Dua
Masih
di Gerbang Tol Cileunyi.
Kalau ingat
kejadian belajar mati-matian pas SNMPTN kemaren, hampir gila kalau nggak lulus, dihina-hina karena berani
bermimpi, mungkin gue cuma bisa senyum-senyum sendiri sekarang. Dari keajaiban
lulusnya gue di Unpad, bukan cuma gue yang belajar, tapi semuanya belajar
banyak banget. Ayah dan Ibu yang belajar bahwa ternyata bakat anaknya bukan di
bidang kesehatan. Abang yang belajar buat pisah sama adeknya yang super
nyebelin ini. Juga teman-teman gue yang belajar untuk tidak takut lagi
bermimpi.
Tapi semua mimpi
itu tidak ada apa-apanya jika tak ada pemantiknya. Salah satu pemantiknya ya,
Andin.
….
Going
back to the corner where I first saw you
Gonna
camp in my sleeping bag, I’m not gonna move
Got
some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying,
“If you see this girl, can you tell her where I am?”
Some
try to hand me money, they don’t understand
I’m
not broke - I’m just a broken - hearted man
I
know it makes no sense but what else can I do?
How
can I move on when I’m still in love with you?
…
The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script mengalun pelan dari ipod yang
terpasang di telinga gue. Karena bosan dengan macet, gue menyetel ipod dan
mengalunlah lagu tersebut. Tunggu dulu? Kenapa galau sih? Ini kan hari penting
buat gue. Hmmm, gue menekan tombol off
untuk mematikan ipod, selain karena sekarang udah sampai di Fikom Unpad.
Unpad hari itu
terlihat ramai. Berbagai fakultas dipenuhi oleh kendaraan dengan berbagai plat
nomor. Ada yang berplat B (itu gue), D juga banyak, ada F juga, tapi nggak ada BA. Ye lah siapa pula yang mau rempong
bawa mobil dari Padang.
Kami masuk dari
gerbang BNI yang artinya masuk dari gerbang atas. Bangunan pertama yang nongol
adalah Asrama Padjadjaran, selanjutnya adalah Rektorat, Bale santika,
dan…tunggu dulu. Fikom dimana ya? Seisi mobil udah lihat kiri kanan, tapi nggak ada Fikom apa lagi pohon cemara.
Maka, kita memutuskan bertanya kepada cleaning
service yang ada di sekitar sana.
“A mau nanya,
pitkom teh dimana yah?”
Gue yang sebel
berusaha membenarkan,
“Fikom A, bukan
pitkom,” ujar gue sambil menyeringai ke Om yang salah sebut. Udah capek-capek
belajar buat lulus di sini, malah salah sebut.
Si Aa cleaning service menjawab dengan super
ramah, “Oh tinggal lurus aja A, nanti ada gerbangnya.”
“Hatur nuhun,
A.” Kami melemparkan senyum ke si Aa cleaning
service dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit
kemudian kami sampai di Fikom. Itulah pertama kalinya gue melihat Fikom, bahkan
ketika memutuskan untuk mengambilnya pada pilihan pertama SNMPTN, gue nggak tahu bentuknya kayak apa. Om
memarkir mobil di dekat gerbang, sedang gue serta ayah dan ibu segera turun
untuk mengikuti jalannya acara.
It’s
a place I’ve never been
And
it comes from deep within
And
it’s telling me that I’m about to win first prize
Sedikit potongan
dari Spanish Eyes-nya Backstreet Boys
gue alunkan dengan penuh penghayatan dengan suara agak lemah biar tak terdengar
oleh orang lain. Lagu ini yang kebanyakan memberi semangat buat gue biar bisa
sampai ke tempat ini. Sambil bosan mendengar dosen yang memberi sambutan ini
itu, gue (yang udah telat setengah jam) sempat-sempatin nyanyi buat ngobatin
rasa bosan. Gue duduk di baris tengah, sama ayah dan Ibu. Fikom benar-benar
ramai, untung masih dapat tempat duduk.
Open House
ini kebanyakan berisi tentang pengenalan mengenai Fikom, jurusan-jurusannya,
ospek, dan tanggal-tanggal penting untuk dihadiri siswa. Gue sih santai saja,
semua yang disampaikan juga sudah ada di web. Setelah pidato kira-kira satu
jam, para dosen memberikan kesempatan pada orang tua untuk bertanya. Ah
sepertinya ini dalih untuk menenangkan suasana yang mulai tak kondusif.
Undangan semakin ramai, kursi yang disediakan tidak lagi cukup untuk menampung
masa (?) Maklum, Mahasiswa Baru (Maba) Fikom ada 900-an, sudah termasuk S1
ilkom, S1 Ilmu Perpustakaan, dan seluruh D3. Jadi nggak heran kalau lautan manusia tumpah ruah di Fikom hari ini.
Pertanyaannya
banyak banget. Mulai dari pertanyaan serius kayak, “Tanggal berapa ospek
dimulai?” sampai pertanyaan nggak
penting kayak, “Berapa orang alumni Fikom yang jadi artis?” Gue cuma bisa
siul-siul aja mendengar pertanyaan yang dibumbui banyak curcol dari para orang
tua tersebut. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat gue tertarik,
“Selamat siang,
Pak, saya orang tua dari Cut Mutia. Anak saya ini, yang sudah jelas dari
namanya, berasal jauh sekali dari Aceh sana. Nah pertanyaan saya, apakah Unpad
menyediakan sarana seperti asrama untuk anak-anak kami yang jauh ini?”
“Kampus kita ini
memang menyediakan asrama, namun asrama ini hanya diperuntukkan bagi yang tidak
mampu. Dan asramanya sendiri sudah penuh oleh para pendaftar.”
Gue menghela
napas, kecewa. Salah satunya, ayah berharap gue bisa tinggal di asrama sehingga
akses ke kampus mudah. Selain itu, di asrama pasti aman dan terjaga. Tapi
ternyata penuh, mungkin alam ingin membawa gue ke suasana lain bernama
kos-kosan.
***
And here they are,
setelah teleponan sama teman, nanyain kosannya dimana, gue memutuskan untuk ke
sana. Mau ngekos bareng teman satu SMA ceritanya, atau paling banter sama
senior yang dulunya juga satu SMA.
“Oh jadi Gang
Mawar itu dimana, Ta?” Tata menjawab telepon gue sambil ngedumel. Ini udah
ketiga kalinya gue telepon dia sejak selesai Open House tadi. Cuma buat memastikan tempat.
“Gang Mawar itu
di belakang Koramil, Drey…” Ia menjawab dengan sabar, meskipun gue tahu dia
lagi kesel.
“Oh oke, Pondok
Wira ya?”
“Iya…” kata-kata
terakhirnya menggantung, entah apa maksudnya.
Gue menutup
telepon setelah bilang terima kasih dan sedikit nyengir. Entah apa pula
maksudnya!
Setelah
menelusuri jalanan Jatinangor yang kebetulan siang itu panas banget, setelah
tabrak sana sini sesama Maba yang kebetulan menghalangi jalan, setelah nanya
dengan bahasa Sunda yang pas-pasan ke warga sekitar, gue dianterin sama Calo ke
tempat kos Tata tadi.
“Tata…tataaa!
Maiiin yuuuk,” tentu saja gue nggak
bilang itu!
“Eh Audrey,
sayang banget kosannya udah penuh. Lo datengnya kelamaan sih…”
Gue cuma melongo
mendengar kalimatnya barusan. Sementara gue sibuk mengheningkan cipta begitu,
beberapa teman satu alumni SMA datang menyalami ayah dan ibu. Tata juga ikut
menyalami keduanya, sementara gue dibiarin bengong sendirian. Tak sadar
beberapa lalat terbang di atas kepala gue.
“Ngekos di
sebelah aja, Drey. Kayaknya masih kosong.” Teman-teman yang lain berusaha
memberi solusi. Oke, gue langsung balik kanan aja dan melihat-lihat kosan
sebelah. Sementara kini Tata yang bengong, entah apa maksudnya.
Rumahnya tidak
begitu bagus untuk disebut rumah kos, tapi juga tak begitu jelek untuk
ditinggali. Suasana padat gang-gang sempit, atap yang hampir bertabrakan,
membuat cahaya matahari enggan masuk ke ruang tamu di lantai bawah. Sebuah sofa
kumal terletak di depan kamar nomor dua, dan di depannya ada sebuah televisi
untuk bersama.
Gue lagi
melihat-lihat kamar nomor satu. Kok ya rasanya nggak pas, padahal ini fasilitasnya paling lengkap. Lalu, tanpa
mengindahkan gue, si Om sudah menarik lengan gue ke kamar nomor dua.
“Ini nih, lebih
luas. Udah ya di sini aja…”
“….hmmm”
“Ini harganya
berapa, Bu?”
Belum sempat gue
mengucapkan kata apa pun, si Om sudah nanya ke ibu penjaga kosan. Dan setelah
harganya sesuai, barulah mereka menanyai pendapat gue.
“Gimana, Drey?
Enak ga?”
Gue yang
pengalamannya masih nol mengenai kos-kosan di Jatinangor dan sekitarnya pun
cuma cengengesan tanda setuju. “Hehe iya, aku setuju aja…”
“Oh yaudah kalo
gitu.” Wajah-wajah lega terlihat dari mereka semua. Selanjutnya yang terjadi
adalah drama melankolis dari keluarga untuk menitipkan gue ke si ibu penjaga.
Gue cuma bisa cengengesan. Nggak tahu
harus bertingkah seperti apa lagi. Sementara itu pandangan gue jatuh ke seorang
cewek yang duduk di sofa depan kamar dua, calon kamar gue.
Keluarganya yang
menyadari gue memandangi anaknya kemudian berkata, “Kamu mau menculik anak saya
ya?” Tentunya nggak!
“Mau ngekos di
sini juga ya? Sok atuh kenalan.“
Wajah-wajah ramah orang Sunda jelas terpancar pada raut muka mereka. Gue
langsung menyodorkan tangan dan lagi-lagi cengengesan Kayaknya hari itu harus
dijadikan ‘Day of Cengengesan’ dan masuk RPUL sebagai hari penting di dunia.
“Audrey.”
Tangannya
menjabat gue dengan kaku, diselingi muka datar dia bilang, “Naya.”
Senyum
cengengesan dan muka sumringah gue hilang seketika.
“Oh ya, dari
mana asalnya?” Gue nanya, tapi yang jawab keluarganya.
“Dari Cirebon,”
dengan muka yang tak kalah ramah, seorang lelaki yang gue sinyalir adalah
sepupunya menjawab.
“Kalau saya dari
Padang,” gue menjelaskan dan dia hanya tersenyum, seperti ingin bilang, “Gue nggak nanya koook!”
Setelah semua
urusan di kosan baru itu selesai, Om mengajak gue, ayah, dan ibu untuk makan
siang di Bandung. Setelah itu mungkin kami akan menuju Depok, ke tempat sepupu
gue. Setelah sesi Open House dan
daftar ulang selesai, gue akan tinggal sementara di Depok sambil menunggu masa
ospek. Setelah pamit ke ibu kos dan ke keluarganya Naya dengan sikap cool, kami sekeluarga pun pergi.
***
“Ada yang pernah
dengar teori motivasinya McClelland di buku The Achieving Society? Nah, gue
adalah penganut teori satu ini. Gue lebih mengutamakan Needs of Affiliation (N-AFF) sih, meskipun banyak yang bilang kalau
gue itu N-GAL banget, alias Needs of Galauliness.
Nggak! Nggak ada yang namanya N-GAL! Oke gue jelasin, menurut McClelland,
manusia itu memiliki tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan
sesuatu. Salah dua dari tiga kebutuhan itu adalah Needs of Affiliation (N-AFF), Needs
of Achievement (N-ACH), dan Needs of
Power (N-POW). Gini sederhananya, orang yang mengusung N-ACH dalam hidupnya
akan memiliki motivasi untuk berprestasi. Karena itu mereka akan berusaha
mencapai prestasi tertingginya. Yang kedua, Needs
of Affiliation, orang-orang ini memiliki hasrat untuk berhubungan secara
akrab dengan orang lain. Mereka biasanya kooperatif dan sikap persahabatannya
tinggi. Yang ketiga, Needs of Power.
Maksudnya adalah motivasi terhadap kekuasaan. Biasanya orang N-POW sangat
membutuhkan penghargaan dan aktualisasi diri.”
Gue lagi
membenarkan kunciran rambut pagi ini. Beberapa hari lagi masa ospek dimulai.
Mau nggak mau gue harus balik ke
Nangor, sekalian beresin kosan, dan ngerjain tugas ospek yang…engga masuk akal. Gue sengaja menyetel
mp3 agak keras untuk menemukan playlist
yang cocok buat ngasih semangat. Awalnya yang mengalun adalah suara khas Adam
Levine dari lagu She Will Be Loved. Tapi karena lagi nggak pengen galau, gue menekan tombol next sehingga terdengarlah ceramahnya Abang tentang teori Motivasi
McClelland. Gue langsung mual! *brb ambil kantong muntah.
Abang emang suka
aneh-aneh, baca buku terus merekam hal-hal yang penting dari buku tersebut.
Salah satunya teori McClelland ini. Sialnya adalah gue pernah ngirim lagu dari
hp dia, yang sebagian besar isinya adalah rekaman suara dia sendiri. Jadilah
kebanyakan gue mendengarkan pidato-pidato motivasi darinya.
Gue melihat lagi
barang-barang yang akan dibawa. Dua koper, empat kardus, sepatu, sandal, dan
barang-barang lainnya. Sementara itu, kalau dengerin pidatonya abang tentang
N-ACH, N-AFF, atau N-POW, gue jadi ingat bahwa dia itu mendeskripsikan gue
sebagai N-AFF sejati, tapi tetap N-ACH. Menurutnya, gue itu orang yang nggak bisa sehari aja nggak ketemu teman. Tapi tetap
mati-matian mengejar prestasi. Sedangkan dia sendiri? N-GAL, Needs of Galauliness, orang yang sehari
aja nggak bisa nggak galau.
Hmmm setelah
membereskan semuanya, gue pun siap berangkat ke Jatinangor dengan diantar oleh
om dan ayah. Dari Depok kami berangkat menuju puncak. Lumayan sih, melihat yang
hijau-hijau sebelum menghadapi kertas yang hijau-hijau juga. Maksudnya ya tugas
ospek Fikom yang didominasi oleh warna hijau dan kuning. Perlambangan dari bendera
Fikom sendiri. Maka di dalam otak gue saat ini terpampang peralatan yang harus
dibuat beserta bahan-bahannya. Ini nih yang harus gue siapin sebelum ospek,
perlengkapan
transformasi tanggal 2 agustus
Menggunakan kertas Sakura HIJAU no. 8 dan KUNING no. 14
Kursi Kunci
Dasar Hijau :
Diameter lubangkunci= 50 cm
Tinggi kursi kunci = 65 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 40 cm
Kuning :
Diameter kunci = 20 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 10 cm
Tinggi kunci = 50 cm
Tinggi gagang kunci = 20 cm
Lebar gagang kunci = 6 cm
Panjang sisi gerigi = 2,5 cm
Lebar sisi gerigi = 2,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 11 cm
Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 5 cm
Tinggi lubang kunci= 7 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci = 5 cm
Jarak per lubang kunci = 12 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 4 cm
Jarak per garis pada kunci = 0,5 cm.
WAJIB DISAMPUL PLASTIK.
Diberi :Nama, NPM, jurusan.
Nametag Tas (dibuat 2 buah)
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 20 cm
Tinggi kursi kunci = 25 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 15 cm
Kuning :
Diameter kunci luar = 12 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 8 cm
Tinggi kunci = 20 cm
Tinggi gagang kunci = 8 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,5 cm
Lebar sisi gerigi = 0,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 5 cm
Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci = 1,5 cm
Tinggi lubang kunci= 2 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5 cm
Jarak per lubang kunci = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 1,5 cm
Jarak pergaris pada kunci = 0,2 cm.
WAJIB DILAMINATING.
Diberi : Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 3x4.
Nametag Badan
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 15 cm
Tinggi kursi kunci = 20 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 10 cm
Kuning :
Diameter kunci luar = 10 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 5 cm
Tinggi kunci = 16 cm
Tinggi gagang kunci = 6 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,3 cm
Lebar sisi gerigi = 0,3 cm
Panjang kunci bagian bawah = 3 cm
Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1 cm
Jarak per lubang kunci= 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 0,5 cm
Jarak per garis pada kunci = 0,2 cm.
WAJIB DILAMINATING.
Diberi Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 2x3.
Buku Fikom
Dasar Hijau :
Lima lembar kertas A4 dilipat dua.
Kunci :
Diameter kunci luar = 8 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 6 cm
Tinggi kunci = 12 cm
Tinggi gagang kunci = 4 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,2 cm
Lebar sisi gerigi = 0,2 cm
Panjang kunci bagian bawah = 2,5 cm
Lubang Kunci Kecil :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5
cm
Jarak per lubang = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci =
1 cm
Jarak garis pada kunci = 0,2 cm.
Diberi :Pas foto 4x6.
Tas Serut
Bahan: kain sarung bantal putih (if you know what I mean!)
Panjang: 30 cm
Tinggi: 50 cm
Diberi tali sumbu kompor (?), panjang disesuaikan.
Oh iya,
kita menyebut Ospek dengan nama Transformasi. Katanya sih itu akronim dari
Tahapan Regenerasi dan Orientasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi
sebenarnya ini orientasi apa ngerjain sih? Dan daripada bingung mikirin tugas
yang…nggak masuk akal tersebut,
sebaiknya kita menikmati udara puncak, dengan pemandangan…hijau.













1 comments:
Lucu dari segi mana? Selera lawaknya parah
Posting Komentar