisa kita terima baik dan buruknya. Lantas apakah kita akan mempermasalahkan keburukan orang lain? Sementara di dunia ini tak ada yang sempurna, yang ada hanya menutupi ketidak sempurnaan. Bukankah mencintai itu apa adanya?

Berhentilah berharap dan merendahkan orang lain. Terima semuanya dengan lapang dada, niscaya kita bisa berdamai dengan keadaan. 
Read More … Berhenti Berharap dan Merendahkan Orang Lain

Pengalaman Seorang Anak Kecil Yang Bertemu Pengarang-Pengarang Besar

Boleh dibilang menulis adalah hobiku. Bukan sekedar hobi, menulis juga membantuku dalam masalah ekonomi dan lebih dari itu membuatku bahagia. Menulis itu tanpa ambisi, sama seperti belajar menulis, tetapi lewat hati. Jika anda menulis dan belajar menulis dengan hati, niscaya ilmu anda akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

Belajar menulis itu perlu. Jika ditanya dengan siapa belajar menulis, banyak modelnya. Bisa belajar dari internet, seminar, buku, jurnal ilmiah, atau dengan guru. Kalau saya memanfaatkan kombinasi dari semua itu, dan betapa beruntungnya saya bisa belajar dengan penulis-penulis hebat. Alhamdulillah nama-nama itu adalah mas Boim Lebon (penulis Lupus kecil dan penulis cerpen), Om Yusrizal Kw (Redaktur Padang Ekspress sekaligus guru saya di Sanggar Pelangi dulu), Bang Andrea Hirata (penulis tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan), Mbak Naning Pranoto (penulis buku Telaga Inspirasi Menulis Fiksi), Pak Nirwan Dewanto (redaktur sastra Koran TEMPO, dan penulis antologi puisi Buli-Buli Lima Kaki), Bang Ahmad Fuadi (penulis trilogi Negeri 5 Menara) dan masih banyak lagi kakak-kakak dan teman-teman yang mengajari saya menulis seperti Kak Ria Febrina, Kak Maghriza Novita Syahti, Bang Dodi Prananda, Denada Florencia Leona, dan orang-orang yang menyebut saya teman.

Baiklah 80% saya bisa mengikuti semua itu adalah karena ikut seminar. Kebanyakan free payment, atau kadang acaranya memang terbuka untuk umum. Seperti contohnya hari ini, mari kita sharing untuk menceritakan apa yang telah terjadi di hari Minggu ini. Let’s check this out!

Pagi hari itu semua berjalan seperti biasanya. Matahari merambatkan sinarnya, ibu-ibu berangkat ke pasar, dan saya berangkat les. Hari itu saya sudah tahu bahwa Ahmad Fuadi akan datang ke Padang, maka dari itu saya sangat ingin mengikuti Talk Show-nya yang katanya diadakan di TB Gramedia. Jam 08.30 saya berangkat dari rumah, dan kira-kira 30 menit kemudian saya sudah sampai di sana. Belum ada siapa-siapa, Gramedia masih sepi, tapi sudah ada beberapa orang yang berbelanja dan mendaftarkan diri untuk ikut Casting Film Negeri 5 Menara. Di sana saya mendapat informasi bahwa casting dimulai pukul 11.00 dan talk show dimulai pukul 15.00. Karena terlalu lama, saya memutuskan untuk les dulu dan kembali lagi jam 13.00.

Nah di tempat les ini saya bertemu dengan Miss X (tidak mau disebutkan namanya) yang katanya juga ingin ikut talk show tersebut. Anehnya pada hari itu kami sangat stress. Misalnya saja saya, sudah H-4 ujian semester, dan tiba-tiba saya sangat bosan untuk belajar. Apapun mata pelajarannya, meski sudah berulang kali membaca, saya merasa mumet dan tidak mau melanjutkan. Bahkan ketika sudah istirahat juga begitu, tetap tak ada niat untuk belajar, pikiran tak fokus dan menerawang, dan tubuh mudah lelah.

Oh baiklah, aku pergi dengan Miss X ke gramedia. Sebelumnya kami makan siang dulu, dank arena saya lagi bokek, Miss X membeli hot dog yang kami bagi dua. Hahaha, kami seperti anak kos yang kehabisan uang di tengah jalan. Akhirnya kami jalan ke gramedia, dan menemukan bahwa casting sedang dilaksanakan. Untuk mengisi waktu, kebetulan saat itu masih sekitar jam 2, kami membaca buku dan duduk di kursi resepsionis. Dan tiba-tiba Miss X bertanya-tanya pada Mbak yang ada di kasir tentang casting itu. Kebetulan saya yang masih pusing lebih memilih membaca (saya membaca buku Tour Kematian dan Seluk Beluk Kematian, miris sekali ya). Tiba-tiba pula Miss X meminjam buku Negeri 5 Menara yang saya bawa. Ya sudah, saya suruh saja ambil di tempat penitipan barang.

Sekembalinya Miss X dari lantai satu, dia langsung mengambil formulir pendaftaran casting dan mengisinya. Hahaha, dia ingin ikut casting itu. Saya tidak menyangka! Baiklah saya meletakkan buku aneh yang saya baca itu dan menemani dia menunggu di ruang casting lantai 3. Miss X jadi sibuk beradegan seperti Sarah (dalam novel Negeri 5 Menara), sibuk memperagakan gaya Sarah, meniru gayanya dalam berdialog, dll. Tapi kebanyakan adalah tertawa, ya dia sendiri tertawa melihat aktingnya, dan saya juga. Sementara itu suara kami agak besar di sana karena kami paling gugup, saya juga disuruh Miss X untuk ikut casting tapi saya menolak, saya tak mau bikin malu. Dan saya risih karena ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik saya, hahaha. Mungkin dia lucu melihat ekspresi kami.

Dan tiba-tiba saja saya mendengar suara dari lantai bawah. Ternyata talk show dengan Ahmad Fuadi sudah dimulai. Wah, saya langsung menarik Miss X untuk ke bawah. Tanpa memperhatikan nomor lot casting, kami langsung turun ke bawah dan memperhatikan Ahmad Fuadi. Tentu saja kami senang, bulan Februari saya membaca novelnya, dan di Bulan Mei saya bertemu penulisnya. What an amazing day!

Karena terlalu ramai, kami cuma bisa menyaksikan dari samping, itupun berdesakan. Beruntungnya saya karena bisa bertanya (Haha, mungkin karena mbak yang jadi moderator itu adalah mbak yang ngobrol dengan kami di meja kasir tadi), Mbak moderator itu langsung menunjukku untuk pertanyaan kedua. Saya langsung bertanya, “Assalamualaikum, nama saya Irma Garnesia, saya ingin bertanya kepada Uda Ahmad Fuadi, jika kita sedang mentok saat belajar, apa yang harus kita lakukan?”

Dia langsung menjawabnya. Ringkasnya dia mengatakan bahwa mencoba belajar itu sangat baik, meskipun harus mentok. Dan hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kementokkan itu. Selanjutnya baru mengatasinya. Cara mengatasinya adalah beralih ke hobi lain, misalnya main musik, menulis, dsb. Cara kedua adalah datangi rumah sakit malas (baca novel Ranah 3 Warna), dan yang ketiga adalah mencari pesaing. Tetapi lebih dari itu, dia mengapresiasi karena saya mau belajar, dan orang yang tidak belajar tidak akan pernah merasa mentok dalam proses belajarnya.

Selanjutnya, Bang Ahmad Fuadi membahas tentang proses menulis. Sebelum menulis, kita harus menjawab pertanyaan ini, “Why I am writing?” Kita harus tahu apa tujuan kita dalam menulis, dengan begini stamina akan lebih kuat, menurut Bang Fuadi sendiri, beliau menulis adalah untuk ibadah. Barulah kita menulis, dan yang kedua, “What I am writing?” Tentunya kita harus tahu apa yang akan kita tulis, dan yang pasti tulislah sesuatu yang kita kenali dan kita suka. Ketiga, menulislah dengan konsisten. Kalau Bang Fuadi sendiri biasanya menulis setelah selesai sholat Shubuh, biasanya satu halaman per hari. Dan yang terakhir, bacalah banyak buku.

Terakhir tentunya sesi foto-foto dan tanda tangan. Setelah antri dan mendapat tanda tangan, aku dan Miss X juga antri lagi. Hahahaha, kami ingin sharing dan bertanya tentang banyak hal. Aku sendiri bertanya tentang cara menerbitkan buku, dan akhirnya kami berfoto lagi. Sungguh cara yang cerdik.

Yang jelas, itu adalah hari yang indah, karena aku merasa lebih baik hari itu. Pelajaran moral yang kudapat adalah mendapat petuah secara langsung dari penulis buku bahkan lebih kuat sugestinya ketimbang hanya membaca bukunya.

Terakhir aku bertemu guruku, Om Yusrizal KW, dan teman-teman inioke.com. Mereka pasti tak akan ketinggalan berita semenarik itu. Setelah bersalaman dan ngobrol, aku dan Miss X memutuskan untuk pulang, dan betapa sialnya karena kartu penitipan barang yang kami punya hilang, dan kami harus berurusan dulu dengan security. But, it still be the amazing day.
Read More … Pengalaman Seorang Anak Kecil Yang Bertemu Pengarang-Pengarang Besar

Pepatah yang Tumpah ke Dadaku

Tiba-tiba saja malam ini aku merasa sangat berdosa. Tapi untunglah Tuhan menyadarkanku lewat sesuatu. Tiba-tiba hp-ku bergetar dan beberapa pesan masuk secara bersamaan. Isinya sempat membuatku kaget dan nyaris terperanjat. Isinya menyatakan bahwa seseorang yang tidak kusangka telah memenangkan sebuah lomba yang impossible buatku. Ah, tetapi siapa yang menyangka, Tuhan telah menakdirkan semuanya, dan semuanya tiba-tiba menjadi pisau yang siap menikam dadaku.

Kira-kira sebulan lalu, kalau aku tak salah, aku sempat memberi semangat pada seseorang atas kompetisi yang akan diikutinya. Aku memberinya semangat dan motivasi, dan membantunya mendapatkan informasi dan pengalaman dari peserta tahun lalu. Dari sana terlihat ia sangat gundah dan gelisah, dan aku menyangka bahwa ia tak akan bisa memenangkannya. Bahkan aku menyangka bahwa ia hanya sia-sia mengikuti itu semua.

Ah, betapa bodohnya aku telah berpikir seperti itu. Tampang bukan menjadi penentu seseorang akan berhasil atau tidak, siapa yang menyangka? Dia lulus dan memenangkan kompetisi itu. Dia mengirimiku sms malam ini, mengucapkan terimakasih atas motivasi yang telah aku berikan dulu. Dan saat itu juga perasaanku jadi campur aduk.

Tahukah kau Kawan suatu pepatah yang sangat indah, “Don’t Judge a Book By It’s Cover!” Terasa sangat menarik dan simple, tetapi artinya sangat menohok ke jantung, karena ini kualami secara langsung. Tuhan telah memberiku pelajaran lewat dia. Ah, aku memang bukan manusia sempurna. Terkadang kesombongan dan keangkuhan membuatku meremehkan orang lain, padahal ternyata mereka punya kompetensi lebih dariku. Fatal! Ini terjadi dua kali, bahkan sebenarnya hampir berkali-kali, tetapi aku baru bisa mengambil kesimpulannya sekarang. Tetapi sungguh aku sangat bersyukur karena aku bisa mengambil hikmah dari semua ini, akhirnya aku belajar dari semua ini. Sungguh beruntung orang-orang yang belajar dari pengalaman yang melesat-lesat.

Jujur saja, sebelumnya aku meragukan kemampuannya. Aku mengira dia takkan memenangkan kompetisi itu. Aku menilai dari segi kepercayaan dirinya. Dia kurang percaya diri, tetapi bahkan dia mengutarakan bahwa dia memperoleh motivasi dariku, dan dia berterimakasih untuk itu. Betapa munafiknya aku, di satu sisi aku bilang ini, tapi di sisi lain aku bilang hal berbeda. Sebenarnya aku tak tahu harus bilang apa, tiba-tiba saja ingatanku tentang hal yang telah lama-lama itu berserakan kembali. Apa aku harus bilang padanya, “Maafkan aku sempat meragukan kemampuanmu.” Apakah aku harus bilang itu, lalu apa yang akan dijawabnya?

Sejujurnya aku merasa sangat bersalah dan berdosa. Seharusnya aku menyadari bahwa setiap orang terlahir dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Sesuatu yang terlihat buruk di mata kita mungkin adalah kelemahannya, tetapi ternyata dia memiliki sisi positif lebih dari yang kita bayangkan. Mau tak mau kita harus menerima hal itu, kita harus bisa menerima setiap kelemahan orang lain. Inilah satu kesalahan memandang sisi negative dari seseorang. Well guys! Be positive and Don’t Judge a Book By It’s Cover!
Read More … Pepatah yang Tumpah ke Dadaku

#1
Kebaruan adalah sebuah kesalahan? Benarkah? Baru saja akhir-akhir ini aku memakai seragam baru, pemberian ibu. Sebab ibu aku itu malu, melihat bajuku yang memudar, seperti anak yang tak pernah diurus. Maka jadi saja, hari Senin dan selasa itu aku memakai seragam baru—sebagai pengganti seragamku yang telah satu setengah tahun tak diganti itu.

Tapi ada yang salah. Sebab semua orang memperhatikan perubahanku itu—dari yang memudar, sampai putih sekali. Aku diledek, seperti seorang anak yang ketahuan mencuri uang temannya. Mulai dari sekelas, sampai semesta sekolah sepertinya mengetahui perubahan aku itu. Mereka meledekku dengan bilang, “Baju baru! Baju baru!” berulang-ulang sampai aku muak dan beranjak pergi dari hadapan mereka. Atau kadang aku malah menyuruh mereka diam, jika tidak? Seperti option nomor satu, aku enyah saja dari hadapan mereka.

Pendahuluan yang tidak berarti bukan? Haha, memang tidak terlalu penting mengurusi semua ini. Tapi aku mengambil dua kesimpulan di sini. Pertama, tentu saja mereka sangat peduli padaku—paling tidak pada perubahan lingkungannya. Kedua, mereka  terlalu berlebihan. Betapa tidak, baju baru saja sampai harus bilang seperti itu. Besok apalagi yang baru? Sepatu baru, hp baru, laptop baru? Muka baru? (hahaha).

Sekali lagi, ini tidak penting. Tetapi perlu untuk digubris.

#2
Baru saja beberapa minggu yang lalu ekstrakurikuler yang kupimpin mengeluarkan sebuah majalah hasil kerja kami selama 3 bulan kurang lebih. Tentu saja tiba-tiba aku banyak jadi bahan pergunjingan teman-teman satu sekolah. Mengapa? Sebab baik buruknya majalah itu tergantung pada kerjaku yang ugal-ugalan itu. Hahaha. Tiba-tiba pula facebook-ku penuh dengan friend request yang tidak kutahu siapa usernya. (Ini beneran loh, aku tidak bohong! hahaha).

Ada satu hal yang mengagetkanku. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena ungkapan dari adik kelas yang merupakan tetanggaku itu. Kemarin dia bilang seperti ini
“Kak, kemarin papa dan mamaku ngomongin majalah sekolah kita loh. (nama majalah disamarkan, hehehe)”
“Benarkah, apa kata mereka?” Ucapku dengan nada penasaran.
“Mereka tanya, ini majalah siapa? Lalu aku jawab saja, ‘itu majalah sekolahku’ ”
“Oh ya, bagus sekali!”
“itu saja?” Kataku dengan nada kecewa.
“Mereka juga melihat daftar redaksinya. Mereka juga bertanya, siapa pimrednya?”
“Kak Irma, tetangga kita itu, yang ketemu pagi-pagi itu…anak ibu itu…” (nama ibu dan tempat harus disamarkan, hhehehe)
“Oh iya, yang itu ya? Haha, dia memang pintar…”
“Lanjut saja mereka memuji kakak sampai aku bosan mendengarnya!”
*
Hahaha, aku terpingkal melihat anak itu bercerita dengan polosnya. Bahkan aku sendiri tak pernah dipuji sedikitpun oleh orang tuaku. Kalau boleh bilang, orang tuaku malah tidak tahu menahu tentang majalah sekolah ini. Sedikit pun aku tidak pernah memperlihatkan hasil karyaku itu pada mereka, sebab mereka takkan banyak berkomentar, malah menyuruhku berhenti melakukan aktivitas ini dan belajar.

Maka dari itu, segala aktivitas jurnalistik dan kegiatan tulis menulis aku buang jauh-jauh dari pandangan mereka. Novel-novel dan buku-buku yang kubaca kubuang jauh dari pandangan mereka. Oleh sebab itu pula aku sangat bahagia mendapat pujian dari orang tua anak itu, ternyata masih ada yang menghargai majalah yang biasa-biasa saja itu.

Sebenarnya inti dari masalah ini satu saja (inti dari masalah ini baru terpikir dua hari setelahnya olehku) yaitu ‘orang tua tidak ingin memuji anak mereka di hadapan sang anak!’. mengapa/ Tentulah ini sangat ganjil. Jawabannya adalah karena orang tua tetap ingin menjaga hati si anak, agar tidak membusung saat mendengar pujian. Tentu saja demikian halnya dengan orang tuaku.

Mereka malah membicarakan kebaikan orang lain pada anak mereka dengan tujuan agar si anak meniru orang yang dimaksud, bahkan harusnya bisa berbuat lebih baik lagi. Tipe motivasi yang aneh, tetapi harusnya si anak bisa mengambil kesimpulan dari perbuatan orang tua yang seperti itu.

Sekali lagi, ini cuma pemikiran tak penting.

03-04-2011
Read More …

Penyair Memang (terlalu) Peka

Seorang penyair sepertinya memang dilahirkan dengan sebuah indera yang berlebih, atau perasaan peka yang berlebih jika tidak dapat dikatakan dengan indera. Sepertinya aku memilikinya—walaupun untuk saat ini aku tak memiliki rasa puisi yang besar. Halah, sok sekali aku bilang punya rasa puisi, bahkan sepertinya aku terlalu tega meninggalkan puisi di tengah jalan, menangis sendiri.

Seorang penyair apalagi wanita memang memiliki perasaan yang peka, bahkan mungkin orang yang tak terkait dengan puisi bisa merasakan hal yang sama, dan menuliskannya adalah jalan terbaik—sebab tak semua orang memiliki jalan untuk menceritakannya. Katarsis, itulah nama bekennya. Aku memilih puisi sebagai tempat katarsis, bersunyi-sunyi sendiri dengan puisi. Memendam memang menyakitkan, sudahlah.

Intinya aku ingin menceritakan tiga hal yang seharusnya tak mengganggu pikiran dan belajarku malam ini. Kalau remaja zaman sekarang bilangnya ‘galau’, hehe tapi aku tak mau meng-klaim diriku sebagai galauers. Sebab menurutku galau itu masih satu spesies dengan kesedihan, dan kesedihan adalah kawan setan. Maka dari itu aku tak mau terjebak dalam tipu muslihat setan yang terkutuk itu, dan berdalih bahwa perasaan tak penting macam ini hanyalah sebuah kepekaan belaka.

#1
Pertama, aku memang tak suka menunggu. Lebih tepatnya, setiap aku mencoba tepat waktu, maka disanalah aku akan menunggu. Tadi aku menunggu adik kelas yang akan menemaniku ke Bank sampai empat jam. Aku berjanji dengan dia jam sepuluh dan dia baru datang jam dua. Haha, aku sempat kaget karena slip penarikan yang akan kami gunakan ternyata hilang di tangan dia—aku dan dia akan mengambil uang untuk keperluan organisasi sekolah. Maka dari itu, slipnya perlu diurus kembali dan perlu tanda tangan Pembina, sehingga kami harus menunggu Pembina sampai habis zuhur.

Tidak masalah, jam 10 aku terpaksa ngalong di toko buku dan membaca 3 bab novel sekaligus. Lumayan baca gratis, jam 11.30 aku ampai di sekolah dan dilarang masuk karena tidak memakai baju seragam, peraturan macam apa ini?

#2
Sehabis azan zuhur berkumandang, dan sang pembuat peraturan telah pergi, aku lantas masuk lobby sekolah dan belajar matematika. Setiap orang melihatiku dengan aneh dan meng-klaim bahwa aku anak rajin. Apa yang salah dari belajar? Sebab dia bilang bahwa dia alergi melihatku belajar. Itulah yang membuatku tak betah di sekolah sebenarnya, lebih enak belajar sendiri di rumah, bekennya home schooling.

Karena tak mengerti dan kebetulan ada guru PL yang lagi magang, aku bertanya padanya. Ada beberapa hal yang tak kusuka dari kedua guru PL yang kebetulan lagi nongkrong sambil online di lobby itu. Pertama, sebenarnya dia ogah-ogahan mengajariku belajar LIMIT. Mungkin aku disangka pengganggu karena mengusik keseriusannya yang sedang online. Tapi untunglah, adik kelasku yang lain menyuruhnya untuk mengajariku dan dia bersedia. Aku tak suka cara dia mengajari, sejujurnya. Dia hanya mengajari kulit-kuitnya yang aku sudah mengerti, selain itu dia juga terburu-buru seperti aku ini tak begitu penting—sekolah macam apa ini, tak mau membantu murid sendiri yang sedang kebingungan?

Okelah, dia pergi karena akan mengajar tambahan dan aku bisa mengerti. Selanjutnya, tinggallah aku dan beberapa teman yang sibuk dengan laptop mereka, juga seorang lagi guru PL laki-laki. Dia bertanya padaku, “Belajar LIMIT untuk apa?” Aku jawab saja, “Ya untuk mid semester, pak.” Dalam hati aku agak risih dengan pertanyaan macam ini, apa salah ya bertanya seperti itu—apa karena dia bukan guruku? It’s so freak! dia bertanya lagi dan lagi, “Kok yang dipelajari soal SPMB?” Aku bilang saja, “Kan standar belajar kita untuk SNMPTN, bukan sekedar untuk UN!” Dia tidak ngomong lagi.

Dia bertanya lagi, “Tadi ngeliat Pak Arif nggak, apa beliau sudah datang?” Belum sempat aku menjawab, dia sudah ngomong lagi, “Pasti nggak tau Pak Arif yang mana kan?” Aku merasa dia merendahkanku saja, mentang-mentang Pak Arif itu pindahan jadi aku yang kelas XI dan tidak belajar dengan beliau ini tidak mengetahuinya? Aku tidak sebodoh itu. Aku jawab saja, “Tau kok Pak, dan dari tadi beliau sudah datang.” Dan dia terkooh! Omonganku tentu saja tidak tanpa bukti, aku berhasil menunjukkan yang mana Pak Arif tepat di depan dia, dan dia bagai kerbau yang dicucuk hidungnya di depan Pak Arif, dengan segala hormat dia membuntuti guru matematika itu.


#3
Aku ke bank bersama adik kelasku itu. Setibanya di sana dan mengutarakan maksud dan tujuan, seorang petugas menyuruhku untuk langsung ke teller. Belum sempat aku ke teller, seorang lagi mendatangiku.
“Mau ngapain dek?”
“Mau ngambil uang kak, untuk keperluan ekskul!”
“Maaf dek, tapi brangkas kita sudah tutup!”
“Bukannya tutup jam 3 ya kak?”
Aku tau dia berdalih, dia malah menjawab dengan alasan yang lain
“Uang untuk SMA 1 sedang tidak bisa diambil karena sedang dibekukan, besok masalah keuangan akan dibicarakan dengan kepala sekolah baru.”
Seorang bapak-bapak datang, malah bilang hal lain yang tidak berhubungan sama sekali.
“Maaf dek, tapi uangnya dipindahkan ke bank lain, untuk sementara. Karena pergantian jabatan ini, sementara yang memegang uang adalah bendahara sekolah!”
“Tolonglah pak, ini untuk pelunasan pencetakan majalah, apakah kami harus berhutang ke percetakan?”
“Memangnya berapa yang akan diambil?”
“Sekian…”
“Apa tidak bisa ditunda besok?”
“Ini bukan masalah seberapa banyak uangnya, tapi ini masalah hutang! dan hutang harus dibayar”
“Kalau lebih sedikit dari itu bagaimana?”
“Tapi pak, percetakannya sudah menunggu sejak hari Jumat, dan ini sudah hari Selasa. Dimana muka kami mau diletakkan?”

Perdebatan macam ini tidak menyelesaikan masalah, akhirnya kami hanya mengambil jumlah yang sedikit disbanding yang seharusnya. Daripada tidak. Dari sini aku mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, tentu saja masalah keuangan memang masalah yang vital, tak bisa diganggu gugat, dan kini masalahnya terletak di sana. Walaupun mereka mengutarakan alasan yang masuk akal, tapi tidak buatku. Cobalah pikir, alasan mana yang paling benar? “Brangkas yang sudah tutup, pergantian jabatan kepala sekolah, atau malah pemindahan uang ke bank lain?” Terlihat sekali mereka tidak konsisten dalam memilih alasan, aku bukan orang bodoh yang bisa percaya begitu saja. Pertama, Bank selalu tutup jam 3, kecuali di hari Jumat, bank akan tutup pukul 02.30. Sekarang tiba-tiba jam 2 sudah tutup, padahal pegawai pertama yang kutemui malah menyuruhku untuk langsung ke teller. Sungguh aneh! Kedua, jika memang akan ada pembicaraan mengenai dana sekolah, mengapa kami tidak bisa mengambil uang? Apa hubungannya antara pengambilan uang dengan pergantian jabatan? Ketiga, jika memang uang dipindahtangankan ke bendahara sekolah, mengapa Pembina kami tidak mengatakannya? Bukankah kami baru saja dari sekolah mengambil slip penarikan tersebut?—Kebetulan yang mengurus slip adalah adik kelasku, aku juga tidak melihat Ibu Bendahara itu tadi, tapi pasti beliau ada di sana. Lalu, apakah beliau tidak mengetahui masalah ini? It’s freak!

Beberapa hal terasa aneh hari ini. Dan aku cuma bisa maklum karena tidak ingin mengurusi pikiran macam ini lagi.

bersambung saja…
Read More … Penyair Memang (terlalu) Peka

Catatan Kecil Part II

#1
Kebaruan adalah sebuah kesalahan? Benarkah? Baru saja akhir-akhir ini aku memakai seragam baru, pemberian ibu. Sebab ibu aku itu malu, melihat bajuku yang memudar, seperti anak yang tak pernah diurus. Maka jadi saja, hari Senin dan selasa itu aku memakai seragam baru—sebagai pengganti seragamku yang telah satu setengah tahun tak diganti itu.

Tapi ada yang salah. Sebab semua orang memperhatikan perubahanku itu—dari yang memudar, sampai putih sekali. Aku diledek, seperti seorang anak yang ketahuan mencuri uang temannya. Mulai dari sekelas, sampai semesta sekolah sepertinya mengetahui perubahan aku itu. Mereka meledekku dengan bilang, “Baju baru! Baju baru!” berulang-ulang sampai aku muak dan beranjak pergi dari hadapan mereka. Atau kadang aku malah menyuruh mereka diam, jika tidak? Seperti option nomor satu, aku enyah saja dari hadapan mereka.

Pendahuluan yang tidak berarti bukan? Haha, memang tidak terlalu penting mengurusi semua ini. Tapi aku mengambil dua kesimpulan di sini. Pertama, tentu saja mereka sangat peduli padaku—paling tidak pada perubahan lingkungannya. Kedua, mereka  terlalu berlebihan. Betapa tidak, baju baru saja sampai harus bilang seperti itu. Besok apalagi yang baru? Sepatu baru, hp baru, laptop baru? Muka baru? (hahaha).

Sekali lagi, ini tidak penting. Tetapi perlu untuk digubris.

#2
Baru saja beberapa minggu yang lalu ekstrakurikuler yang kupimpin mengeluarkan sebuah majalah hasil kerja kami selama 3 bulan kurang lebih. Tentu saja tiba-tiba aku banyak jadi bahan pergunjingan teman-teman satu sekolah. Mengapa? Sebab baik buruknya majalah itu tergantung pada kerjaku yang ugal-ugalan itu. Hahaha. Tiba-tiba pula facebook-ku penuh dengan friend request yang tidak kutahu siapa usernya. (Ini beneran loh, aku tidak bohong! hahaha).

Ada satu hal yang mengagetkanku. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena ungkapan dari adik kelas yang merupakan tetanggaku itu. Kemarin dia bilang seperti ini
“Kak, kemarin papa dan mamaku ngomongin majalah sekolah kita loh. (nama majalah disamarkan, hehehe)”
“Benarkah, apa kata mereka?” Ucapku dengan nada penasaran.
“Mereka tanya, ini majalah siapa? Lalu aku jawab saja, ‘itu majalah sekolahku’ ”
“Oh ya, bagus sekali!”
“itu saja?” Kataku dengan nada kecewa.
“Mereka juga melihat daftar redaksinya. Mereka juga bertanya, siapa pimrednya?”
“Kak Irma, tetangga kita itu, yang ketemu pagi-pagi itu…anak ibu itu…” (nama ibu dan tempat harus disamarkan, hhehehe)
“Oh iya, yang itu ya? Haha, dia memang pintar…”
“Lanjut saja mereka memuji kakak sampai aku bosan mendengarnya!”
*
Hahaha, aku terpingkal melihat anak itu bercerita dengan polosnya. Bahkan aku sendiri tak pernah dipuji sedikitpun oleh orang tuaku. Kalau boleh bilang, orang tuaku malah tidak tahu menahu tentang majalah sekolah ini. Sedikit pun aku tidak pernah memperlihatkan hasil karyaku itu pada mereka, sebab mereka takkan banyak berkomentar, malah menyuruhku berhenti melakukan aktivitas ini dan belajar.

Maka dari itu, segala aktivitas jurnalistik dan kegiatan tulis menulis aku buang jauh-jauh dari pandangan mereka. Novel-novel dan buku-buku yang kubaca kubuang jauh dari pandangan mereka. Oleh sebab itu pula aku sangat bahagia mendapat pujian dari orang tua anak itu, ternyata masih ada yang menghargai majalah yang biasa-biasa saja itu.

Sebenarnya inti dari masalah ini satu saja (inti dari masalah ini baru terpikir dua hari setelahnya olehku) yaitu ‘orang tua tidak ingin memuji anak mereka di hadapan sang anak!’. mengapa/ Tentulah ini sangat ganjil. Jawabannya adalah karena orang tua tetap ingin menjaga hati si anak, agar tidak membusung saat mendengar pujian. Tentu saja demikian halnya dengan orang tuaku.

Mereka malah membicarakan kebaikan orang lain pada anak mereka dengan tujuan agar si anak meniru orang yang dimaksud, bahkan harusnya bisa berbuat lebih baik lagi. Tipe motivasi yang aneh, tetapi harusnya si anak bisa mengambil kesimpulan dari perbuatan orang tua yang seperti itu.

Sekali lagi, ini cuma pemikiran tak penting.

03-04-2011
Read More … Catatan Kecil Part II
Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy