Lulus Atau Mati!


Judul tersebut mungkin belum pernah menjadi ide dalam workshop manapun tentang Ujian Nasional ataupun menjadi tema dalam berbagai seminar tentang kelulusan. Tapi ide ini muncul tatkala banyaknya fenomena yang berkembang seputar Ujian Nasional, dan  saat Ujian Nasional menjadi penentu nasib bagi mereka yang duduk di bangku pendidikan.

Tajuk ‘Lulus Atau Mati’ bukan bermaksud untuk menakut-nakuti pelajar seluruhnya, sehingga harus memilih mati apabila tidak lulus Ujian Nasional. Tapi tajuk ini lebih mengarah  pada fakta yang telah terjadi di lapangan seputar efek negatif dan positif dari Ujian Nasional. Bagaimanapun Ujian Nasional adalah harga mati yang tak bisa ditawar bagi seluruh pelajar SD, SMP/MTs, SMA, SMK, dan tingkatan sekolah yang lain. Seluruh pelajar akan menghadapinya, suka atau tidak. Mereka harus menerima bahwa nilai Ujian Nasional sangat menentukan nasib mereka selanjutnya.

Maka marilah kita membahas tajuk ‘Lulus Atau Mati’ secara eksplisit terlebih dahulu. Secara eksplisit, tajuk ini ingin membahas tentang banyaknya kasus yang terjadi dari mereka yang mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional. Mereka yang memiliki mental cetek menjadi gampang down, berpikir pendek, dan melakukan hal yang tak semestinya dilakukan. Contohnya saja mereka yang tiba-tiba pingsan setelah mendengar pengumuman lulus, mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri, atau melakukan aksi extreme yang membahayakan jiwa.

Sedangkan secara implisit, tajuk ini mengacu pada dua pilihan. Antara lulus atau mati. Jika lulus, berarti bisa menjalani hidup dengan normal dan biasa, tapi jika tidak, berarti harus memilih mati. Mati di sini bukan berarti mengakhiri hidup seperti yang ditawarkan di atas, tapi harus memilih hal yang sama menyakitkannya dengan mati. Seperti misalnya mengikuti Ujian Paket C, atau mengulang setahun lagi.

Sebenarnya Ujian Nasional adalah hal yang biasa, ujian yang biasa. Tapi paradigma yang berkembang di tubuh masyarakat Indonesia adalah sebaliknya. Seolah–olah ujian yang hanya beberapa hari itu adalah hal yang begitu penting—menentukan hidup dan mati. Paradigma ini membuat sebagian besar kita enggan untuk gagal, kita harus berhasil.

Sebenarnya ada dua kecenderungan yang dilakukan seseorang saat dia berhasil atau malah gagal. Saat ia merasa dirinya telah mencapat titik keberhasilan, ia akan mengapresiasi diri setinggi-tingginya, lupa daratan pula. Tapi saat ia berada di titik terendah yakni kegagalan, ia akan jatuh sedalam-dalamnya ke dalam jurang keterpurukan. Inilah mengapa kita disebut sebagai seseorang yang hanya mempersiapkan pesta kemenangan, tapi tak pernah menyiapkan diri saat mengalami kegagalan. Sehingga jiwa-jiwa yang lemah akan merasa segalanya telah berakhir.

Ini baru dari satu sudut pandang—bagi pelajar yang tidak lulus. Lantas bagaimana dengan sekolah mewah yang memiliki siswa dan siswi berkualitas? Sekolah yang mempunyai segudang fasilitas belajar, otak-otak encer yang sangat gampang mencerna tiap butir pelajaran yang diberikan. Mereka yang memiliki kemampuan lebih seperti di atas tak lagi memikirkan hal-hal seperti ‘kelulusan.’ Tak lagi ada dalam benak mereka, “Aku lulus tidak ya?” Pikiran mereka mengarah pada hal lebih, seperti misalnya, “Apakah aku bisa masuk ke sekolah itu?”

Sekolah-sekolah yang memiliki siswa-siswi yang brilian tak perlu lagi mengkhawatirkan standar kelulusan, karena mereka yakin murid didikan mereka pasti bisa melewatinya. Bahkan mencari standar yang lebih tinggi, atau malah mengincar nilai sempurna. Tak urung mereka mendapatkannya dengan perjuangan internal dari dalam diri mereka dan eksternal dari lingkungan dan sekolah mereka.

Maka dua hal ini selalu seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Antara mereka yang dengan entengnya memperoleh predikat lulus, dan mereka yang harus jungkir balik memikirkan kelulusan mereka.

Kembali ke topik awal, sebenarnya Ujian Nasional pun bukanlah hal pelik yang harus mengerutkan dahi dan menyakitkan kepala. Ini adalah hal yang biasa. Yang perlu dibenahi adalah paradigma kita sebagai pelajar dan masyarakat. Bahwa Ujian Nasional bukanlah sebuah pilihan antara Lulus atau Mati. Melainkan sebuah konsekuensi yang harus diterima dari hubungan sebab akibat yang telah kita perbuat.

Untuk itu, marilah kita cermati kata-kata dari Thomas Alva Edison berikut ini, “Bahwa kesuksesan adalah buah dari 1 % bakat dan 99 % kerja keras.” Hal ini juga berlaku dalam Ujian Nasional. Bahwa keberhasilan yang dipetik adalah buah dari kerja keras yang ditanam selama ini. Maka dari itu, yang diperlukan adalah sebuah pembiasaan. Jangan pernah takut membentur kegagalan, takut adalah kegagalan yang sesungguhnya. “Lulus atau Mati?”

0 comments:

Posting Komentar

Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy