Tiga
So no one told you life was gonna be this way
Your jobs a joke, you're broke, your love life's D.O.A.
It's like you're always stuck in second gear
And it hasn't been your day, your week, your month,
or even your year
but..
I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...
Your jobs a joke, you're broke, your love life's D.O.A.
It's like you're always stuck in second gear
And it hasn't been your day, your week, your month,
or even your year
but..
I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...
….
Suasana rock saat ini kentara banget dari kediaman gue di gang mawar, di salah
satu kamar nomor dua. Sountrack serial
TV show Friends yang terkenal banget
pas tahun 90-an mengalun dan bikin suasana yang sepi jadi semangat. Gue sendiri
lagi nge-design kamar nih,
beres-beresin barang, merapikan buku-buku, komik, novel, dan memasang berbagai
poster. Di dekat kasur ada posternya Kahitna, band kesayangan gue. Dekat lemari
ada posternya Westlife, yang sekarang sudah bubar (bahkan sebelum gue sempat
nonton konsernya). Terakhir di dekat meja belajar, ada poster film In Time. Film kolaborasi akting antara
Justine Timberlake dan Amanda Seyfried.
Ceritanya begini nih, ketika gen penuaan dimatikan, orang-orang harus
membayar agar dapat tetap hidup. Semua orang berhenti menua pada usia 25 tahun.
Di lengan mereka terpasang jam yang menunjukkan sisa waktu hidup mereka. Untuk
mencegah kelebihan penduduk, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli
barang mewah dan keperluan lainnya. Orang kaya dapat hidup selamanya, sementara
lainnya mencoba bernegosiasi untuk hidup abadi. Seorang pemuda miskin dituduh
melakukan pembunuhan ketika ia mewarisi keuntungan waktu dari pria kaya yang sudah
mati. Ia terpaksa melarikan diri dari kejaran polisi mirip FBI yang
korup bernama 'Timekeepers'.
Filmnya emang belum release
sih, gue dapat posternya dari Abang. Karena foto-foto pertama dari set filmnya
sudah muncul sejak tahun 2010. Sedang filmnya sendiri? Baru release 28 Oktober 2011 nanti. Gue suka
banget filmnya karena bikin kita sadar bahwa hidup itu berharga. Andai kita tahu
berapa waktu kita tersisa di dunia ini, pasti kita nggak bakal menyia-nyiakannya. Dan andai seseorang tahu betapa gue
mencintai dia, mungkin dia nggak
bakal menyia-nyiakan gue. Eh? Kok jadi edisi galau? Ah sudahlah.
Setelah dua jam selesai mendekor kamar sendiri, gue
memutuskan untuk menyetrika. Oh ya, sebagai N-AFF sejati tadi gue sudah kenalan
sama seorang penghuni baru di sini. Rambutnya panjang, pakai baju putih, dan…eh
kok jadi mendeskripsikan kuntilanak sih! Oke fokus Drey! Namanya Kiran, anak
bisnis. Kelihatannya sih kece badai, tampak dari gayanya dan teman-temannya
yang mampir ke sini tadi. Orang Padang juga, sama kayak gue. Menurut informasi
yang gue dapat dari ibu kos, anak Padang di sini ada lima orang. Padahal gue nggak merencanakan buat sekosan sama
teman sendiri, eh tahunya nggak
lepas-lepas juga dari orang Padang.
Kosan
ini cukup menyenangkan, meskipun tempatnya sederhana. Mereka masih menyediakan
televisi bersama, meja setrikaan umum, dispenser bersama, dan dapur umum.
Televisi dan meja setrikaan diletakin di lantai bawah, sedangkan dispenser dan
dapur umum ada di atas. Selain itu di atas juga ada jemuran, sekaligus tempat
buat melihat pemandangan paling keren dari Jatinangor, Gunung Geulis. Yap, selain
menikmati pemandangan atap rumah yang udah mepet, kosan di gang sempit ini
masih punya pemandangan menakjubkan. Matahari saat terbit dan terbenam memang
keren jika dilihat dari balkon kosan.
Sementara
gue asik menyetrika, dan ayah asik tiduran di kamar, tiba-tiba dada gue
bergetar. “Dag!” Seseorang sepertinya akan turun ke bawah, terdengar dari
langkah kakinya. “Dig!” Langkah itu makin dekat. Ada apakah ini? Mengapa
jantung gue seperti akan lepas hanya dengan mendengar langkah seseorang yang
makin dekat. “Dug!” Seorang cewek yang memakai kemeja dan rok rempel berwarna
merah hati lewat di hadapan gue. Matanya sayu, dan ia berjilbab, dan ada
sepasang lesung pipi di wajahnya. Melihat gue, dia cuma memberikan senyum
tipis. Dan gue merasa waktu berhenti berdetak, seluruh partikel debu seperti
dibekukan udara, dan semua orang mematung. Gue jadi salah tingkah, nggak tahu harus berbuat apa.
Dia
lewat dengan sangat anggun di depan gue. Meskipun kita nggak kenalan, nggak
mengucapkan sepatah kata pun, dan pertemuan pertama ini hanya ditandai dengan
sebuah senyum tipis, gue tahu dialah cewek paling anggun sekaligus misterius di
sini. Gue melihat ke belakang, menatap punggungnya yang menghilang di balik
pintu. Ah tiba-tiba gue ingat scene film
Daredevil pas Matt ketemu seorang cewek di kafe. Walaupun dia nggak bisa melihat, namun cinta itu
datang dengan sendirinya dalam waktu yang tepat. Dan baru saja, cinta baru itu
datang dalam kehidupan gue.
***
Menurut
penelitian terakhir, populasi manusia di seluruh dunia akan mencapai tujuh
miliar orang di tahun 2011 ini, dan 70% di antaranya adalah heteroseksual.
Sisanya? Kalian bisa melihat kaum gay, lesbian, biseksual, dan aseksual
berkeliaran di muka bumi ini. Jika ditanya, mereka dengan kecenderungan seks
berbeda tak pernah memilih menjadi seperti ini. Ini murni karena gen, mereka
sudah terlahir seperti ini dan tak akan pernah berubah. Orang-orang dengan homoseksual,
ketika pubertas sudah pasti akan tertarik sesuai dengan orientasi seksnya. Jika
mereka mengingkarinya, itu bisa jadi karena mereka malu atau belum
menyadarinya. Dan jika mereka bilang sembuh, itu bisa jadi dalih karena tidak
ingin malu atau tak ingin terusir.
Homoseksual
(gay dan lesbian) bukanlah gangguan jiwa. Pada tahun 1973, American
Physiciatric Association (APA) sudah mengeluarkan homoseksualitas dari
kategori gangguan kejiwaan. Indonesia pun turut mengadopsi PPDGJ (Pedoman
Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) II dan III yang menyatakan hal serupa:
gay atau lesbian bukanlah gangguan kejiwaan. Meskipun banyak yang bilang bahwa
gay atau lesbian dapat disembuhkan, itu tidaklah benar. Mereka tidak dapat
sembuh 100%, jika mereka sembuh, berarti mereka tidak sepenuhnya homoseksual.
Sayangnya, gue adalah
salah satu orang yang memiliki orientasi seks berbeda tersebut. Gue mengetahui
ini sepuluh tahun lalu, ketika masa SD, ketika pertama kalinya jatuh cinta…pada
seorang perempuan. Kedengarannya memang menjijikkan! Gue benci diri sendiri
sejak hari itu. Namun apa yang harus gue lakukan? Gue cuma bisa memendam
perasaan yang gue punya. Berkali-kali gue jatuh cinta, patah hati, lalu gue
lupain sendiri. Apa sih rasanya jatuh cinta sama seseorang tapi orang itu nggak pernah bisa tahu? Sakit maan!
Lupakan untuk ngomong
langsung ke mereka bahwa gue sayang sama mereka. Lupakan pacaran, temenan
secara dekat, ataupun teleponan tiap malam. Mungkin mereka melihat gue sebagai
orang misterius atau orang aneh. Lupakan juga untuk bergabung dengan komunitas
yang sama seperti gue. Gue sendiri menganggap ini hina, dan tidak akan
memperjuangkannya. Karena jika gue bergabung dengan mereka, mungkin gue nggak akan di sini sekarang.
Gue bukanlah orang yang
punya keberanian untuk mengungkap jati diri yang sebenarnya. Mungkin
orang-orang di Barat sana mengenal tiga fase dari kelainan seks mereka. Fase
pertama, mereka menyadari kelainan ini. Fase kedua, mereka memberi tahu teman
dekatnya. Hingga fase ketiga, mereka mengumumkan jati dirinya pada masyarakat
luas. “Tapi ini Indonesia, Drey! Ini bukan Barat!!” Lagi-lagi setan galau
memberi pukpuk pada gue.
Kalau dihitung-hitung,
udah berapa kali sih gue pernah jatuh cinta? Terakhir sama Katia, sakit sih,
sakit banget malah. Gue sukanya itu sekitar beberapa bulan mau UN dan itu
menyita perhatian banget. Suka sama orang yang juga disukai sama adek sepupu lo
sendiri. Astagaa! Gue baru saja mencoba melupakan dia ketika pindah ke Bandung
ini. Barangkali jarak yang jauh bisa membuat gue banyak memperbaiki hati dan
melakukan hal yang realistis. Ternyata nggak,
cewek yang belum gue tahu namanya ini belum mengizinkan gue untuk straight!
***
Nah,
efek dari ketemu cewek bermata sayu barusan adalah cengar-cengir sendirian di
kosan Tata.
“Lo
kenapa, Drey? Habis ketemu kuntilanak?”
“Iya…EH
BUKAAN!” Gue mesem-mesem sendiri.
“Haha
si Audrey lagi jatuh cinta kaliii…” Sarah ikut nimbrung, sekarang mereka berdua
mem-bully gue.
Kami
sedang mengerjakan tugas ospek Fikom yang tinggal dua hari lagi. Sedang besok
itu adalah ospek universitas. Jadi kami harus buru-buru mengerjakannya. Tugasnya
dibagi tiga, bagian gunting-menggunting adalah kerjaan gue. Tata bagian membuat
pola, dan Sarah bagian temple menempel. Tapi karena sebagian fokus gue masih ke
si mata sayu tadi, maka pekerjaan gue pun kacau. Kelebihan gunting lah, robek
lah, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang membuat Tata ngomel.
“Ya
ampun Drey, lo kenapa sih salah gunting mulu! Kapan kelarnya kalo begini!!!”
Jika ini sinetron, maka kamera akan di-zoom
in dan zoom out ke muka Tata
sehingga detail jerawat dan komedo kelihatan semua.
“Hehe
maaf Ta, iya ini gue perbaiki deh.”
Setelah
beberapa jam berkutat dengan karton, lem, gunting, dan pensil di kosan Tata
(yang sempit-red), gue diutus oleh mereka untuk melaminating semua id card ke
tempat fotokopian. Dan setelah semuanya beres, gue teriak! “Aaaaaaa!!” Gimana nggak, nama di id card gue sekarang adalah, Faranita “Audrey Ginanjar” Nabila
Shidiq!
Faranita
itu adalah nama depannya Tata, sedangkan Nabila Shidiq itu nama belakangnya
Sarah. Jadi mereka itu menuliskan nama dengan pensil biar tulisannya agak
ketengah (kami tidak memakai komputer sehingga tidak bisa menggunakan
justify-red). Memang sih nama gue ditulis pakai pulpen, tapi di samping kiri
dan kanannya ada nama mereka. Dan itu membuat orang-orang bingung dengan nama
gue pas ospek.
Pas
di kosan Tata,
“Ini
nih Ta kerjaan lo!” Gue menunjuk Id card
dengan tampang lempeng.
Tata
kemudian menyambar Id card gue dan ngakak.
Sarah yang penasaran ikutan melihat Id
Card itu dan ngakak juga.
“Hahaha,
gara-gara lo sih nggak fokus!” Tata
ngomong sambil menahan tawa. Sedang Sarah sibuk mengelap air matanya. Arrggh,
ini bukan drama sedih kan!
“Ya
gue mana tahu, udah ah pusing!” Gue ngambek, mengabaikan tawa mereka dan menimpuk
Tata dengan bantal, setelah itu terjadilah perang bantal antara kami bertiga.
Ini
semua gara-gara si mata sayu, batin gue dalam hati!
***
Wednesday,
August 1
DIBERITAHUKAN
KEPADA MAHASISWA BARU FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI,
BESOK
2 AGUSTUS BERKUMPUL SEKITAR PANGKALAN DAMRI (PANGDAM)
DAN
GERBANG BANK BNI PADA PUKUL 05.00 WIB!
DENGAN
MEMBAWA PERLENGKAPAN SERTA MENGGUNAKAN ATRIBUT YANG
TELAH
DITENTUKAN!!!
DENGAN
KONDISI DALAM KEADAAN SUDAH SAHUR DAN SALAT SHUBUH
(BAGI
MUSLIM)!!!
….
Gue
lagi ngopi-ngopi ganteng sama ayah malam ini sehabis ospek universitas.
Panas-panasan seharian mendengarkan rektor dan dosen pidato. Saat lagi
enak-enaknya menyeruput kopi hitam itu, ada one
incoming message dari Tata di layar hp gue. Ah Tata, capslock-nya jebol kali. Atau dia itu cuma mau ngasih warning supaya besok gue bangunnya nggak telat. Dengan cepat gue tekan
tombol reply dan mengetikkan pesan
balasan untuk Tata,
“Iyeee
Ta, iyeee! Besok bareng aja kali ya?” Belum tiga detik, hp gue sudah
kejang-kejang lagi, ada pesan masuk.
“Besok
gue jemput ke kosan lo. JANGAN TELAAT!” Gue membalas pesannya sekali lagi dan
kemudian menjawab salam sambil mengangkat kepala. Gue tertegun, orang yang
masuk barusan bukanlah orang biasa. Dia adalah….si mata sayu! Malam itu ia baru
pulang dengan ibunya, sepertinya habis makan malam. Ia memberikan senyum yang sama
ke gue seperti pertama bertemu. Gue rasa gue meninggal waktu itu dan pergi ke
surge. Ah dia lewat begitu saja dan lagi-lagi gue kehilangan kesempatan buat
kenalan sama dia. Sial!
Aku yakin, hujan terjadi hari itu
Saat engkau keluar dari rahim
Mencium bumi
Saat engkau keluar dari rahim
Mencium bumi
Sebab aku yakin, tuhan pun menangis
malaikat pun menangis
kehilangan bidadari
seindah engkau
malaikat pun menangis
kehilangan bidadari
seindah engkau
Itu potongan puisinya Pringadi Abdi Surya yang keren banget.
Andai situasinya beda ya, andai gue bisa menyukai dia tanpa takut itu dosa.
Andai, andai, andai. Pikiran gue melayang kemana-mana dan gue dikagetkan oleh
dua orang lagi penghuni baru.
“Heei kamu penghuni baru juga di sini?”
“Eh?” Gue melihat ke samping kiri dan samping kanan,
memastikan apa benar dia ngomong sama gue.
“Iya kamuu,” seorang cewek lagi menunjuk-nunjuk gue.
“Iya, gue penghuni baru.” Tutur gue seperti akan dirampok.
“Kenalin aku Nisa.” Dia langsung menyodorkan tangan ke gue,
tangaaan bukan pisau!
“Audrey!”
“Kalo aku Deefa,” salah seorang lagi tersenyum tak kalah
manisnya ke gue. Cantik juga, batin gue dalam hati. Maka hari itu gue harus
berterima kasih pada tangan karena telah merasakan lembutnya tangan Deefa.
“Audrey…”
“Kamu dari mana?” Deefa membuka topik pembicaraan, dia
terlihat antusias.
“Oh aku dari Padang, kamu?”
“Kita dari Bandung, ujar Nisa,” sedang Deefa hanya
tersenyum, memamerkan behelnya yang bersinar.
“Ooh, kalian pada jurusan apa?”
“Aku Sistem Informasi, kalo Nisa Fisika.” Kali ini Deefa
merapikan anak rambut di dahinya.
“Kalo gue Fikom.” Nisa dan Deefa sama-sama tersenyum yang
menyiratkan bahwa, “Kita nggak nanyaa
koook!”
Gue mulai akrab sama anak berdua itu, sambil menghabiskan
secangkir kopi, pembicaraan kami melebar kemana-mana.
“Kamu minumnya kopi item? Ih sama banget nih sama si Deefa.”
“Oh, lo suka kopi item juga?” Gue penasaran, ada juga
ternyata cewek yang suka kopi hitam.
“Nggak terlalu
sih, kalau lagi nggak ada creamer, terpaksa kopi hitam aja.”
Gue tersenyum, cantik sih dan bikin nyaman. Tapi gue masih
penasaran ke si mata sayu itu.
“Deef, tidur yok! Besok harus bangun pagi kan?”
“Audrey kita tidur dulu ya, eh Audrey kan nama kamu tadi?”
“Iya iya, silakan tidur dan nama gue emang Audrey…” Mereka
berdua melangkah ke atas, sementara Deefa masih melihat ke gue, memberikan
senyum terakhir malam itu. Cantik sih, tapi….
***
“Hoaaam,”
Gue menguap besar banget dan langsung ditabok oleh Tata.
Yap, jam segini kita udah ngumpul di Pangkalan Damri bersama mahasiswa baru
lainnya untuk mengikuti rangkaian ospek. Barangkali banyak yang masih ngantuk,
termasuk Tata. Dia sempat nabrak pembatas jalan tadi. Ospek Fikom emang keras
sih, jam segini sudah diteriak-teriakin, ditarik-tarik. Belum lagi barang
bawaan yang berat sama perlengkapan yang ribet. Halah, nggak eksklusif bangat ya mahasiswa baru!
“Yang sakit memisahkan dirii!”
“Fokus putriii FOKUS!”
“Maba putra lindungi maba putrinya!!!”
Setidaknya akang teteh ini sudah dilatih ribuan kali untuk
mengucapkan kalimat di atas, sehingga yang terucap bukan, “Maba putra cium maba
putrinya!” Gue garing ya? Oke, toyoor! Tanggal 2 Agustus jam 5 pagi, oke
selamat ulang tahun Drey! Gue memberi pukpuk
pada diri sendiri. Semalam gue nggak
bisa tidur, enggan membayangkan apa yang akan mereka rencanakan untuk Maba yang
ulang tahun. Maka hari ini gue nggak
akan bilang ke siapa pun bahwa ini hari lahir gue.
Hari pertama ini kebanyakan penyambutan. Kenalan sama
dosen-dosen dari berbagai jurusan dan departemen. Hari ini juga ada pembagian
kelompok dan kenalan sama akang teteh pembina kelompok. Gue kebagian kelompok
11, sayangnya gue kepisah sama Tata. Dia kelompok 10. Kami yang tadinya ngumpul
di Pangkalan Damri disuruh jalan sampai ke Fikom. Dan itu sama saja kayak
ngelilingin Unpad satu putaran! Di beberapa pos kami disuruh berhenti.
“Putri, itu anting kamu copot!” Seorang Maba cewek di depan
gue ditegur senior.
Dia kemudian memegang antingnya, dan walaupun gue nggak lihat mukanya dari belakang, tapi
gue tahu dia sedang memelas.
“Nggak bisa
dicopot teh.”
“Oh ya udah!” sebelum ketahuan mati gaya, si teteh pun
pergi.
Kini gue yang melongo.
Rangkaian Transformasi ini terdiri dari tiga sub panitia,
acara, evaluasi, dan eksekutor (yang biasa marah-marah nggak jelas sob). Rasa-rasanya aneh, sudah melakukan hal yang benar
dimarahin, melakukan hal yang salah juga dimarahin, ya sudah berbuat kerusakan
saja! Nah setelah sampai Fikom dan diteriak-teriakin, tiba-tiba kami disambut
meriah oleh akang teteh yang sudah stay di lapangan futsal Fikom.
“Selamaaat dataaang selamaaat pagiii”
“Tetap semangaat yaaa tetap senyuuuum!”
Kami, maba kelompok 11 cuma bisa cengok mendapat perlakuan
seperti ini. Nah sambil menunggu kelompok lain, hingga kelompok 27, kami
disuruh duduk dan menundukkan kepala. Tidak ada suara dan tidak boleh tidur.
“Mas, mbaak tundukan kepalanya yaa, tidak tiduuur.”
“Mas, mbaaak tidak lirik-lirik yaaa.”
Semua itu diucapkan dengan intonasi yang lembut dan pada
hari-hari berikutnya kalimat itu menjadi soundtrack
yang sering kami nyanyikan. Ospek Fikom sebenarnya menyenangkan, tapi susah
dijalani. Apa lagi tugasnya yang seabrek-abrek. Tapi sebenarnya gue nggak begitu peduli. Yang paling gue
ingat dari Transformasi ini cuma dua, pertama Danlap (komandan lapangaan) acara
yang cantik dan jargon Fikom. “Fikom satuu! FIKOM FIKOM FIKOOM!”
Oh ya, kita punya jam istirahat, sekitar jam dua belas
siang. Buat salat dan makan siang. Nah sembari makan, gue sempat nanya ke salah
satu Maba yang antingnya nggak bisa
copot tadi.
“Eh lo Winda kan ya?”
“Iyaa tahu dari mana?”
“Itu id card lo…”
“Oh iya hehehe,” gue cuma menyeringai.
“Tadi anting lo beneran nggak
bisa dicopot?”
“Ya nggak lah!”
Dia meninggalkan gue dengan ekspresi jutek. Cepet banget sih berubahnya antara
cengengesan dan jutek.
Fikom emang tega deh, sudah disuruh ngumpul jam lima pagi
dan baru dipulangin sekarang, jam enak sore. Dan magrib-magrib gini kita sudah
disuruh ngumpul lagi buat ngerjain tugas kelompok. Buat yang ngekos sih enak,
tapi buat yang dari Bandung? It’s not
taste like human anymore. Gue mengecek hp, melihat mention dan sms. Banyak juga ucapan selamat ulang tahun.
“@andintia: Selamat @dreginanjar, Anda ulang tahun!”
“@fabrioreza: Wah @dreginanjar ulang tahun? Alamat ditraktir
nih :D”
“@shintyaaa: @dreginanjar dre, gue sedih lo semakin dekat ke
kematian, tapi apapun itu selamat!”
Biasanya kalau ulang tahun begini gue nggak ngetweet seharian, nggak
facebookan, dan nggak membalas sms.
Lagi pula seharian tadi gue nggak
boleh bawa hp ke kampus. Ngomong-ngomong soal hp dan ucapan selamat, gue
bingung sendiri melihat anak-anak kelompok ini yang deket banget. Kayak udah
kenal setahun saja! Tara, Kaka, Winda, Arien, Deddy, semuanya bisa nyatu
walaupun mereka baru ketemu. Dan semua obrolan mereka nyambung. Hmmm, maybe it’s time to take a breath and make a
new life!
“Heeei,” gue ngedeketin Tara, cewek yang dari tadi cuma
senyum-senyum sendiri melihat anggota kelompok yang lain kerja.
“Halooo, nama kamu siapa?”
“Audrey!” Gue menyodorkan tangan sembari tersenyum.
“Tara.” Dia tersenyum sumringah, lalu melanjutkan, “Enak ya
ngeliatnya udah kayak kenal setahun…”
“Iya Tar, enak juga sambil ngeliatin ada yang lagi jatuh
cinta.” Gue sumringah tanpa menatap wajah Tara, yang pastinya saat ini salah
tingkah.
“Mmm…maksud lo?”
“Kalo lo mau Kaka tahu, sebaiknya dideketin.”
Sekarang wajah kami berpandangan, gue melihat dia yang kini
tertawa, pipinya bersemu merah.
“How could you know,
baby?”
“I’m Audrey, and I’m a
face reader…” Gue menyodorkan tangan kembali, lengkap dengan senyum tiga
jari kayak sales MLM.
“Lucky you are!”
Dia tertawa sambil menepis tangan gue.
Maka semenjak hari itu, gue resmi jadi agen rahasianya Tara
atas Kaka.
***
Sepanjang jalan pulang yang gue pikirin cuma Deefa. Entah
mengapa gue jadi suka senyumnya, semangatnya, dan sikap antusiasnya. Gue
melewati gang sempit yang gelap itu dengan siul-siul sendiri. Ah, kenapa jadi
mikirin Deefa ya? Bukannya gue udah jatuh ke mata sayu perempuan itu? Tapi
bahkan sampai sekarang namanya saja gue belum tahu.
….
Bagaikan tetesan hujan di batasnya
kemarau
Berikan kesejukan yang lama tak
kunjung datang
Menghapus dahaga jiwaku akan cinta
sejati
Betapa sempurna dirimu di mata
hatiku
Tak pernah kurasakan damai sedamai
bersamamu
Tak ada yang bisa yang mungkin kan
mengganti tempatmu
….
Malam-malam gini masih ada saja yang jatuh cinta.
Sayup-sayup lagu Hebat dari Tangga gue dengar mengalun dari sebuah rumah di
gang ini. Hmmm emang enak sih dengar suara merdunya Kamga mengalun, emang cocok
buat penggemar pop mellow sejati.
Jam sepuluh malam, pintu berderit saat gue buka pelan-pelan.
Gue baru saja sampai di kosan dan mendapati dua orang anak lagi asik
mengerjakan tugas. Salah satunya Deefa.
“Dari mana, Drey?” Widi memandangi gue yang kelihatan
lunglai, dia adalah teman satu kosan yang gue kenal sejak di Padang.
“Jangan masuk Fikom deh!” Gue ngomong dengan malas, Deefa
hanya memandangi dengan heran. Sementara Widi kembali berkutat dengan karton
dan tugas-tugasnya.
“Eh Wid, gue ulang tahun loh hari ini.” Muka gue sumringah,
sementara Deefa memandangi gue dengan muka datar. Ada apa sih? Gue sendiri juga
bingung, oh ya Nisa mana? Nggak
biasanya Deefa nggak bareng Nisa.
“Oh iyaa? Terus gue harus bilang WOW?”
Sekarang gue yang pasang muka datar, “Yee beneran kaleee!”
Ucap gue sembari menunjukkan beberapa pesan yang masuk.
“Eh gue suka loh iklan operator yang Hap Hap Hap Hap Tangkap
Tangkap!” Gue sumringah sambil menatap Deefa.
Yang ditatap hanya mengangguk.
“……”
“Dre, selamat ulang tahun yaa!” Widi mengucapkan selamat ke
gue malam itu, yang gue sambut dengan senang.
“Makasih ya Wid, hehe.“ Sementara Deefa tidak menoleh sedikit
pun ke arah gue. Eh, is something goes
wrong with her?
Beberapa menit kemudian Widi pamit tidur ke gue dan Deefa,
tugasnya sudah selesai, dan dia balik ke kamar. Gue menatap televisi
lurus-lurus sementara Deefa sibuk dengan tugasnya. Hingga tiba-tiba iklan Hap
Hap yang gue maksud muncul di televisi.
“Tuh iklannya.” Dia melihat ke masih dengan muka datar.
“…..iya,” gue yang salah tingkah hanya diam.
Karena setelah iklan itu selesai dan dia masih diam, gue
berusaha membuka pembicaraan,
“Lo ngerjain tugas apa? Eh iya nama lo siapa tadi?” Gue
belagak lupa namanya, dan jawabannya membuat gue nyaris pingsan.
“Fana”
Muka gue pucat, “Jadi lo bukan Deefa? Jadi kita belum
kenalan?” Gue menggaruk kepala yang tidak gatal dan berharap ditelan bumi saat
itu juga.
“Deefa? Beluum, kita tuh belum kenalan.” Kini dia tersenyum,
tertawa tanpa suara, dan dia kembali melempar senyum yang gue kenal. Tunggu
dulu, senyum itu? Tiba-tiba gue terlempar ke memori beberapa hari yang lalu.
Astaga, dia itu si mata sayu. Ah kenapa jadi begini kenalannya.
Nggak ada keren-kerennya sama sekali.
Beberapa menit berlalu, gue dan dia kembali terdiam. Gue masih grogi, salah
mengenali dia yang ternyata….sedikit mirip Deefa. Postur tubuhnya yang tinggi,
betisnya yang jenjang, dan mukanya yang oval. Jika belum sering bertemu,
orang-orang pasti menyangka mereka mirip.
“Eh, gue ulang tahun lo. Mau ngucapin nggak?” Gue tersentak dari lamunan barusan, sekarang sudah jam
sebelas malam dan ulang tahun gue tinggal satu jam lagi.
“Oh jadi beneran ulang tahun?” Dia menatap setengah tidak
percaya, kemudian tersenyum lagi.
“Iya bener, udah jam sebelas loh. Besok-besok aku nggak ulang tahun lagi.” Gue cengengesan
sendiri.
Seketika dia menghela napas, melepas karton dan gunting dan
karton dari genggaman dan menyodorkan tangan ke gue, “Aku Fana, selamat ulang
tahun yaa…”
“Audrey,” gue menjawab cepat. Tak mau dia menunggu.
Dia menjawab tangan gue dengan tulus, “Selamat ulang tahun
Audrey!”
“Oh iya, lo jurusan apa?”
“Biologi!” Jawabnya dengan tersenyum, lesung pipinya juga
ikut tersenyum.
Gue ber-fiuuuh dalam hati.
“Eh, udah jam sebelas ternyata. Aku balik ke kamar dulu ya.
Kamar aku di atas, kapan-kapan main yaa…” Dia membereskan seluruh
barang-barangnya dengan anggun.
Gue mengangguk dengan takzim.
Hmmm Thanks God
telah memberikan hadiah yang spesial hari ini, ucapan selamat darinya. Gue
senyum tiga jari, sekaligus menertawakan betapa bodohnya gue barusan. Salah mengenalinya
dan grogi banget. Tuhan memang selalu punya rencana tentang cinta, kita hanya
perlu menunggu. Gue tersenyum dengan tulus sambil mengusap wajah yang lelah
karena mengantuk. The day had just end
with your smile~








0 comments:
Posting Komentar