Novel Bab 1


Satu


Bandung, Juli 2011
Cerita ini nggak akan dimulai dengan kisah seorang remaja ABG yang bangun telat terus berusaha menggapai-gapai waker-nya dengan mata masih merem. Nggak kok, bukan juga dengan adegan seorang cewek yang lagi asik baca buku terus bukunya jatuh karena nabrak mas-mas ganteng karena nggak lihat jalan. Bukan juga. Cerita ini justru bermula di sini, di Km 153 Gerbang Tol Cileunyi, dengan antrean macet parah dan mobil yang sudah seperti semut saking banyaknya, hitam semua lagi.
“Ini tuh harusnya sudah sampai…” Gue menggerutu, melongokkan kepala ke luar jendela dan melihat pintu tol yang masih jauh di depan mata. Andai saja pintu kemana sajanya Doraemon atau baling-baling bambunya beneran ada. Pasti gue udah melarikan diri dari sini.
“Sudah, nggak ada gunanya juga marah-marah begitu.” Ayah yang perawakannya sangat bijaksana, tinggi gede (untungnya nggak ijo) kayak Hulk memberikan saran, sekaligus membuyarkan lamunan gue barusan.
Gue melihat ke belakang, nyengir sebentar, terus cemberut lagi.
Ya, faktanya adalah gue sekeluarga, Ayah, Ibu, dan Om yang lagi nyetir akan menghadiri Open House mahasiswa baru Universitas Padjadjaran. Beberapa minggu yang lalu, gue resmi diterima jadi bagian dari Civitas Akademika Unpad, di Fakultas Ilmu Komunikasi.
Ibu bertanya, lagi-lagi membuyarkan lamunan gue, tapi tetap nggak mengubah antrean macet ini. “Acaranya jam berapa, Drey?”
“Jam Sembilan, Bu.”
Fakta kedua, kami yang udah berangkat dari Soreang ke Jatinangor sekitar jam tujuh pagi, belum sampai hingga sekarang karena macet. Gue berpikir, keren banget ya mahasiswa Unpad, baru Open House aja udah bikin macet Cileunyi. Well, let me confess something! Kita nggak berangkat dari Soreang, gue bersama ayah dan ibu udah berangkat beberapa hari yang lalu dari Padang, kota kelahiran gue.
Ada beberapa hal yang perlu gue ceritakan hingga akhirnya sampai ke sini, memutuskan bermacet-macet ria di Cileunyi dan meninggalkan kota kelahiran sendiri.
***
Umur tiga belas, gue tumbuh menjadi remaja yang isengnya nggak ketulungan. Siapapun diisengin, mau waitress kafe, mbak-mbak di toko buku, tetangga, ayah dan ibu, dan satu yang nggak ketinggalan, Andin.
Andin itu sahabat gue, meskipun kita memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, juga kepribadian yang berbeda, kita bisa tetap dekat karena sifat easy going yang masing-masing kita miliki. Andin itu orangnya berbeda, cantik, sopan, juga berasal dari keluarga mapan. Justru gue yang beruntung karena bisa dekat dengan dia. Eh, tunggu dulu, gue bukanlah remaja matre yang senang karena dekat dengan dia. Gue senang karena dia adalah orang yang nggak pernah melihat ‘perbedaan’ itu.
Jadi kerjaan gue tiap malam adalah ngirimin sms nggak penting ke dia. Seperti, “Selamat nomor Anda telah memenangkan undian dari operator kami…” dan seterusnya dan seterusnya. Atau menelepon malam-malam dan bilang gini,
“Maaf, ini dengan saudari Andin?” Gue berusaha professional mengerjai dia dan memberat-beratkan suara.
“Iya, ini dengan siapa ya?” Dari suaranya sih kelihatan bingung.
“Ini kami dari pihak kepolisian telah menemukan teman Anda yang bernama Audrey. Ia tertabrak motor, dan di handphone-nya hanya ada kontak Anda.” Aneh sih sebenernya omongan gue barusan, tapi semoga dia ngerti.
“Seriuuus, Pak? Dia dimana sekarang? Baik-baik, saya segera hubungi orang tuanya.”
“Di Jalan Pemuda Padang.”
Yang terdengar selanjutnya hanyalah suara-suara berisik sebelum telepon dimatikan. Barangkali Andinnya panik atau gimana. Selanjutnya gue nggak bisa menahan tawa ketika Ibu mendapat telepon dari Andin. Ehm, FYI, gue memakai nomor gratisan yang dibagikan SPG di jalan saat pulang sekolah tadi.
“Oh Nak Andin, ada apa ya?” Ibu menjawab telepon dengan ramah seperti biasa.
“Ah masa? Orang dia lagi di kamar baca buku tuh.” Hening sebentar, kemudian Ibu menjawab lagi, setelah menghela napas tentunya.
“Iya serius, orang barusan dia ngambil kentang goreng dari dapur.” Gue emang baru ngambil kentang goreng di dapur, dan habis itu dimarahin. Karena itu buat abang gue, yang lagi sibuk belajar buat UTS.
Hening lagi, kemudian teleponnya ditutup setelah Ibu basa-basi sebentar ke Andin. Gue ngakak lagi sementara Ibu geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya ini.
Esoknya Andin ngambek parah di sekolah. Seharian gue nggak disapa padahal kita duduk sebelahan. Pas ditanya sama teman-teman lain Andin kenapa, gue jawab sekenanya, “Lagi PMS.” Habis itu dia menatap marah ke gue, kalau ini komik, maka matanya seakan mengeluarkan api yang dapat membakar gue hidup-hidup.
Tapi paling habis itu dia cengar-cengir sendiri ke gue, karena gue punya penangkalnya.
“Drey, lihat PR Matematika kemaren dong,”
Gue menggaruk kepala yang tidak gatal, pura-pura bego.
“Loh, bukannya masih marah?”
Dia cuma bisa menyeringa tidak suka, “Dasar ya, pokoknya kamu harus tunjukin PR kemaren atau kalau nggak…”
“Kalau nggak apa?”
“Kamu nggak boleh main ke rumah lagi!”
Muka gue mendadak panik, nggak boleh main ke rumahnya lagi berarti bencana. Nggak bakal ada bola-bola cokelat yang bisa gue habisin, nggak bakal ada komik-komik lucu yang bisa gue pinjem, dan nggak bakalan ada sesi ngeberantakin kamarnya Andin tiap mampir. Ini bahaya!
“Ehmm, iya deh iya…. Sini mana bukunya,”
Andin bersemangat mengambil bukunya, meninggalkan gue yang ngambek dan nangis di kolong meja.
***
Setiap hari selalu begitu, hingga menjelang kenaikan kelas akhirnya dia bilang kalau dia itu jelmaan serigala. Aduh kebanyakan nonton drama korea nih!
“Drey, naik kelas nanti aku bakal pindah,”
“Garing, Din,” gue hanya menyeringai menanggapi obrolan yang kayaknya serius itu.
“Ih, maneh mah kituh! Ini teh seriuusan…..”
Kalau Sundanya udah keluar, berarti ia serius. Aku yang masih bingung cuma menghela napas,
“Pindah kemanaa?”
“Banduung,” bibinya terlihat manyun, dan kecantikannya jelas-jelas berkurang 50%.
Maka sejak hari itu sudah nggak ada lagi sms-sms undian berhadiah, nggak ada lagi telepon dari orang nggak dikenal yang nyasar ke rumah dia, nggak ada lagi yang menghabiskan waktu di rumah dia kayak anak hilang. Semenjak hari itu, gue mulai menjauh. Nggak tahu kenapa, sebelum benar-benar kehilangan orang yang disayang, gue selalu belajar untuk kehilangan terlebih dahulu.
Seminggu sebelum ujian kenaikan kelas saat itu, dan dia memaksa belajar di rumah.
“Drey, besok belajar bareng yuk. Aku ke rumah kamu ya!”
Gue mikir sebentar, dan alasan-alasan nggak masuk akal itu gue keluarkan,
“Rumah aku kemaren kemalingan Din,” dia menatap sinis. Oke, asli, gue emang bukan pembohong professional!
“Rumahnya kemalingan kok dari pagi ketawa-tawa mulu?”
“Ehmmm…si Cumik mati, jadi rumah lagi berduka. Nggak kondusif buat belajar…” Cumik itu kucing kesayangan gue, dan membuat-buat alasan tentang matinya si Cumik adalah bencana besar.
“Loh, perasaan kemaren sore kamu beli makanan kucing pas pulang sekolah.”
Gue menggaruk-garuk kepala yang lagi-lagi tidak gatal. Kalau ini komik, maka sudah ada keringat segede ipad di dahi gue.
“Yaudah, besok datang aja yah…”
Gue meninggalkan Andin yang kemudian bengong.
Dan besoknya Andin emang beneran datang ke rumah. Dan rumah gue nggak kemalingan, nggak kebanjiran, dan si Cumik juga tetap mengeong seperti biasanya. Yang nggak seperti biasanya itu gue, yang tetap diam setelah Andin datang setengah jam yang lalu. Paling ngomong juga pas Andin nanya, selebihnya gue mengheningkan cipta.
“Drey, udah baca Conan yang baru belum?”
“Belum.”
Diam lagi.
Sepuluh menit setelahnya Andin ngomong lagi, “Drey, udah baca Ayat-ayat Cinta belum?” Aslinya gue emang suka baca sih, cuma waktunya saja yang nggak tepat. Akan kehilangan Andin membuat hidup gue keburu hancur sebelum semuanya terjadi.
“Belum,”
Diam lagi.
Sebenarnya nggak enak juga diam-diaman mengheningkan cipta seperti ini. Apalagi dengan teman dekat sendiri. Barangkali dia sudah mau bilang, “Pecahkan saja gelasnya biar ramai!” Tapi semuanya udah basi, karena madingnya sudah terbit.
“Kamu kapan berangkat, Din?” Akhirnya gue melupakan scene AADC tersebut dan kembali ke bumi.
Sekarang Andin yang diam, memainkan ujung pena, melamun sebentar, dan menjawab tanpa menoleh, “Habis terima rapor.”
“Kamu kenapa berubah jadi pendiam gitu sih?”
Gue tersenyum, akhirnya dia nanya. Dan mengalirlah semua pembicaraan itu.
***
“Pak, bisa cepetan dikit nggak?” Gue ngomong ke supir angkot yang akan membawa gue ke Bandara. Ini hari keberangkatan Andin, kemaren dia bilang mau berangkat jam sebelas. Sayangnya gue baru bisa berangkat beberapa menit yang lalu, karena disuruh cuci mobil dulu.
“Ini udah cepat, Dek.”
Si Bapak yang tidak menoleh ke arah gue, tetap mengemudikan angkotnya dengan kecepatan standar. Ia tetap celingak-celinguk kanan kiri melihat penumpang, padahal jalanan kosong, dan gue adalah satu-satunya penumpang.
Hingga lima belas menit berlalu, dan sekarang tepat sebelas kurang seperempat.
“Dek, turun di sini aja ya.” Dia menyuruh gue turun tanpa rasa berdosa.
Nggak sampai bandara, Pak?”
Kening gue terlipat, masih tak habis pikir dengan tindakan si supir.
Nggak…”
Gue terpaksa turun setelah membayar ongkos, dan supirnya langsung putar balik. Setelah bengong sendirian di pinggir jalan, akhirnya gue memutuskan naik ojek sampai bandara.
“Pak, bandara ya, buruan!”
“Eh, Adek mau naik pesawat?” Bapak itu tertawa.
“Pak, nanti saya bayar lebih jika bisa sampai bandara dalam waktu sepuluh menit. Bisa?”
Tawa Bapak itu terhenti. Dia menyerahkan helm, mengangguk mantap.
Gue loncat ke jok belakang, belum juga duduk, motor bebek itu sudah melesat kencang. Gue nyaris terjengkang.
“Pegangan ya Dek, kecepatan penuh.” Bapak itu tertawa.
Gue kira si Bapak adalah penggemar berat Samy Naceri. Seperti dalam film Taxi, bapak tukang ojek berlaga seperti Samy demi mengantarkan penumpang hingga tujuan, bedanya Samy mengendarai taxi, sementara gue naik ojek. Motor bebek itu meliuk-liuk sepanjang jalan, menyalip beberapa mobil sekaligus.
“Pak, sabar pak! Saya belum kawin….” Seharusnya gue nggak mengucapkan itu, karena efeknya sama sekali nggak ada.
“Apaaa Deeek?” Kalian coba ngomong di depan kipas angin, nah kayak gitu suara si bapak tukang ojek, dikalahkan oleh suara angin yang jauh lebih kencang. Gue diam saja, memilih berdoa dalam hati.
 Motor bebek tetap ngebut dan melaju kencang, bahkan barusan nyaris menabrak nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan. Gue nggak mencemaskan nenek-nenek barusan. Yang gue cemaskan adalah bagaimana jika pesawan Andin sudah berangkat? Gue nggak punya banyak waktu jika pesawatnya berangkat tepat waktu.
Sepuluh menit tepat, adegan Taxi yang gagal difilmkan itu pun berakhir. Motor bebek itu masuk ke jalanan bandara dan merapat di lobi keberangkatan. Gue loncat dari atas mtor, menyerahkan helm dan membayar ongkos ojek.
“Ambil saja kembaliannya, Pak!”
Bukannya senang dengan uang yang diterima, si Bapak malah meneriakiku.
“Wooi uangnya kuraaaang??!!”
“Eh?” Aku tidak peduli, tetap berlari hingga pintu keberangkatan, dan meninggalkan Bapak tukang ojek yang kini diteriaki dan dikejar-kejar petugas keamanan Bandara karena belum bayar parkir.
Ternyata pesawatnya belum berangkat. Andin sendiri memutuskan menemui gue di lobi keberangkatan setelah ditelepon. Ah syukurlah, batin gue dalam hati.
Andin kelihatan dari jauh, memakai ham berwarna hitam dipadu dengan jeans gelap. Ia cengengesan dari jauh ketika melihat gue.
“Aku kira kamu nggak jadi dateng.” Ia menepuk bahu gue santai.
Gue menyeringai, setelah melalui beberapa adegan begini, dia bisa serius dikit nggak sih? Kasih pesan terakhir kek, atau ngasih kado perpisahan kek ke gue.
“Kamu ke sini sendirian?” Tuturnya setelah lihat kiri kanan tapi tak menemukan siapapun bersama gue.
“Engga, tadi sama tukang ojek. Oh iya berangkat jam berapa?” Dia tertawa.
“Ini nih sebentar lagi, oh iya ini aku punya buku buat kamu.” Kemudian ia terlihat merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Sang Pemimpi?” Dahiku terlipat, ngapain gue dikasih buku beginian.
Dahi Andin juga terlipat, “Ya iyalah itu karakternya sesuai sama kamu!”
“Eh makasih ya,” gue tersenyum sumringah.
Panggilan keberangkatan untuk penumpang yang akan ke Jakarta terdengar kembali. Andin masuk kembali ke ruang tunggu keberangkatan setelah mengucapkan beberapa kata lagi dan memeluk gue. Itulah terakhir kalinya kami bertemu, setelah mata gue melihat punggungnya hilang dari balik ruang tunggu keberangkatan.
***
Janji tetaplah janji. Janji untuk bertemu kembali setelah perpisahan itu usai juga tetap sebuah janji. Novel yang dikasih Andin banyak menginspirasi gue untuk tetap menjadi anak jahil yang punya mimpi. Gue tetap membalas sms pacar Abang dengan gombalan nggak penting saat Abang lagi keluar. Mandiin si Cumik sama air bekas cucian. Ngejatuhin buku satu rak di toko buku tanpa beli sama sekali. Ngerepotin waitress restoran tanpa malu. Apa lagi ya? Tapi yang jelas gue tetap bermimpi, mimpi buat ketemu sama Andin suatu hari nanti.
Seperti kata Donny Dhirgantoro dalam buku Best Seller-nya ‘5 cm’, “Yang bisa dilakukan makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpinya hanyalah mempercayainya.” Maka gue percaya bahwa gue dan Andin akan bertemu suatu hari nanti. Dan apapun yang bisa membuat mimpi itu terwujud, akan gue lakukan. Termasuk belajar mati-matian dan gila-gilaan pas SNMPTN.
Sebenarnya sederhana sih, berawal dari hobi gue nulis cerita komedi, menuliskan kegilaan gue di blog, gue rasa gue punya bakat di bidang tulis menulis. Maka, termasuk gila jika gue mengambil keputusan untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS pas SNMPTN. Kalau filosofisnya, gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan dan bakat gue yang udah dikasih Tuhan di bidang ini. Selain itu gue nggak mau nyesel pas lagi sekarat nanti dan bilang, “Kenapa dulu gue nggak ambil keputusan itu?”
Itu secara filosofisnya. Tapi kalau secara simpelnya, gue nggak ngambil IPA pas SNMPTN karena gue nggak tahu mau jawab apa di Fisika, dan kalau IPC, gue nggak mau ribet mempelajari Sejarah dan Biologi sekaligus.

Maka keputusan itu bulat gue ambil, SNMPTN IPS! Ayah dan Ibu cuma bisa mendukung, Abang cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adeknya yang keras kepala begini. Padahal itu nggak jauh beda sama dia udah capek-capek kuliah teknik, malah terjun ke dunia accounting. Dan yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tadi cuma dua, nekat dan rajin. Nekat ngambil keputusan ini dan rajin belajar buat merealisasikan semua mimpi itu. 

0 comments:

Posting Komentar

Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy