Novel Bab 3


Tiga



So no one told you life was gonna be this way
Your jobs a joke, you're broke, your love life's D.O.A.

It's like you're always stuck in second gear
And it hasn't been your day, your week, your month,
or even your year
but..

I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...
….
Suasana rock saat ini kentara banget dari kediaman gue di gang mawar, di salah satu kamar nomor dua. Sountrack serial TV show Friends yang terkenal banget pas tahun 90-an mengalun dan bikin suasana yang sepi jadi semangat. Gue sendiri lagi nge-design kamar nih, beres-beresin barang, merapikan buku-buku, komik, novel, dan memasang berbagai poster. Di dekat kasur ada posternya Kahitna, band kesayangan gue. Dekat lemari ada posternya Westlife, yang sekarang sudah bubar (bahkan sebelum gue sempat nonton konsernya). Terakhir di dekat meja belajar, ada poster film In Time. Film kolaborasi akting antara Justine Timberlake dan Amanda Seyfried.
Ceritanya begini nih, ketika gen penuaan dimatikan, orang-orang harus membayar agar dapat tetap hidup. Semua orang berhenti menua pada usia 25 tahun. Di lengan mereka terpasang jam yang menunjukkan sisa waktu hidup mereka. Untuk mencegah kelebihan penduduk, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli barang mewah dan keperluan lainnya. Orang kaya dapat hidup selamanya, sementara lainnya mencoba bernegosiasi untuk hidup abadi. Seorang pemuda miskin dituduh melakukan pembunuhan ketika ia mewarisi keuntungan waktu dari pria kaya yang sudah mati. Ia terpaksa melarikan diri dari kejaran polisi mirip FBI yang korup bernama 'Timekeepers'.
Filmnya emang belum release sih, gue dapat posternya dari Abang. Karena foto-foto pertama dari set filmnya sudah muncul sejak tahun 2010. Sedang filmnya sendiri? Baru release 28 Oktober 2011 nanti. Gue suka banget filmnya karena bikin kita sadar bahwa hidup itu berharga. Andai kita tahu berapa waktu kita tersisa di dunia ini, pasti kita nggak bakal menyia-nyiakannya. Dan andai seseorang tahu betapa gue mencintai dia, mungkin dia nggak bakal menyia-nyiakan gue. Eh? Kok jadi edisi galau? Ah sudahlah.
Setelah dua jam selesai mendekor kamar sendiri, gue memutuskan untuk menyetrika. Oh ya, sebagai N-AFF sejati tadi gue sudah kenalan sama seorang penghuni baru di sini. Rambutnya panjang, pakai baju putih, dan…eh kok jadi mendeskripsikan kuntilanak sih! Oke fokus Drey! Namanya Kiran, anak bisnis. Kelihatannya sih kece badai, tampak dari gayanya dan teman-temannya yang mampir ke sini tadi. Orang Padang juga, sama kayak gue. Menurut informasi yang gue dapat dari ibu kos, anak Padang di sini ada lima orang. Padahal gue nggak merencanakan buat sekosan sama teman sendiri, eh tahunya nggak lepas-lepas juga dari orang Padang.
Kosan ini cukup menyenangkan, meskipun tempatnya sederhana. Mereka masih menyediakan televisi bersama, meja setrikaan umum, dispenser bersama, dan dapur umum. Televisi dan meja setrikaan diletakin di lantai bawah, sedangkan dispenser dan dapur umum ada di atas. Selain itu di atas juga ada jemuran, sekaligus tempat buat melihat pemandangan paling keren dari Jatinangor, Gunung Geulis. Yap, selain menikmati pemandangan atap rumah yang udah mepet, kosan di gang sempit ini masih punya pemandangan menakjubkan. Matahari saat terbit dan terbenam memang keren jika dilihat dari balkon kosan.
Sementara gue asik menyetrika, dan ayah asik tiduran di kamar, tiba-tiba dada gue bergetar. “Dag!” Seseorang sepertinya akan turun ke bawah, terdengar dari langkah kakinya. “Dig!” Langkah itu makin dekat. Ada apakah ini? Mengapa jantung gue seperti akan lepas hanya dengan mendengar langkah seseorang yang makin dekat. “Dug!” Seorang cewek yang memakai kemeja dan rok rempel berwarna merah hati lewat di hadapan gue. Matanya sayu, dan ia berjilbab, dan ada sepasang lesung pipi di wajahnya. Melihat gue, dia cuma memberikan senyum tipis. Dan gue merasa waktu berhenti berdetak, seluruh partikel debu seperti dibekukan udara, dan semua orang mematung. Gue jadi salah tingkah, nggak tahu harus berbuat apa.
Dia lewat dengan sangat anggun di depan gue. Meskipun kita nggak kenalan, nggak mengucapkan sepatah kata pun, dan pertemuan pertama ini hanya ditandai dengan sebuah senyum tipis, gue tahu dialah cewek paling anggun sekaligus misterius di sini. Gue melihat ke belakang, menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ah tiba-tiba gue ingat scene film Daredevil pas Matt ketemu seorang cewek di kafe. Walaupun dia nggak bisa melihat, namun cinta itu datang dengan sendirinya dalam waktu yang tepat. Dan baru saja, cinta baru itu datang dalam kehidupan gue.
***
Menurut penelitian terakhir, populasi manusia di seluruh dunia akan mencapai tujuh miliar orang di tahun 2011 ini, dan 70% di antaranya adalah heteroseksual. Sisanya? Kalian bisa melihat kaum gay, lesbian, biseksual, dan aseksual berkeliaran di muka bumi ini. Jika ditanya, mereka dengan kecenderungan seks berbeda tak pernah memilih menjadi seperti ini. Ini murni karena gen, mereka sudah terlahir seperti ini dan tak akan pernah berubah. Orang-orang dengan homoseksual, ketika pubertas sudah pasti akan tertarik sesuai dengan orientasi seksnya. Jika mereka mengingkarinya, itu bisa jadi karena mereka malu atau belum menyadarinya. Dan jika mereka bilang sembuh, itu bisa jadi dalih karena tidak ingin malu atau tak ingin terusir.
Homoseksual (gay dan lesbian) bukanlah gangguan jiwa. Pada tahun 1973, American Physiciatric Association (APA) sudah mengeluarkan homoseksualitas dari kategori gangguan kejiwaan. Indonesia pun turut mengadopsi PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) II dan III yang menyatakan hal serupa: gay atau lesbian bukanlah gangguan kejiwaan. Meskipun banyak yang bilang bahwa gay atau lesbian dapat disembuhkan, itu tidaklah benar. Mereka tidak dapat sembuh 100%, jika mereka sembuh, berarti mereka tidak sepenuhnya homoseksual.
Sayangnya, gue adalah salah satu orang yang memiliki orientasi seks berbeda tersebut. Gue mengetahui ini sepuluh tahun lalu, ketika masa SD, ketika pertama kalinya jatuh cinta…pada seorang perempuan. Kedengarannya memang menjijikkan! Gue benci diri sendiri sejak hari itu. Namun apa yang harus gue lakukan? Gue cuma bisa memendam perasaan yang gue punya. Berkali-kali gue jatuh cinta, patah hati, lalu gue lupain sendiri. Apa sih rasanya jatuh cinta sama seseorang tapi orang itu nggak pernah bisa tahu? Sakit maan!
Lupakan untuk ngomong langsung ke mereka bahwa gue sayang sama mereka. Lupakan pacaran, temenan secara dekat, ataupun teleponan tiap malam. Mungkin mereka melihat gue sebagai orang misterius atau orang aneh. Lupakan juga untuk bergabung dengan komunitas yang sama seperti gue. Gue sendiri menganggap ini hina, dan tidak akan memperjuangkannya. Karena jika gue bergabung dengan mereka, mungkin gue nggak akan di sini sekarang.
Gue bukanlah orang yang punya keberanian untuk mengungkap jati diri yang sebenarnya. Mungkin orang-orang di Barat sana mengenal tiga fase dari kelainan seks mereka. Fase pertama, mereka menyadari kelainan ini. Fase kedua, mereka memberi tahu teman dekatnya. Hingga fase ketiga, mereka mengumumkan jati dirinya pada masyarakat luas. “Tapi ini Indonesia, Drey! Ini bukan Barat!!” Lagi-lagi setan galau memberi pukpuk pada gue.
Kalau dihitung-hitung, udah berapa kali sih gue pernah jatuh cinta? Terakhir sama Katia, sakit sih, sakit banget malah. Gue sukanya itu sekitar beberapa bulan mau UN dan itu menyita perhatian banget. Suka sama orang yang juga disukai sama adek sepupu lo sendiri. Astagaa! Gue baru saja mencoba melupakan dia ketika pindah ke Bandung ini. Barangkali jarak yang jauh bisa membuat gue banyak memperbaiki hati dan melakukan hal yang realistis. Ternyata nggak, cewek yang belum gue tahu namanya ini belum mengizinkan gue untuk straight!
***
Nah, efek dari ketemu cewek bermata sayu barusan adalah cengar-cengir sendirian di kosan Tata.
“Lo kenapa, Drey? Habis ketemu kuntilanak?”
“Iya…EH BUKAAN!” Gue mesem-mesem sendiri.
“Haha si Audrey lagi jatuh cinta kaliii…” Sarah ikut nimbrung, sekarang mereka berdua mem-bully gue.
Kami sedang mengerjakan tugas ospek Fikom yang tinggal dua hari lagi. Sedang besok itu adalah ospek universitas. Jadi kami harus buru-buru mengerjakannya. Tugasnya dibagi tiga, bagian gunting-menggunting adalah kerjaan gue. Tata bagian membuat pola, dan Sarah bagian temple menempel. Tapi karena sebagian fokus gue masih ke si mata sayu tadi, maka pekerjaan gue pun kacau. Kelebihan gunting lah, robek lah, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang membuat Tata ngomel.
“Ya ampun Drey, lo kenapa sih salah gunting mulu! Kapan kelarnya kalo begini!!!” Jika ini sinetron, maka kamera akan di-zoom in dan zoom out ke muka Tata sehingga detail jerawat dan komedo kelihatan semua.
“Hehe maaf Ta, iya ini gue perbaiki deh.”
Setelah beberapa jam berkutat dengan karton, lem, gunting, dan pensil di kosan Tata (yang sempit-red), gue diutus oleh mereka untuk melaminating semua id card ke tempat fotokopian. Dan setelah semuanya beres, gue teriak! “Aaaaaaa!!” Gimana nggak, nama di id card gue sekarang adalah, Faranita “Audrey Ginanjar” Nabila Shidiq!
Faranita itu adalah nama depannya Tata, sedangkan Nabila Shidiq itu nama belakangnya Sarah. Jadi mereka itu menuliskan nama dengan pensil biar tulisannya agak ketengah (kami tidak memakai komputer sehingga tidak bisa menggunakan justify-red). Memang sih nama gue ditulis pakai pulpen, tapi di samping kiri dan kanannya ada nama mereka. Dan itu membuat orang-orang bingung dengan nama gue pas ospek.
Pas di kosan Tata,
“Ini nih Ta kerjaan lo!” Gue menunjuk Id card dengan tampang lempeng.
Tata kemudian menyambar Id card gue dan ngakak. Sarah yang penasaran ikutan melihat Id Card itu dan ngakak juga.
“Hahaha, gara-gara lo sih nggak fokus!” Tata ngomong sambil menahan tawa. Sedang Sarah sibuk mengelap air matanya. Arrggh, ini bukan drama sedih kan!
“Ya gue mana tahu, udah ah pusing!” Gue ngambek, mengabaikan tawa mereka dan menimpuk Tata dengan bantal, setelah itu terjadilah perang bantal antara kami bertiga.
Ini semua gara-gara si mata sayu, batin gue dalam hati!
***
Wednesday, August 1
DIBERITAHUKAN KEPADA MAHASISWA BARU FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI,
BESOK 2 AGUSTUS BERKUMPUL SEKITAR PANGKALAN DAMRI (PANGDAM)
DAN GERBANG BANK BNI PADA PUKUL 05.00 WIB!

DENGAN MEMBAWA PERLENGKAPAN SERTA MENGGUNAKAN ATRIBUT YANG
TELAH DITENTUKAN!!!

DENGAN KONDISI DALAM KEADAAN SUDAH SAHUR DAN SALAT SHUBUH
(BAGI MUSLIM)!!!
….
Gue lagi ngopi-ngopi ganteng sama ayah malam ini sehabis ospek universitas. Panas-panasan seharian mendengarkan rektor dan dosen pidato. Saat lagi enak-enaknya menyeruput kopi hitam itu, ada one incoming message dari Tata di layar hp gue. Ah Tata, capslock-nya jebol kali. Atau dia itu cuma mau ngasih warning supaya besok gue bangunnya nggak telat. Dengan cepat gue tekan tombol reply dan mengetikkan pesan balasan untuk Tata,
“Iyeee Ta, iyeee! Besok bareng aja kali ya?” Belum tiga detik, hp gue sudah kejang-kejang lagi, ada pesan masuk.
“Besok gue jemput ke kosan lo. JANGAN TELAAT!” Gue membalas pesannya sekali lagi dan kemudian menjawab salam sambil mengangkat kepala. Gue tertegun, orang yang masuk barusan bukanlah orang biasa. Dia adalah….si mata sayu! Malam itu ia baru pulang dengan ibunya, sepertinya habis makan malam. Ia memberikan senyum yang sama ke gue seperti pertama bertemu. Gue rasa gue meninggal waktu itu dan pergi ke surge. Ah dia lewat begitu saja dan lagi-lagi gue kehilangan kesempatan buat kenalan sama dia. Sial!
Aku yakin, hujan terjadi hari itu
Saat engkau keluar dari rahim
Mencium bumi
Sebab aku yakin, tuhan pun menangis
malaikat pun menangis
kehilangan bidadari
seindah engkau
Itu potongan puisinya Pringadi Abdi Surya yang keren banget. Andai situasinya beda ya, andai gue bisa menyukai dia tanpa takut itu dosa. Andai, andai, andai. Pikiran gue melayang kemana-mana dan gue dikagetkan oleh dua orang lagi penghuni baru.
“Heei kamu penghuni baru juga di sini?”
“Eh?” Gue melihat ke samping kiri dan samping kanan, memastikan apa benar dia ngomong sama gue.
“Iya kamuu,” seorang cewek lagi menunjuk-nunjuk gue.
“Iya, gue penghuni baru.” Tutur gue seperti akan dirampok.
“Kenalin aku Nisa.” Dia langsung menyodorkan tangan ke gue, tangaaan bukan pisau!
“Audrey!”
“Kalo aku Deefa,” salah seorang lagi tersenyum tak kalah manisnya ke gue. Cantik juga, batin gue dalam hati. Maka hari itu gue harus berterima kasih pada tangan karena telah merasakan lembutnya tangan Deefa.
“Audrey…”
“Kamu dari mana?” Deefa membuka topik pembicaraan, dia terlihat antusias.
“Oh aku dari Padang, kamu?”
“Kita dari Bandung, ujar Nisa,” sedang Deefa hanya tersenyum, memamerkan behelnya yang bersinar.
“Ooh, kalian pada jurusan apa?”
“Aku Sistem Informasi, kalo Nisa Fisika.” Kali ini Deefa merapikan anak rambut di dahinya.
“Kalo gue Fikom.” Nisa dan Deefa sama-sama tersenyum yang menyiratkan bahwa, “Kita nggak nanyaa koook!”
Gue mulai akrab sama anak berdua itu, sambil menghabiskan secangkir kopi, pembicaraan kami melebar kemana-mana.
“Kamu minumnya kopi item? Ih sama banget nih sama si Deefa.”
“Oh, lo suka kopi item juga?” Gue penasaran, ada juga ternyata cewek yang suka kopi hitam.
“Nggak terlalu sih, kalau lagi nggak ada creamer, terpaksa kopi hitam aja.”
Gue tersenyum, cantik sih dan bikin nyaman. Tapi gue masih penasaran ke si mata sayu itu.
“Deef, tidur yok! Besok harus bangun pagi kan?”
“Audrey kita tidur dulu ya, eh Audrey kan nama kamu tadi?”
“Iya iya, silakan tidur dan nama gue emang Audrey…” Mereka berdua melangkah ke atas, sementara Deefa masih melihat ke gue, memberikan senyum terakhir malam itu. Cantik sih, tapi….
***
“Hoaaam,”
Gue menguap besar banget dan langsung ditabok oleh Tata. Yap, jam segini kita udah ngumpul di Pangkalan Damri bersama mahasiswa baru lainnya untuk mengikuti rangkaian ospek. Barangkali banyak yang masih ngantuk, termasuk Tata. Dia sempat nabrak pembatas jalan tadi. Ospek Fikom emang keras sih, jam segini sudah diteriak-teriakin, ditarik-tarik. Belum lagi barang bawaan yang berat sama perlengkapan yang ribet. Halah, nggak eksklusif bangat ya mahasiswa baru!
“Yang sakit memisahkan dirii!”
“Fokus putriii FOKUS!”
“Maba putra lindungi maba putrinya!!!”
Setidaknya akang teteh ini sudah dilatih ribuan kali untuk mengucapkan kalimat di atas, sehingga yang terucap bukan, “Maba putra cium maba putrinya!” Gue garing ya? Oke, toyoor! Tanggal 2 Agustus jam 5 pagi, oke selamat ulang tahun Drey! Gue memberi pukpuk pada diri sendiri. Semalam gue nggak bisa tidur, enggan membayangkan apa yang akan mereka rencanakan untuk Maba yang ulang tahun. Maka hari ini gue nggak akan bilang ke siapa pun bahwa ini hari lahir gue.
Hari pertama ini kebanyakan penyambutan. Kenalan sama dosen-dosen dari berbagai jurusan dan departemen. Hari ini juga ada pembagian kelompok dan kenalan sama akang teteh pembina kelompok. Gue kebagian kelompok 11, sayangnya gue kepisah sama Tata. Dia kelompok 10. Kami yang tadinya ngumpul di Pangkalan Damri disuruh jalan sampai ke Fikom. Dan itu sama saja kayak ngelilingin Unpad satu putaran! Di beberapa pos kami disuruh berhenti.
“Putri, itu anting kamu copot!” Seorang Maba cewek di depan gue ditegur senior.
Dia kemudian memegang antingnya, dan walaupun gue nggak lihat mukanya dari belakang, tapi gue tahu dia sedang memelas.
“Nggak bisa dicopot teh.”
“Oh ya udah!” sebelum ketahuan mati gaya, si teteh pun pergi.
Kini gue yang melongo.
Rangkaian Transformasi ini terdiri dari tiga sub panitia, acara, evaluasi, dan eksekutor (yang biasa marah-marah nggak jelas sob). Rasa-rasanya aneh, sudah melakukan hal yang benar dimarahin, melakukan hal yang salah juga dimarahin, ya sudah berbuat kerusakan saja! Nah setelah sampai Fikom dan diteriak-teriakin, tiba-tiba kami disambut meriah oleh akang teteh yang sudah stay di lapangan futsal Fikom.
“Selamaaat dataaang selamaaat pagiii”
“Tetap semangaat yaaa tetap senyuuuum!”
Kami, maba kelompok 11 cuma bisa cengok mendapat perlakuan seperti ini. Nah sambil menunggu kelompok lain, hingga kelompok 27, kami disuruh duduk dan menundukkan kepala. Tidak ada suara dan tidak boleh tidur.
“Mas, mbaak tundukan kepalanya yaa, tidak tiduuur.”
“Mas, mbaaak tidak lirik-lirik yaaa.”
Semua itu diucapkan dengan intonasi yang lembut dan pada hari-hari berikutnya kalimat itu menjadi soundtrack yang sering kami nyanyikan. Ospek Fikom sebenarnya menyenangkan, tapi susah dijalani. Apa lagi tugasnya yang seabrek-abrek. Tapi sebenarnya gue nggak begitu peduli. Yang paling gue ingat dari Transformasi ini cuma dua, pertama Danlap (komandan lapangaan) acara yang cantik dan jargon Fikom. “Fikom satuu! FIKOM FIKOM FIKOOM!”
Oh ya, kita punya jam istirahat, sekitar jam dua belas siang. Buat salat dan makan siang. Nah sembari makan, gue sempat nanya ke salah satu Maba yang antingnya nggak bisa copot tadi.
“Eh lo Winda kan ya?”
“Iyaa tahu dari mana?”
“Itu id card lo…”
“Oh iya hehehe,” gue cuma menyeringai.
“Tadi anting lo beneran nggak bisa dicopot?”
“Ya nggak lah!” Dia meninggalkan gue dengan ekspresi jutek. Cepet banget sih berubahnya antara cengengesan dan jutek.
Fikom emang tega deh, sudah disuruh ngumpul jam lima pagi dan baru dipulangin sekarang, jam enak sore. Dan magrib-magrib gini kita sudah disuruh ngumpul lagi buat ngerjain tugas kelompok. Buat yang ngekos sih enak, tapi buat yang dari Bandung? It’s not taste like human anymore. Gue mengecek hp, melihat mention dan sms. Banyak juga ucapan selamat ulang tahun.
“@andintia: Selamat @dreginanjar, Anda ulang tahun!”
“@fabrioreza: Wah @dreginanjar ulang tahun? Alamat ditraktir nih :D”
“@shintyaaa: @dreginanjar dre, gue sedih lo semakin dekat ke kematian, tapi apapun itu selamat!”
Biasanya kalau ulang tahun begini gue nggak ngetweet seharian, nggak facebookan, dan nggak membalas sms. Lagi pula seharian tadi gue nggak boleh bawa hp ke kampus. Ngomong-ngomong soal hp dan ucapan selamat, gue bingung sendiri melihat anak-anak kelompok ini yang deket banget. Kayak udah kenal setahun saja! Tara, Kaka, Winda, Arien, Deddy, semuanya bisa nyatu walaupun mereka baru ketemu. Dan semua obrolan mereka nyambung. Hmmm, maybe it’s time to take a breath and make a new life!
“Heeei,” gue ngedeketin Tara, cewek yang dari tadi cuma senyum-senyum sendiri melihat anggota kelompok yang lain kerja.
“Halooo, nama kamu siapa?”
“Audrey!” Gue menyodorkan tangan sembari tersenyum.
“Tara.” Dia tersenyum sumringah, lalu melanjutkan, “Enak ya ngeliatnya udah kayak kenal setahun…”
“Iya Tar, enak juga sambil ngeliatin ada yang lagi jatuh cinta.” Gue sumringah tanpa menatap wajah Tara, yang pastinya saat ini salah tingkah.
“Mmm…maksud lo?”
“Kalo lo mau Kaka tahu, sebaiknya dideketin.”
Sekarang wajah kami berpandangan, gue melihat dia yang kini tertawa, pipinya bersemu merah.
“How could you know, baby?”
“I’m Audrey, and I’m a face reader…” Gue menyodorkan tangan kembali, lengkap dengan senyum tiga jari kayak sales MLM.
“Lucky you are!” Dia tertawa sambil menepis tangan gue.
Maka semenjak hari itu, gue resmi jadi agen rahasianya Tara atas Kaka.
***
Sepanjang jalan pulang yang gue pikirin cuma Deefa. Entah mengapa gue jadi suka senyumnya, semangatnya, dan sikap antusiasnya. Gue melewati gang sempit yang gelap itu dengan siul-siul sendiri. Ah, kenapa jadi mikirin Deefa ya? Bukannya gue udah jatuh ke mata sayu perempuan itu? Tapi bahkan sampai sekarang namanya saja gue belum tahu.
….
Bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau
Berikan kesejukan yang lama tak kunjung datang
Menghapus dahaga jiwaku akan cinta sejati

Betapa sempurna dirimu di mata hatiku
Tak pernah kurasakan damai sedamai bersamamu
Tak ada yang bisa yang mungkin kan mengganti tempatmu
….
Malam-malam gini masih ada saja yang jatuh cinta. Sayup-sayup lagu Hebat dari Tangga gue dengar mengalun dari sebuah rumah di gang ini. Hmmm emang enak sih dengar suara merdunya Kamga mengalun, emang cocok buat penggemar pop mellow sejati.
Jam sepuluh malam, pintu berderit saat gue buka pelan-pelan. Gue baru saja sampai di kosan dan mendapati dua orang anak lagi asik mengerjakan tugas. Salah satunya Deefa.
“Dari mana, Drey?” Widi memandangi gue yang kelihatan lunglai, dia adalah teman satu kosan yang gue kenal sejak di Padang.
“Jangan masuk Fikom deh!” Gue ngomong dengan malas, Deefa hanya memandangi dengan heran. Sementara Widi kembali berkutat dengan karton dan tugas-tugasnya.
“Eh Wid, gue ulang tahun loh hari ini.” Muka gue sumringah, sementara Deefa memandangi gue dengan muka datar. Ada apa sih? Gue sendiri juga bingung, oh ya Nisa mana? Nggak biasanya Deefa nggak bareng Nisa.
“Oh iyaa? Terus gue harus bilang WOW?”
Sekarang gue yang pasang muka datar, “Yee beneran kaleee!” Ucap gue sembari menunjukkan beberapa pesan yang masuk.
“Eh gue suka loh iklan operator yang Hap Hap Hap Hap Tangkap Tangkap!” Gue sumringah sambil menatap Deefa.
Yang ditatap hanya mengangguk.
“……”
“Dre, selamat ulang tahun yaa!” Widi mengucapkan selamat ke gue malam itu, yang gue sambut dengan senang.
“Makasih ya Wid, hehe.“ Sementara Deefa tidak menoleh sedikit pun ke arah gue. Eh, is something goes wrong with her?
Beberapa menit kemudian Widi pamit tidur ke gue dan Deefa, tugasnya sudah selesai, dan dia balik ke kamar. Gue menatap televisi lurus-lurus sementara Deefa sibuk dengan tugasnya. Hingga tiba-tiba iklan Hap Hap yang gue maksud muncul di televisi.
“Tuh iklannya.” Dia melihat ke masih dengan muka datar.
“…..iya,” gue yang salah tingkah hanya diam.
Karena setelah iklan itu selesai dan dia masih diam, gue berusaha membuka pembicaraan,
“Lo ngerjain tugas apa? Eh iya nama lo siapa tadi?” Gue belagak lupa namanya, dan jawabannya membuat gue nyaris pingsan.
“Fana”
Muka gue pucat, “Jadi lo bukan Deefa? Jadi kita belum kenalan?” Gue menggaruk kepala yang tidak gatal dan berharap ditelan bumi saat itu juga.
“Deefa? Beluum, kita tuh belum kenalan.” Kini dia tersenyum, tertawa tanpa suara, dan dia kembali melempar senyum yang gue kenal. Tunggu dulu, senyum itu? Tiba-tiba gue terlempar ke memori beberapa hari yang lalu.
Astaga, dia itu si mata sayu. Ah kenapa jadi begini kenalannya. Nggak ada keren-kerennya sama sekali. Beberapa menit berlalu, gue dan dia kembali terdiam. Gue masih grogi, salah mengenali dia yang ternyata….sedikit mirip Deefa. Postur tubuhnya yang tinggi, betisnya yang jenjang, dan mukanya yang oval. Jika belum sering bertemu, orang-orang pasti menyangka mereka mirip.
“Eh, gue ulang tahun lo. Mau ngucapin nggak?” Gue tersentak dari lamunan barusan, sekarang sudah jam sebelas malam dan ulang tahun gue tinggal satu jam lagi.
“Oh jadi beneran ulang tahun?” Dia menatap setengah tidak percaya, kemudian tersenyum lagi.
“Iya bener, udah jam sebelas loh. Besok-besok aku nggak ulang tahun lagi.” Gue cengengesan sendiri.
Seketika dia menghela napas, melepas karton dan gunting dan karton dari genggaman dan menyodorkan tangan ke gue, “Aku Fana, selamat ulang tahun yaa…”
“Audrey,” gue menjawab cepat. Tak mau dia menunggu.
Dia menjawab tangan gue dengan tulus, “Selamat ulang tahun Audrey!”
“Oh iya, lo jurusan apa?”
“Biologi!” Jawabnya dengan tersenyum, lesung pipinya juga ikut tersenyum.
Gue ber-fiuuuh dalam hati.
“Eh, udah jam sebelas ternyata. Aku balik ke kamar dulu ya. Kamar aku di atas, kapan-kapan main yaa…” Dia membereskan seluruh barang-barangnya dengan anggun.
Gue mengangguk dengan takzim.
Hmmm Thanks God telah memberikan hadiah yang spesial hari ini, ucapan selamat darinya. Gue senyum tiga jari, sekaligus menertawakan betapa bodohnya gue barusan. Salah mengenalinya dan grogi banget. Tuhan memang selalu punya rencana tentang cinta, kita hanya perlu menunggu. Gue tersenyum dengan tulus sambil mengusap wajah yang lelah karena mengantuk. The day had just end with your smile~


Read More … Novel Bab 3

Novel Bab 2


Dua


Masih di Gerbang Tol Cileunyi.
Kalau ingat kejadian belajar mati-matian pas SNMPTN kemaren, hampir gila kalau nggak lulus, dihina-hina karena berani bermimpi, mungkin gue cuma bisa senyum-senyum sendiri sekarang. Dari keajaiban lulusnya gue di Unpad, bukan cuma gue yang belajar, tapi semuanya belajar banyak banget. Ayah dan Ibu yang belajar bahwa ternyata bakat anaknya bukan di bidang kesehatan. Abang yang belajar buat pisah sama adeknya yang super nyebelin ini. Juga teman-teman gue yang belajar untuk tidak takut lagi bermimpi.
Tapi semua mimpi itu tidak ada apa-apanya jika tak ada pemantiknya. Salah satu pemantiknya ya, Andin.

….
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I’m not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, “If you see this girl, can you tell her where I am?”

Some try to hand me money, they don’t understand
I’m not broke - I’m just a broken - hearted man
I know it makes no sense but what else can I do?
How can I move on when I’m still in love with you?
…
       The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script mengalun pelan dari ipod yang terpasang di telinga gue. Karena bosan dengan macet, gue menyetel ipod dan mengalunlah lagu tersebut. Tunggu dulu? Kenapa galau sih? Ini kan hari penting buat gue. Hmmm, gue menekan tombol off untuk mematikan ipod, selain karena sekarang udah sampai di Fikom Unpad.
Unpad hari itu terlihat ramai. Berbagai fakultas dipenuhi oleh kendaraan dengan berbagai plat nomor. Ada yang berplat B (itu gue), D juga banyak, ada F juga, tapi nggak ada BA. Ye lah siapa pula yang mau rempong bawa mobil dari Padang.
Kami masuk dari gerbang BNI yang artinya masuk dari gerbang atas. Bangunan pertama yang nongol adalah Asrama Padjadjaran, selanjutnya adalah Rektorat, Bale santika, dan…tunggu dulu. Fikom dimana ya? Seisi mobil udah lihat kiri kanan, tapi nggak ada Fikom apa lagi pohon cemara. Maka, kita memutuskan bertanya kepada cleaning service yang ada di sekitar sana.
“A mau nanya, pitkom teh dimana yah?”
Gue yang sebel berusaha membenarkan,
“Fikom A, bukan pitkom,” ujar gue sambil menyeringai ke Om yang salah sebut. Udah capek-capek belajar buat lulus di sini, malah salah sebut.
Si Aa cleaning service menjawab dengan super ramah, “Oh tinggal lurus aja A, nanti ada gerbangnya.”
“Hatur nuhun, A.” Kami melemparkan senyum ke si Aa cleaning service dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian kami sampai di Fikom. Itulah pertama kalinya gue melihat Fikom, bahkan ketika memutuskan untuk mengambilnya pada pilihan pertama SNMPTN, gue nggak tahu bentuknya kayak apa. Om memarkir mobil di dekat gerbang, sedang gue serta ayah dan ibu segera turun untuk mengikuti jalannya acara.

It’s a place I’ve never been
And it comes from deep within
And it’s telling me that I’m about to win first prize

Sedikit potongan dari Spanish Eyes-nya Backstreet Boys gue alunkan dengan penuh penghayatan dengan suara agak lemah biar tak terdengar oleh orang lain. Lagu ini yang kebanyakan memberi semangat buat gue biar bisa sampai ke tempat ini. Sambil bosan mendengar dosen yang memberi sambutan ini itu, gue (yang udah telat setengah jam) sempat-sempatin nyanyi buat ngobatin rasa bosan. Gue duduk di baris tengah, sama ayah dan Ibu. Fikom benar-benar ramai, untung masih dapat tempat duduk.
Open House ini kebanyakan berisi tentang pengenalan mengenai Fikom, jurusan-jurusannya, ospek, dan tanggal-tanggal penting untuk dihadiri siswa. Gue sih santai saja, semua yang disampaikan juga sudah ada di web. Setelah pidato kira-kira satu jam, para dosen memberikan kesempatan pada orang tua untuk bertanya. Ah sepertinya ini dalih untuk menenangkan suasana yang mulai tak kondusif. Undangan semakin ramai, kursi yang disediakan tidak lagi cukup untuk menampung masa (?) Maklum, Mahasiswa Baru (Maba) Fikom ada 900-an, sudah termasuk S1 ilkom, S1 Ilmu Perpustakaan, dan seluruh D3. Jadi nggak heran kalau lautan manusia tumpah ruah di Fikom hari ini.
Pertanyaannya banyak banget. Mulai dari pertanyaan serius kayak, “Tanggal berapa ospek dimulai?” sampai pertanyaan nggak penting kayak, “Berapa orang alumni Fikom yang jadi artis?” Gue cuma bisa siul-siul aja mendengar pertanyaan yang dibumbui banyak curcol dari para orang tua tersebut. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat gue tertarik,
“Selamat siang, Pak, saya orang tua dari Cut Mutia. Anak saya ini, yang sudah jelas dari namanya, berasal jauh sekali dari Aceh sana. Nah pertanyaan saya, apakah Unpad menyediakan sarana seperti asrama untuk anak-anak kami yang jauh ini?”
“Kampus kita ini memang menyediakan asrama, namun asrama ini hanya diperuntukkan bagi yang tidak mampu. Dan asramanya sendiri sudah penuh oleh para pendaftar.”
Gue menghela napas, kecewa. Salah satunya, ayah berharap gue bisa tinggal di asrama sehingga akses ke kampus mudah. Selain itu, di asrama pasti aman dan terjaga. Tapi ternyata penuh, mungkin alam ingin membawa gue ke suasana lain bernama kos-kosan.
***
And here they are, setelah teleponan sama teman, nanyain kosannya dimana, gue memutuskan untuk ke sana. Mau ngekos bareng teman satu SMA ceritanya, atau paling banter sama senior yang dulunya juga satu SMA.
“Oh jadi Gang Mawar itu dimana, Ta?” Tata menjawab telepon gue sambil ngedumel. Ini udah ketiga kalinya gue telepon dia sejak selesai Open House tadi. Cuma buat memastikan tempat.
“Gang Mawar itu di belakang Koramil, Drey…” Ia menjawab dengan sabar, meskipun gue tahu dia lagi kesel.
“Oh oke, Pondok Wira ya?”
“Iya…” kata-kata terakhirnya menggantung, entah apa maksudnya.
Gue menutup telepon setelah bilang terima kasih dan sedikit nyengir. Entah apa pula maksudnya!
Setelah menelusuri jalanan Jatinangor yang kebetulan siang itu panas banget, setelah tabrak sana sini sesama Maba yang kebetulan menghalangi jalan, setelah nanya dengan bahasa Sunda yang pas-pasan ke warga sekitar, gue dianterin sama Calo ke tempat kos Tata tadi.
“Tata…tataaa! Maiiin yuuuk,” tentu saja gue nggak bilang itu!
“Eh Audrey, sayang banget kosannya udah penuh. Lo datengnya kelamaan sih…”
Gue cuma melongo mendengar kalimatnya barusan. Sementara gue sibuk mengheningkan cipta begitu, beberapa teman satu alumni SMA datang menyalami ayah dan ibu. Tata juga ikut menyalami keduanya, sementara gue dibiarin bengong sendirian. Tak sadar beberapa lalat terbang di atas kepala gue.
“Ngekos di sebelah aja, Drey. Kayaknya masih kosong.” Teman-teman yang lain berusaha memberi solusi. Oke, gue langsung balik kanan aja dan melihat-lihat kosan sebelah. Sementara kini Tata yang bengong, entah apa maksudnya.
Rumahnya tidak begitu bagus untuk disebut rumah kos, tapi juga tak begitu jelek untuk ditinggali. Suasana padat gang-gang sempit, atap yang hampir bertabrakan, membuat cahaya matahari enggan masuk ke ruang tamu di lantai bawah. Sebuah sofa kumal terletak di depan kamar nomor dua, dan di depannya ada sebuah televisi untuk bersama.
Gue lagi melihat-lihat kamar nomor satu. Kok ya rasanya nggak pas, padahal ini fasilitasnya paling lengkap. Lalu, tanpa mengindahkan gue, si Om sudah menarik lengan gue ke kamar nomor dua.
“Ini nih, lebih luas. Udah ya di sini aja…”
“….hmmm”
“Ini harganya berapa, Bu?”
Belum sempat gue mengucapkan kata apa pun, si Om sudah nanya ke ibu penjaga kosan. Dan setelah harganya sesuai, barulah mereka menanyai pendapat gue.
“Gimana, Drey? Enak ga?”
Gue yang pengalamannya masih nol mengenai kos-kosan di Jatinangor dan sekitarnya pun cuma cengengesan tanda setuju. “Hehe iya, aku setuju aja…”
“Oh yaudah kalo gitu.” Wajah-wajah lega terlihat dari mereka semua. Selanjutnya yang terjadi adalah drama melankolis dari keluarga untuk menitipkan gue ke si ibu penjaga. Gue cuma bisa cengengesan. Nggak tahu harus bertingkah seperti apa lagi. Sementara itu pandangan gue jatuh ke seorang cewek yang duduk di sofa depan kamar dua, calon kamar gue.
Keluarganya yang menyadari gue memandangi anaknya kemudian berkata, “Kamu mau menculik anak saya ya?” Tentunya nggak!
“Mau ngekos di sini juga ya? Sok atuh kenalan.“ Wajah-wajah ramah orang Sunda jelas terpancar pada raut muka mereka. Gue langsung menyodorkan tangan dan lagi-lagi cengengesan Kayaknya hari itu harus dijadikan ‘Day of Cengengesan’ dan masuk RPUL sebagai hari penting di dunia.
“Audrey.”
Tangannya menjabat gue dengan kaku, diselingi muka datar dia bilang, “Naya.”
Senyum cengengesan dan muka sumringah gue hilang seketika.
“Oh ya, dari mana asalnya?” Gue nanya, tapi yang jawab keluarganya.
“Dari Cirebon,” dengan muka yang tak kalah ramah, seorang lelaki yang gue sinyalir adalah sepupunya menjawab.
“Kalau saya dari Padang,” gue menjelaskan dan dia hanya tersenyum, seperti ingin bilang, “Gue nggak nanya koook!”
Setelah semua urusan di kosan baru itu selesai, Om mengajak gue, ayah, dan ibu untuk makan siang di Bandung. Setelah itu mungkin kami akan menuju Depok, ke tempat sepupu gue. Setelah sesi Open House dan daftar ulang selesai, gue akan tinggal sementara di Depok sambil menunggu masa ospek. Setelah pamit ke ibu kos dan ke keluarganya Naya dengan sikap cool, kami sekeluarga pun pergi.
***
“Ada yang pernah dengar teori motivasinya McClelland di buku The Achieving Society? Nah, gue adalah penganut teori satu ini. Gue lebih mengutamakan Needs of Affiliation (N-AFF) sih, meskipun banyak yang bilang kalau gue itu N-GAL banget, alias Needs of Galauliness. Nggak! Nggak ada yang namanya N-GAL! Oke gue jelasin, menurut McClelland, manusia itu memiliki tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Salah dua dari tiga kebutuhan itu adalah Needs of Affiliation (N-AFF), Needs of Achievement (N-ACH), dan Needs of Power (N-POW). Gini sederhananya, orang yang mengusung N-ACH dalam hidupnya akan memiliki motivasi untuk berprestasi. Karena itu mereka akan berusaha mencapai prestasi tertingginya. Yang kedua, Needs of Affiliation, orang-orang ini memiliki hasrat untuk berhubungan secara akrab dengan orang lain. Mereka biasanya kooperatif dan sikap persahabatannya tinggi. Yang ketiga, Needs of Power. Maksudnya adalah motivasi terhadap kekuasaan. Biasanya orang N-POW sangat membutuhkan penghargaan dan aktualisasi diri.”
Gue lagi membenarkan kunciran rambut pagi ini. Beberapa hari lagi masa ospek dimulai. Mau nggak mau gue harus balik ke Nangor, sekalian beresin kosan, dan ngerjain tugas ospek yang…engga masuk akal. Gue sengaja menyetel mp3 agak keras untuk menemukan playlist yang cocok buat ngasih semangat. Awalnya yang mengalun adalah suara khas Adam Levine dari lagu She Will Be Loved. Tapi karena lagi nggak pengen galau, gue menekan tombol next sehingga terdengarlah ceramahnya Abang tentang teori Motivasi McClelland. Gue langsung mual! *brb ambil kantong muntah.
Abang emang suka aneh-aneh, baca buku terus merekam hal-hal yang penting dari buku tersebut. Salah satunya teori McClelland ini. Sialnya adalah gue pernah ngirim lagu dari hp dia, yang sebagian besar isinya adalah rekaman suara dia sendiri. Jadilah kebanyakan gue mendengarkan pidato-pidato motivasi darinya.
Gue melihat lagi barang-barang yang akan dibawa. Dua koper, empat kardus, sepatu, sandal, dan barang-barang lainnya. Sementara itu, kalau dengerin pidatonya abang tentang N-ACH, N-AFF, atau N-POW, gue jadi ingat bahwa dia itu mendeskripsikan gue sebagai N-AFF sejati, tapi tetap N-ACH. Menurutnya, gue itu orang yang nggak bisa sehari aja nggak ketemu teman. Tapi tetap mati-matian mengejar prestasi. Sedangkan dia sendiri? N-GAL, Needs of Galauliness, orang yang sehari aja nggak bisa nggak galau.
Hmmm setelah membereskan semuanya, gue pun siap berangkat ke Jatinangor dengan diantar oleh om dan ayah. Dari Depok kami berangkat menuju puncak. Lumayan sih, melihat yang hijau-hijau sebelum menghadapi kertas yang hijau-hijau juga. Maksudnya ya tugas ospek Fikom yang didominasi oleh warna hijau dan kuning. Perlambangan dari bendera Fikom sendiri. Maka di dalam otak gue saat ini terpampang peralatan yang harus dibuat beserta bahan-bahannya. Ini nih yang harus gue siapin sebelum ospek,

perlengkapan transformasi tanggal 2 agustus


Menggunakan kertas Sakura HIJAU no. 8 dan KUNING no. 14

Kursi Kunci
Dasar Hijau :
Diameter lubangkunci= 50 cm
Tinggi kursi kunci = 65 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 40 cm

Kuning :
Diameter kunci = 20 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 10 cm
Tinggi kunci = 50 cm
Tinggi gagang kunci = 20 cm
Lebar gagang kunci = 6 cm
Panjang sisi gerigi = 2,5 cm
Lebar sisi gerigi = 2,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 11 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 5 cm
Tinggi lubang kunci= 7 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci = 5 cm
Jarak per lubang kunci = 12 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 4 cm

Jarak per garis pada kunci = 0,5 cm.

WAJIB DISAMPUL PLASTIK.
Diberi :Nama, NPM, jurusan.



Nametag Tas (dibuat 2 buah)
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 20 cm
Tinggi kursi kunci = 25 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 15 cm

Kuning :
Diameter kunci luar = 12 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 8 cm
Tinggi kunci = 20 cm
Tinggi gagang kunci = 8 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,5 cm
Lebar sisi gerigi = 0,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 5 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci = 1,5 cm
Tinggi lubang kunci= 2 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5 cm
Jarak per lubang kunci = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 1,5 cm

Jarak pergaris pada kunci = 0,2 cm.

WAJIB DILAMINATING.
Diberi : Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 3x4.



Nametag Badan
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 15 cm
Tinggi kursi kunci = 20 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 10 cm

Kuning :
Diameter kunci luar = 10 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 5 cm
Tinggi kunci = 16 cm
Tinggi gagang kunci = 6 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,3 cm
Lebar sisi gerigi = 0,3 cm
Panjang kunci bagian bawah = 3 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1 cm
Jarak per lubang kunci= 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 0,5 cm

Jarak per garis pada kunci = 0,2 cm.
WAJIB DILAMINATING.
Diberi Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 2x3.


Buku Fikom
Dasar Hijau :
Lima lembar kertas A4 dilipat dua.

Kunci :
Diameter kunci luar = 8 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 6 cm
Tinggi kunci = 12 cm
Tinggi gagang kunci = 4 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,2 cm
Lebar sisi gerigi = 0,2 cm
Panjang kunci bagian bawah = 2,5 cm

Lubang Kunci Kecil :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5 cm
Jarak per lubang = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 1 cm
Jarak garis pada kunci = 0,2 cm.
Diberi :Pas foto 4x6.


Tas Serut
Bahan: kain sarung bantal putih (if you know what I mean!)
Panjang: 30 cm
Tinggi: 50 cm
Diberi tali sumbu kompor (?), panjang disesuaikan.




Oh iya, kita menyebut Ospek dengan nama Transformasi. Katanya sih itu akronim dari Tahapan Regenerasi dan Orientasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi sebenarnya ini orientasi apa ngerjain sih? Dan daripada bingung mikirin tugas yang…nggak masuk akal tersebut, sebaiknya kita menikmati udara puncak, dengan pemandangan…hijau.
Read More … Novel Bab 2
Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy