Novel Bab 2


Dua


Masih di Gerbang Tol Cileunyi.
Kalau ingat kejadian belajar mati-matian pas SNMPTN kemaren, hampir gila kalau nggak lulus, dihina-hina karena berani bermimpi, mungkin gue cuma bisa senyum-senyum sendiri sekarang. Dari keajaiban lulusnya gue di Unpad, bukan cuma gue yang belajar, tapi semuanya belajar banyak banget. Ayah dan Ibu yang belajar bahwa ternyata bakat anaknya bukan di bidang kesehatan. Abang yang belajar buat pisah sama adeknya yang super nyebelin ini. Juga teman-teman gue yang belajar untuk tidak takut lagi bermimpi.
Tapi semua mimpi itu tidak ada apa-apanya jika tak ada pemantiknya. Salah satu pemantiknya ya, Andin.

….
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I’m not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, “If you see this girl, can you tell her where I am?”

Some try to hand me money, they don’t understand
I’m not broke - I’m just a broken - hearted man
I know it makes no sense but what else can I do?
How can I move on when I’m still in love with you?
       The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script mengalun pelan dari ipod yang terpasang di telinga gue. Karena bosan dengan macet, gue menyetel ipod dan mengalunlah lagu tersebut. Tunggu dulu? Kenapa galau sih? Ini kan hari penting buat gue. Hmmm, gue menekan tombol off untuk mematikan ipod, selain karena sekarang udah sampai di Fikom Unpad.
Unpad hari itu terlihat ramai. Berbagai fakultas dipenuhi oleh kendaraan dengan berbagai plat nomor. Ada yang berplat B (itu gue), D juga banyak, ada F juga, tapi nggak ada BA. Ye lah siapa pula yang mau rempong bawa mobil dari Padang.
Kami masuk dari gerbang BNI yang artinya masuk dari gerbang atas. Bangunan pertama yang nongol adalah Asrama Padjadjaran, selanjutnya adalah Rektorat, Bale santika, dan…tunggu dulu. Fikom dimana ya? Seisi mobil udah lihat kiri kanan, tapi nggak ada Fikom apa lagi pohon cemara. Maka, kita memutuskan bertanya kepada cleaning service yang ada di sekitar sana.
“A mau nanya, pitkom teh dimana yah?”
Gue yang sebel berusaha membenarkan,
“Fikom A, bukan pitkom,” ujar gue sambil menyeringai ke Om yang salah sebut. Udah capek-capek belajar buat lulus di sini, malah salah sebut.
Si Aa cleaning service menjawab dengan super ramah, “Oh tinggal lurus aja A, nanti ada gerbangnya.”
“Hatur nuhun, A.” Kami melemparkan senyum ke si Aa cleaning service dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian kami sampai di Fikom. Itulah pertama kalinya gue melihat Fikom, bahkan ketika memutuskan untuk mengambilnya pada pilihan pertama SNMPTN, gue nggak tahu bentuknya kayak apa. Om memarkir mobil di dekat gerbang, sedang gue serta ayah dan ibu segera turun untuk mengikuti jalannya acara.

It’s a place I’ve never been
And it comes from deep within
And it’s telling me that I’m about to win first prize

Sedikit potongan dari Spanish Eyes-nya Backstreet Boys gue alunkan dengan penuh penghayatan dengan suara agak lemah biar tak terdengar oleh orang lain. Lagu ini yang kebanyakan memberi semangat buat gue biar bisa sampai ke tempat ini. Sambil bosan mendengar dosen yang memberi sambutan ini itu, gue (yang udah telat setengah jam) sempat-sempatin nyanyi buat ngobatin rasa bosan. Gue duduk di baris tengah, sama ayah dan Ibu. Fikom benar-benar ramai, untung masih dapat tempat duduk.
Open House ini kebanyakan berisi tentang pengenalan mengenai Fikom, jurusan-jurusannya, ospek, dan tanggal-tanggal penting untuk dihadiri siswa. Gue sih santai saja, semua yang disampaikan juga sudah ada di web. Setelah pidato kira-kira satu jam, para dosen memberikan kesempatan pada orang tua untuk bertanya. Ah sepertinya ini dalih untuk menenangkan suasana yang mulai tak kondusif. Undangan semakin ramai, kursi yang disediakan tidak lagi cukup untuk menampung masa (?) Maklum, Mahasiswa Baru (Maba) Fikom ada 900-an, sudah termasuk S1 ilkom, S1 Ilmu Perpustakaan, dan seluruh D3. Jadi nggak heran kalau lautan manusia tumpah ruah di Fikom hari ini.
Pertanyaannya banyak banget. Mulai dari pertanyaan serius kayak, “Tanggal berapa ospek dimulai?” sampai pertanyaan nggak penting kayak, “Berapa orang alumni Fikom yang jadi artis?” Gue cuma bisa siul-siul aja mendengar pertanyaan yang dibumbui banyak curcol dari para orang tua tersebut. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat gue tertarik,
“Selamat siang, Pak, saya orang tua dari Cut Mutia. Anak saya ini, yang sudah jelas dari namanya, berasal jauh sekali dari Aceh sana. Nah pertanyaan saya, apakah Unpad menyediakan sarana seperti asrama untuk anak-anak kami yang jauh ini?”
“Kampus kita ini memang menyediakan asrama, namun asrama ini hanya diperuntukkan bagi yang tidak mampu. Dan asramanya sendiri sudah penuh oleh para pendaftar.”
Gue menghela napas, kecewa. Salah satunya, ayah berharap gue bisa tinggal di asrama sehingga akses ke kampus mudah. Selain itu, di asrama pasti aman dan terjaga. Tapi ternyata penuh, mungkin alam ingin membawa gue ke suasana lain bernama kos-kosan.
***
And here they are, setelah teleponan sama teman, nanyain kosannya dimana, gue memutuskan untuk ke sana. Mau ngekos bareng teman satu SMA ceritanya, atau paling banter sama senior yang dulunya juga satu SMA.
“Oh jadi Gang Mawar itu dimana, Ta?” Tata menjawab telepon gue sambil ngedumel. Ini udah ketiga kalinya gue telepon dia sejak selesai Open House tadi. Cuma buat memastikan tempat.
“Gang Mawar itu di belakang Koramil, Drey…” Ia menjawab dengan sabar, meskipun gue tahu dia lagi kesel.
“Oh oke, Pondok Wira ya?”
“Iya…” kata-kata terakhirnya menggantung, entah apa maksudnya.
Gue menutup telepon setelah bilang terima kasih dan sedikit nyengir. Entah apa pula maksudnya!
Setelah menelusuri jalanan Jatinangor yang kebetulan siang itu panas banget, setelah tabrak sana sini sesama Maba yang kebetulan menghalangi jalan, setelah nanya dengan bahasa Sunda yang pas-pasan ke warga sekitar, gue dianterin sama Calo ke tempat kos Tata tadi.
“Tata…tataaa! Maiiin yuuuk,” tentu saja gue nggak bilang itu!
“Eh Audrey, sayang banget kosannya udah penuh. Lo datengnya kelamaan sih…”
Gue cuma melongo mendengar kalimatnya barusan. Sementara gue sibuk mengheningkan cipta begitu, beberapa teman satu alumni SMA datang menyalami ayah dan ibu. Tata juga ikut menyalami keduanya, sementara gue dibiarin bengong sendirian. Tak sadar beberapa lalat terbang di atas kepala gue.
“Ngekos di sebelah aja, Drey. Kayaknya masih kosong.” Teman-teman yang lain berusaha memberi solusi. Oke, gue langsung balik kanan aja dan melihat-lihat kosan sebelah. Sementara kini Tata yang bengong, entah apa maksudnya.
Rumahnya tidak begitu bagus untuk disebut rumah kos, tapi juga tak begitu jelek untuk ditinggali. Suasana padat gang-gang sempit, atap yang hampir bertabrakan, membuat cahaya matahari enggan masuk ke ruang tamu di lantai bawah. Sebuah sofa kumal terletak di depan kamar nomor dua, dan di depannya ada sebuah televisi untuk bersama.
Gue lagi melihat-lihat kamar nomor satu. Kok ya rasanya nggak pas, padahal ini fasilitasnya paling lengkap. Lalu, tanpa mengindahkan gue, si Om sudah menarik lengan gue ke kamar nomor dua.
“Ini nih, lebih luas. Udah ya di sini aja…”
“….hmmm”
“Ini harganya berapa, Bu?”
Belum sempat gue mengucapkan kata apa pun, si Om sudah nanya ke ibu penjaga kosan. Dan setelah harganya sesuai, barulah mereka menanyai pendapat gue.
“Gimana, Drey? Enak ga?”
Gue yang pengalamannya masih nol mengenai kos-kosan di Jatinangor dan sekitarnya pun cuma cengengesan tanda setuju. “Hehe iya, aku setuju aja…”
“Oh yaudah kalo gitu.” Wajah-wajah lega terlihat dari mereka semua. Selanjutnya yang terjadi adalah drama melankolis dari keluarga untuk menitipkan gue ke si ibu penjaga. Gue cuma bisa cengengesan. Nggak tahu harus bertingkah seperti apa lagi. Sementara itu pandangan gue jatuh ke seorang cewek yang duduk di sofa depan kamar dua, calon kamar gue.
Keluarganya yang menyadari gue memandangi anaknya kemudian berkata, “Kamu mau menculik anak saya ya?” Tentunya nggak!
“Mau ngekos di sini juga ya? Sok atuh kenalan.“ Wajah-wajah ramah orang Sunda jelas terpancar pada raut muka mereka. Gue langsung menyodorkan tangan dan lagi-lagi cengengesan Kayaknya hari itu harus dijadikan ‘Day of Cengengesan’ dan masuk RPUL sebagai hari penting di dunia.
“Audrey.”
Tangannya menjabat gue dengan kaku, diselingi muka datar dia bilang, “Naya.”
Senyum cengengesan dan muka sumringah gue hilang seketika.
“Oh ya, dari mana asalnya?” Gue nanya, tapi yang jawab keluarganya.
“Dari Cirebon,” dengan muka yang tak kalah ramah, seorang lelaki yang gue sinyalir adalah sepupunya menjawab.
“Kalau saya dari Padang,” gue menjelaskan dan dia hanya tersenyum, seperti ingin bilang, “Gue nggak nanya koook!”
Setelah semua urusan di kosan baru itu selesai, Om mengajak gue, ayah, dan ibu untuk makan siang di Bandung. Setelah itu mungkin kami akan menuju Depok, ke tempat sepupu gue. Setelah sesi Open House dan daftar ulang selesai, gue akan tinggal sementara di Depok sambil menunggu masa ospek. Setelah pamit ke ibu kos dan ke keluarganya Naya dengan sikap cool, kami sekeluarga pun pergi.
***
“Ada yang pernah dengar teori motivasinya McClelland di buku The Achieving Society? Nah, gue adalah penganut teori satu ini. Gue lebih mengutamakan Needs of Affiliation (N-AFF) sih, meskipun banyak yang bilang kalau gue itu N-GAL banget, alias Needs of Galauliness. Nggak! Nggak ada yang namanya N-GAL! Oke gue jelasin, menurut McClelland, manusia itu memiliki tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Salah dua dari tiga kebutuhan itu adalah Needs of Affiliation (N-AFF), Needs of Achievement (N-ACH), dan Needs of Power (N-POW). Gini sederhananya, orang yang mengusung N-ACH dalam hidupnya akan memiliki motivasi untuk berprestasi. Karena itu mereka akan berusaha mencapai prestasi tertingginya. Yang kedua, Needs of Affiliation, orang-orang ini memiliki hasrat untuk berhubungan secara akrab dengan orang lain. Mereka biasanya kooperatif dan sikap persahabatannya tinggi. Yang ketiga, Needs of Power. Maksudnya adalah motivasi terhadap kekuasaan. Biasanya orang N-POW sangat membutuhkan penghargaan dan aktualisasi diri.”
Gue lagi membenarkan kunciran rambut pagi ini. Beberapa hari lagi masa ospek dimulai. Mau nggak mau gue harus balik ke Nangor, sekalian beresin kosan, dan ngerjain tugas ospek yang…engga masuk akal. Gue sengaja menyetel mp3 agak keras untuk menemukan playlist yang cocok buat ngasih semangat. Awalnya yang mengalun adalah suara khas Adam Levine dari lagu She Will Be Loved. Tapi karena lagi nggak pengen galau, gue menekan tombol next sehingga terdengarlah ceramahnya Abang tentang teori Motivasi McClelland. Gue langsung mual! *brb ambil kantong muntah.
Abang emang suka aneh-aneh, baca buku terus merekam hal-hal yang penting dari buku tersebut. Salah satunya teori McClelland ini. Sialnya adalah gue pernah ngirim lagu dari hp dia, yang sebagian besar isinya adalah rekaman suara dia sendiri. Jadilah kebanyakan gue mendengarkan pidato-pidato motivasi darinya.
Gue melihat lagi barang-barang yang akan dibawa. Dua koper, empat kardus, sepatu, sandal, dan barang-barang lainnya. Sementara itu, kalau dengerin pidatonya abang tentang N-ACH, N-AFF, atau N-POW, gue jadi ingat bahwa dia itu mendeskripsikan gue sebagai N-AFF sejati, tapi tetap N-ACH. Menurutnya, gue itu orang yang nggak bisa sehari aja nggak ketemu teman. Tapi tetap mati-matian mengejar prestasi. Sedangkan dia sendiri? N-GAL, Needs of Galauliness, orang yang sehari aja nggak bisa nggak galau.
Hmmm setelah membereskan semuanya, gue pun siap berangkat ke Jatinangor dengan diantar oleh om dan ayah. Dari Depok kami berangkat menuju puncak. Lumayan sih, melihat yang hijau-hijau sebelum menghadapi kertas yang hijau-hijau juga. Maksudnya ya tugas ospek Fikom yang didominasi oleh warna hijau dan kuning. Perlambangan dari bendera Fikom sendiri. Maka di dalam otak gue saat ini terpampang peralatan yang harus dibuat beserta bahan-bahannya. Ini nih yang harus gue siapin sebelum ospek,

perlengkapan transformasi tanggal 2 agustus


Menggunakan kertas Sakura HIJAU no. 8 dan KUNING no. 14

Kursi Kunci
Dasar Hijau :
Diameter lubangkunci= 50 cm
Tinggi kursi kunci = 65 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 40 cm

Kuning :
Diameter kunci = 20 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 10 cm
Tinggi kunci = 50 cm
Tinggi gagang kunci = 20 cm
Lebar gagang kunci = 6 cm
Panjang sisi gerigi = 2,5 cm
Lebar sisi gerigi = 2,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 11 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 5 cm
Tinggi lubang kunci= 7 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci = 5 cm
Jarak per lubang kunci = 12 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 4 cm

Jarak per garis pada kunci = 0,5 cm.

WAJIB DISAMPUL PLASTIK.
Diberi :Nama, NPM, jurusan.



Nametag Tas (dibuat 2 buah)
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 20 cm
Tinggi kursi kunci = 25 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 15 cm

Kuning :
Diameter kunci luar = 12 cm
Diameter lingkaran dalam kunci = 8 cm
Tinggi kunci = 20 cm
Tinggi gagang kunci = 8 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,5 cm
Lebar sisi gerigi = 0,5 cm
Panjang kunci bagian bawah = 5 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci = 1,5 cm
Tinggi lubang kunci= 2 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5 cm
Jarak per lubang kunci = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 1,5 cm

Jarak pergaris pada kunci = 0,2 cm.

WAJIB DILAMINATING.
Diberi : Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 3x4.



Nametag Badan
Dasar Hijau :
Diameter lubang kunci= 15 cm
Tinggi kursi kunci = 20 cm
Panjang segitiga bawah kursi kunci = 10 cm

Kuning :
Diameter kunci luar = 10 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 5 cm
Tinggi kunci = 16 cm
Tinggi gagang kunci = 6 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,3 cm
Lebar sisi gerigi = 0,3 cm
Panjang kunci bagian bawah = 3 cm

Lubang Kunci Kecil (4 buah) :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1 cm
Jarak per lubang kunci= 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 0,5 cm

Jarak per garis pada kunci = 0,2 cm.
WAJIB DILAMINATING.
Diberi Nama, NPM, jurusan, asal sekolah, pas foto 2x3.


Buku Fikom
Dasar Hijau :
Lima lembar kertas A4 dilipat dua.

Kunci :
Diameter kunci luar = 8 cm
Diameter lingkaran dalam kunci= 6 cm
Tinggi kunci = 12 cm
Tinggi gagang kunci = 4 cm
Lebar gagang kunci = 2 cm
Panjang sisi gerigi = 0,2 cm
Lebar sisi gerigi = 0,2 cm
Panjang kunci bagian bawah = 2,5 cm

Lubang Kunci Kecil :
Diameter lubang kunci= 1 cm
Tinggi lubang kunci= 1,5 cm
Panjang segitiga bawah lubang kunci= 1,5 cm
Jarak per lubang = 4 cm
Jarak dari lubang kunci kecil ke kunci = 1 cm
Jarak garis pada kunci = 0,2 cm.
Diberi :Pas foto 4x6.


Tas Serut
Bahan: kain sarung bantal putih (if you know what I mean!)
Panjang: 30 cm
Tinggi: 50 cm
Diberi tali sumbu kompor (?), panjang disesuaikan.




Oh iya, kita menyebut Ospek dengan nama Transformasi. Katanya sih itu akronim dari Tahapan Regenerasi dan Orientasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi sebenarnya ini orientasi apa ngerjain sih? Dan daripada bingung mikirin tugas yang…nggak masuk akal tersebut, sebaiknya kita menikmati udara puncak, dengan pemandangan…hijau.
Read More … Novel Bab 2

Novel Bab 1


Satu


Bandung, Juli 2011
Cerita ini nggak akan dimulai dengan kisah seorang remaja ABG yang bangun telat terus berusaha menggapai-gapai waker-nya dengan mata masih merem. Nggak kok, bukan juga dengan adegan seorang cewek yang lagi asik baca buku terus bukunya jatuh karena nabrak mas-mas ganteng karena nggak lihat jalan. Bukan juga. Cerita ini justru bermula di sini, di Km 153 Gerbang Tol Cileunyi, dengan antrean macet parah dan mobil yang sudah seperti semut saking banyaknya, hitam semua lagi.
“Ini tuh harusnya sudah sampai…” Gue menggerutu, melongokkan kepala ke luar jendela dan melihat pintu tol yang masih jauh di depan mata. Andai saja pintu kemana sajanya Doraemon atau baling-baling bambunya beneran ada. Pasti gue udah melarikan diri dari sini.
“Sudah, nggak ada gunanya juga marah-marah begitu.” Ayah yang perawakannya sangat bijaksana, tinggi gede (untungnya nggak ijo) kayak Hulk memberikan saran, sekaligus membuyarkan lamunan gue barusan.
Gue melihat ke belakang, nyengir sebentar, terus cemberut lagi.
Ya, faktanya adalah gue sekeluarga, Ayah, Ibu, dan Om yang lagi nyetir akan menghadiri Open House mahasiswa baru Universitas Padjadjaran. Beberapa minggu yang lalu, gue resmi diterima jadi bagian dari Civitas Akademika Unpad, di Fakultas Ilmu Komunikasi.
Ibu bertanya, lagi-lagi membuyarkan lamunan gue, tapi tetap nggak mengubah antrean macet ini. “Acaranya jam berapa, Drey?”
“Jam Sembilan, Bu.”
Fakta kedua, kami yang udah berangkat dari Soreang ke Jatinangor sekitar jam tujuh pagi, belum sampai hingga sekarang karena macet. Gue berpikir, keren banget ya mahasiswa Unpad, baru Open House aja udah bikin macet Cileunyi. Well, let me confess something! Kita nggak berangkat dari Soreang, gue bersama ayah dan ibu udah berangkat beberapa hari yang lalu dari Padang, kota kelahiran gue.
Ada beberapa hal yang perlu gue ceritakan hingga akhirnya sampai ke sini, memutuskan bermacet-macet ria di Cileunyi dan meninggalkan kota kelahiran sendiri.
***
Umur tiga belas, gue tumbuh menjadi remaja yang isengnya nggak ketulungan. Siapapun diisengin, mau waitress kafe, mbak-mbak di toko buku, tetangga, ayah dan ibu, dan satu yang nggak ketinggalan, Andin.
Andin itu sahabat gue, meskipun kita memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, juga kepribadian yang berbeda, kita bisa tetap dekat karena sifat easy going yang masing-masing kita miliki. Andin itu orangnya berbeda, cantik, sopan, juga berasal dari keluarga mapan. Justru gue yang beruntung karena bisa dekat dengan dia. Eh, tunggu dulu, gue bukanlah remaja matre yang senang karena dekat dengan dia. Gue senang karena dia adalah orang yang nggak pernah melihat ‘perbedaan’ itu.
Jadi kerjaan gue tiap malam adalah ngirimin sms nggak penting ke dia. Seperti, “Selamat nomor Anda telah memenangkan undian dari operator kami…” dan seterusnya dan seterusnya. Atau menelepon malam-malam dan bilang gini,
“Maaf, ini dengan saudari Andin?” Gue berusaha professional mengerjai dia dan memberat-beratkan suara.
“Iya, ini dengan siapa ya?” Dari suaranya sih kelihatan bingung.
“Ini kami dari pihak kepolisian telah menemukan teman Anda yang bernama Audrey. Ia tertabrak motor, dan di handphone-nya hanya ada kontak Anda.” Aneh sih sebenernya omongan gue barusan, tapi semoga dia ngerti.
“Seriuuus, Pak? Dia dimana sekarang? Baik-baik, saya segera hubungi orang tuanya.”
“Di Jalan Pemuda Padang.”
Yang terdengar selanjutnya hanyalah suara-suara berisik sebelum telepon dimatikan. Barangkali Andinnya panik atau gimana. Selanjutnya gue nggak bisa menahan tawa ketika Ibu mendapat telepon dari Andin. Ehm, FYI, gue memakai nomor gratisan yang dibagikan SPG di jalan saat pulang sekolah tadi.
“Oh Nak Andin, ada apa ya?” Ibu menjawab telepon dengan ramah seperti biasa.
“Ah masa? Orang dia lagi di kamar baca buku tuh.” Hening sebentar, kemudian Ibu menjawab lagi, setelah menghela napas tentunya.
“Iya serius, orang barusan dia ngambil kentang goreng dari dapur.” Gue emang baru ngambil kentang goreng di dapur, dan habis itu dimarahin. Karena itu buat abang gue, yang lagi sibuk belajar buat UTS.
Hening lagi, kemudian teleponnya ditutup setelah Ibu basa-basi sebentar ke Andin. Gue ngakak lagi sementara Ibu geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya ini.
Esoknya Andin ngambek parah di sekolah. Seharian gue nggak disapa padahal kita duduk sebelahan. Pas ditanya sama teman-teman lain Andin kenapa, gue jawab sekenanya, “Lagi PMS.” Habis itu dia menatap marah ke gue, kalau ini komik, maka matanya seakan mengeluarkan api yang dapat membakar gue hidup-hidup.
Tapi paling habis itu dia cengar-cengir sendiri ke gue, karena gue punya penangkalnya.
“Drey, lihat PR Matematika kemaren dong,”
Gue menggaruk kepala yang tidak gatal, pura-pura bego.
“Loh, bukannya masih marah?”
Dia cuma bisa menyeringa tidak suka, “Dasar ya, pokoknya kamu harus tunjukin PR kemaren atau kalau nggak…”
“Kalau nggak apa?”
“Kamu nggak boleh main ke rumah lagi!”
Muka gue mendadak panik, nggak boleh main ke rumahnya lagi berarti bencana. Nggak bakal ada bola-bola cokelat yang bisa gue habisin, nggak bakal ada komik-komik lucu yang bisa gue pinjem, dan nggak bakalan ada sesi ngeberantakin kamarnya Andin tiap mampir. Ini bahaya!
“Ehmm, iya deh iya…. Sini mana bukunya,”
Andin bersemangat mengambil bukunya, meninggalkan gue yang ngambek dan nangis di kolong meja.
***
Setiap hari selalu begitu, hingga menjelang kenaikan kelas akhirnya dia bilang kalau dia itu jelmaan serigala. Aduh kebanyakan nonton drama korea nih!
“Drey, naik kelas nanti aku bakal pindah,”
“Garing, Din,” gue hanya menyeringai menanggapi obrolan yang kayaknya serius itu.
“Ih, maneh mah kituh! Ini teh seriuusan…..”
Kalau Sundanya udah keluar, berarti ia serius. Aku yang masih bingung cuma menghela napas,
“Pindah kemanaa?”
“Banduung,” bibinya terlihat manyun, dan kecantikannya jelas-jelas berkurang 50%.
Maka sejak hari itu sudah nggak ada lagi sms-sms undian berhadiah, nggak ada lagi telepon dari orang nggak dikenal yang nyasar ke rumah dia, nggak ada lagi yang menghabiskan waktu di rumah dia kayak anak hilang. Semenjak hari itu, gue mulai menjauh. Nggak tahu kenapa, sebelum benar-benar kehilangan orang yang disayang, gue selalu belajar untuk kehilangan terlebih dahulu.
Seminggu sebelum ujian kenaikan kelas saat itu, dan dia memaksa belajar di rumah.
“Drey, besok belajar bareng yuk. Aku ke rumah kamu ya!”
Gue mikir sebentar, dan alasan-alasan nggak masuk akal itu gue keluarkan,
“Rumah aku kemaren kemalingan Din,” dia menatap sinis. Oke, asli, gue emang bukan pembohong professional!
“Rumahnya kemalingan kok dari pagi ketawa-tawa mulu?”
“Ehmmm…si Cumik mati, jadi rumah lagi berduka. Nggak kondusif buat belajar…” Cumik itu kucing kesayangan gue, dan membuat-buat alasan tentang matinya si Cumik adalah bencana besar.
“Loh, perasaan kemaren sore kamu beli makanan kucing pas pulang sekolah.”
Gue menggaruk-garuk kepala yang lagi-lagi tidak gatal. Kalau ini komik, maka sudah ada keringat segede ipad di dahi gue.
“Yaudah, besok datang aja yah…”
Gue meninggalkan Andin yang kemudian bengong.
Dan besoknya Andin emang beneran datang ke rumah. Dan rumah gue nggak kemalingan, nggak kebanjiran, dan si Cumik juga tetap mengeong seperti biasanya. Yang nggak seperti biasanya itu gue, yang tetap diam setelah Andin datang setengah jam yang lalu. Paling ngomong juga pas Andin nanya, selebihnya gue mengheningkan cipta.
“Drey, udah baca Conan yang baru belum?”
“Belum.”
Diam lagi.
Sepuluh menit setelahnya Andin ngomong lagi, “Drey, udah baca Ayat-ayat Cinta belum?” Aslinya gue emang suka baca sih, cuma waktunya saja yang nggak tepat. Akan kehilangan Andin membuat hidup gue keburu hancur sebelum semuanya terjadi.
“Belum,”
Diam lagi.
Sebenarnya nggak enak juga diam-diaman mengheningkan cipta seperti ini. Apalagi dengan teman dekat sendiri. Barangkali dia sudah mau bilang, “Pecahkan saja gelasnya biar ramai!” Tapi semuanya udah basi, karena madingnya sudah terbit.
“Kamu kapan berangkat, Din?” Akhirnya gue melupakan scene AADC tersebut dan kembali ke bumi.
Sekarang Andin yang diam, memainkan ujung pena, melamun sebentar, dan menjawab tanpa menoleh, “Habis terima rapor.”
“Kamu kenapa berubah jadi pendiam gitu sih?”
Gue tersenyum, akhirnya dia nanya. Dan mengalirlah semua pembicaraan itu.
***
“Pak, bisa cepetan dikit nggak?” Gue ngomong ke supir angkot yang akan membawa gue ke Bandara. Ini hari keberangkatan Andin, kemaren dia bilang mau berangkat jam sebelas. Sayangnya gue baru bisa berangkat beberapa menit yang lalu, karena disuruh cuci mobil dulu.
“Ini udah cepat, Dek.”
Si Bapak yang tidak menoleh ke arah gue, tetap mengemudikan angkotnya dengan kecepatan standar. Ia tetap celingak-celinguk kanan kiri melihat penumpang, padahal jalanan kosong, dan gue adalah satu-satunya penumpang.
Hingga lima belas menit berlalu, dan sekarang tepat sebelas kurang seperempat.
“Dek, turun di sini aja ya.” Dia menyuruh gue turun tanpa rasa berdosa.
Nggak sampai bandara, Pak?”
Kening gue terlipat, masih tak habis pikir dengan tindakan si supir.
Nggak…”
Gue terpaksa turun setelah membayar ongkos, dan supirnya langsung putar balik. Setelah bengong sendirian di pinggir jalan, akhirnya gue memutuskan naik ojek sampai bandara.
“Pak, bandara ya, buruan!”
“Eh, Adek mau naik pesawat?” Bapak itu tertawa.
“Pak, nanti saya bayar lebih jika bisa sampai bandara dalam waktu sepuluh menit. Bisa?”
Tawa Bapak itu terhenti. Dia menyerahkan helm, mengangguk mantap.
Gue loncat ke jok belakang, belum juga duduk, motor bebek itu sudah melesat kencang. Gue nyaris terjengkang.
“Pegangan ya Dek, kecepatan penuh.” Bapak itu tertawa.
Gue kira si Bapak adalah penggemar berat Samy Naceri. Seperti dalam film Taxi, bapak tukang ojek berlaga seperti Samy demi mengantarkan penumpang hingga tujuan, bedanya Samy mengendarai taxi, sementara gue naik ojek. Motor bebek itu meliuk-liuk sepanjang jalan, menyalip beberapa mobil sekaligus.
“Pak, sabar pak! Saya belum kawin….” Seharusnya gue nggak mengucapkan itu, karena efeknya sama sekali nggak ada.
“Apaaa Deeek?” Kalian coba ngomong di depan kipas angin, nah kayak gitu suara si bapak tukang ojek, dikalahkan oleh suara angin yang jauh lebih kencang. Gue diam saja, memilih berdoa dalam hati.
 Motor bebek tetap ngebut dan melaju kencang, bahkan barusan nyaris menabrak nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan. Gue nggak mencemaskan nenek-nenek barusan. Yang gue cemaskan adalah bagaimana jika pesawan Andin sudah berangkat? Gue nggak punya banyak waktu jika pesawatnya berangkat tepat waktu.
Sepuluh menit tepat, adegan Taxi yang gagal difilmkan itu pun berakhir. Motor bebek itu masuk ke jalanan bandara dan merapat di lobi keberangkatan. Gue loncat dari atas mtor, menyerahkan helm dan membayar ongkos ojek.
“Ambil saja kembaliannya, Pak!”
Bukannya senang dengan uang yang diterima, si Bapak malah meneriakiku.
“Wooi uangnya kuraaaang??!!”
“Eh?” Aku tidak peduli, tetap berlari hingga pintu keberangkatan, dan meninggalkan Bapak tukang ojek yang kini diteriaki dan dikejar-kejar petugas keamanan Bandara karena belum bayar parkir.
Ternyata pesawatnya belum berangkat. Andin sendiri memutuskan menemui gue di lobi keberangkatan setelah ditelepon. Ah syukurlah, batin gue dalam hati.
Andin kelihatan dari jauh, memakai ham berwarna hitam dipadu dengan jeans gelap. Ia cengengesan dari jauh ketika melihat gue.
“Aku kira kamu nggak jadi dateng.” Ia menepuk bahu gue santai.
Gue menyeringai, setelah melalui beberapa adegan begini, dia bisa serius dikit nggak sih? Kasih pesan terakhir kek, atau ngasih kado perpisahan kek ke gue.
“Kamu ke sini sendirian?” Tuturnya setelah lihat kiri kanan tapi tak menemukan siapapun bersama gue.
“Engga, tadi sama tukang ojek. Oh iya berangkat jam berapa?” Dia tertawa.
“Ini nih sebentar lagi, oh iya ini aku punya buku buat kamu.” Kemudian ia terlihat merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Sang Pemimpi?” Dahiku terlipat, ngapain gue dikasih buku beginian.
Dahi Andin juga terlipat, “Ya iyalah itu karakternya sesuai sama kamu!”
“Eh makasih ya,” gue tersenyum sumringah.
Panggilan keberangkatan untuk penumpang yang akan ke Jakarta terdengar kembali. Andin masuk kembali ke ruang tunggu keberangkatan setelah mengucapkan beberapa kata lagi dan memeluk gue. Itulah terakhir kalinya kami bertemu, setelah mata gue melihat punggungnya hilang dari balik ruang tunggu keberangkatan.
***
Janji tetaplah janji. Janji untuk bertemu kembali setelah perpisahan itu usai juga tetap sebuah janji. Novel yang dikasih Andin banyak menginspirasi gue untuk tetap menjadi anak jahil yang punya mimpi. Gue tetap membalas sms pacar Abang dengan gombalan nggak penting saat Abang lagi keluar. Mandiin si Cumik sama air bekas cucian. Ngejatuhin buku satu rak di toko buku tanpa beli sama sekali. Ngerepotin waitress restoran tanpa malu. Apa lagi ya? Tapi yang jelas gue tetap bermimpi, mimpi buat ketemu sama Andin suatu hari nanti.
Seperti kata Donny Dhirgantoro dalam buku Best Seller-nya ‘5 cm’, “Yang bisa dilakukan makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpinya hanyalah mempercayainya.” Maka gue percaya bahwa gue dan Andin akan bertemu suatu hari nanti. Dan apapun yang bisa membuat mimpi itu terwujud, akan gue lakukan. Termasuk belajar mati-matian dan gila-gilaan pas SNMPTN.
Sebenarnya sederhana sih, berawal dari hobi gue nulis cerita komedi, menuliskan kegilaan gue di blog, gue rasa gue punya bakat di bidang tulis menulis. Maka, termasuk gila jika gue mengambil keputusan untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS pas SNMPTN. Kalau filosofisnya, gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan dan bakat gue yang udah dikasih Tuhan di bidang ini. Selain itu gue nggak mau nyesel pas lagi sekarat nanti dan bilang, “Kenapa dulu gue nggak ambil keputusan itu?”
Itu secara filosofisnya. Tapi kalau secara simpelnya, gue nggak ngambil IPA pas SNMPTN karena gue nggak tahu mau jawab apa di Fisika, dan kalau IPC, gue nggak mau ribet mempelajari Sejarah dan Biologi sekaligus.

Maka keputusan itu bulat gue ambil, SNMPTN IPS! Ayah dan Ibu cuma bisa mendukung, Abang cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adeknya yang keras kepala begini. Padahal itu nggak jauh beda sama dia udah capek-capek kuliah teknik, malah terjun ke dunia accounting. Dan yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tadi cuma dua, nekat dan rajin. Nekat ngambil keputusan ini dan rajin belajar buat merealisasikan semua mimpi itu. 
Read More … Novel Bab 1

Prolog Novel

Jakarta, Januari 2011
Keseluruhan ruangan ini berwarna putih, termasuk ornamen-ornamennya. Lihatlah, sprei, bantal, selimut, semua berwarna putih. Mungkin yang berbeda hanyalah gorden, sofa, dan karpet. Beberapa orang yang tak kukenali tertidur di sofa. Mungkin mereka letih, entahlah. Ada wanita paruh baya berwajah keibuan dan seorang perempuan muda usia 30-an yang terlelap di sofa cokelat itu. Sementara itu, di sebelahku termenung seorang lelaki muda. Dari perawakannya, ia terlihat lebih muda dariku. Rambutnya yang tidak terlalu panjang terlihat berantakan, sesuai dengan mukanya yang kusut, dan kantung matanya yang membesar. Barangkali ia kurang istirahat. Aku menolehkan kepala ke arahnya. Dan seperti kaget akan sesuatu, ia terlonjak dari tempat duduknya dan berteriak-teriak, “Maa, Mas Alwin sudah sadar!”
Baiklah, ini siuman keduaku. Setelah yang pertama di tempat entah berantah itu. Tubuhku remuk, luka menganga di tangan dan juga kaki. Seperti jatuh dan terseret dari ketinggian 500 meter. Berteriak minta tolong? Percuma. Suaraku tertahan di tenggorokan. Kalaupun aku mencoba berteriak, yang keluar hanyalah rintihan kecil yang jangankan didengar manusia, tikus bawah tanah pun mungkin tidak mendengarnya.
Punggungku sakit, dan kakiku tak bisa digerakan. Selebihnya, pemandangan sekitar terlihat menyeramkan. Mayat bergelimpangan dimana-mana, pohon besar yang menutupi cahaya matahari, tanah lembab bercampur dengan daun busuk  dan ranting pohon, dan bangkai pesawat. Sementara itu aku menyadari perubahan yang aneh pada tubuhku. Hei, mana rambut panjangku? Tanganku yang luka di sana-sini berusaha mengelus-elus rambut pendek yang cepak itu. Ini siapa? Kini aku meraba wajah dan sekitaran leher. Ada apa ini? Mengapa ada yang menonjol di leherku? Dan...mana tahi lalat di pipi sebelah kiriku?
***
Suara terakhir yang kudengar adalah bisik cemas dari pramugari yang cantik itu, “Bagaimana jika pesawat ini jatuh? Bagaimana jika kita tidak selamat?” Dari suaranya, ia sepertinya cemas sekali.
“Kau tenanglah, yakin saja pada Kapten Hadi, dan jangan lupa berdoa.” Pramugari lain terlihat menenangkan temannya sembari menepuk-nepuk bahunya. Yang ditenangkan kemudian mengeluarkan senyum yang dipaksakan.
Sementara itu aku sudah siap dengan pelampung lengkap terpasang di tubuh. Komando terakhir dari Pilot adalah kemungkinan terburuk bahwa kita akan mendarat di laut. Aku berusaha menenangkan diri di bangku ketiga dari belakang, sementara teman di sebelahku terlihat gugup sembari melihat keluar jendela. Hujan deras dan cuaca buruk, itulah yang menyebabkan pesawat ini mengalami gangguan. Selain itu, menurut komando dari Pilot, mereka mengalami kerusakan pada alat bantu navigasi Inertial Reference System (IRC). Aku tak mengerti mesin dan dirgantara. Yang bisa kulakukan saat ini adalah berdoa dan menenangkan teman di sebelahku.
“Gi, lo ga apa-apa kan?” Aku melihatnya yang sedari tadi tak melepaskan pandangan dari jendela pesawat. Mungkin takut tiba-tiba pesawat ini jatuh atau kemungkinan buruk lainnya.
Ia menoleh dengan muka pucat, “Gue ga apa-apa, cuma sedikit mual aja.”
Aku tak yakin dengan ucapan ‘tak apa-apa’ itu. Pasti ada apa-apanya, hanya saja aku malas menyelidik. Sementara guncangan pesawat kembali terasa.
Suara pramugari itu kembali terdengar, bilang ada cuaca buruk dan berharap agar penumpang tetap siaga. Sia-sia, belum sampai lima menit, guncangan keras itu kembali terjadi. Kini terasa lebih keras. Seluruh penumpang panik, termasuk aku dan Gia. Tangannya sudah mencengkram lenganku, pertanda ia ketakutan. Sementara itu penumpang lain ada yang komat-kamit berdoa, memeluk anaknya, atau memicingkan mata. Aku sendiri bertumpu pada pegangan tangan di kursi pesawat. Keringat dingih menetes di dahi. Tak pernah terbayangkan akan mengalami kejadian seperti ini.
“Tuhaaan, selamatkan kami! Tolong selamaatkan kamiii….”
***
Lamunanku buyar. Lelaki muda di sampingku tadi kembali memanggil wanita paruh baya dan perempuan muda itu. Wanit paruh baya itu kelihatan kaget, lantas mengucek mata sebentar, lalu berlari ke arah tempat tidurku. Sementara gadis muda itu mengusap wajahnya setelah bangun, terlihat menggumamkan sesuatu, lalu tersenyum sambil berlari ke arahku. Kini mereka bertiga sempurna berdiri melihatku.
Ibu tua itu berujar pelan, “Alwin, kau sudah sadar?” Rona bahagia jelas terpancar di wajahnya, seperti mendapatkan sesuatu yang lama diinginkan.
“Alwin siapa?” Aku bergumam pelan, bingung dengan nama yang baru saja mereka sebutkan.
“Iya, Mas Alwin sekarang sudah sadar.” Lelaki muda itu kini cengengesan di hadapanku sambil memegangi meremas tanganku.
“Syukurlah, Dika, tolong panggilkan dokter.”
Wanita muda itu menyuruh lelaki muda yang ternyata bernama Dika memanggil dokter. Sementara aku masih berpikir, Alwin, siapa pula itu? Mana Gia? Apakah dia baik-baik saja?
Namun sebelum sempat mengucapkan apa-apa lagi, Dokter bersama perawat telah siap memeriksa keadaanku.
Read More … Prolog Novel

Berhenti Berharap dan Merendahkan Orang Lain


Cinta. Apakah cinta adalah sebuah kebutuhan? Sepertinya iya, mencintai dan dicintai seperti sebuah kesatuan struktural dan fungsional untuk menjaga suatu keutuhan fungsi dari hati. Mengapa demikian? Tentu saja karena hati membutuhkan asupan gizi yang dinamakan kebahagiaan. Munafik jika ada orang yang tak butuh bahagia. Kejam sekalikah dengan kata ‘munafik’? Sebenarnya bukan munafik, tetapi pemikiran yang suangguh aneh.

Mencintai? Definisinya menurut kamus entah berantah, “Mencoba memberikan suatu perasaan tanpa mengharapkan feed back untuk rasa itu.” Feed back? Terkadang mengharapkan feed back terlalu besar membuat seseorang itu kecewa, karena yang diharapkan tak kunjung memberi apa yang diingini. Feed back bisa dibilang sebagai suatu balasan, balasan perasaan lebih tepatnya. Tetapi seperti yang diutarakan di atas tadi, bukan cinta namanya jika mengharapkan feed back. Lantas, apakah kita bisa mencintai tanpa merasa dicintai? Tidak, perasaan itu akan timpang. Tapi percayalah, terlalu banyak orang-orang yang mengasihi kita tanpa kita sadari, dan sesungguhnya mereka juga mengharapkan feed back dari kita walaupun cuma sedikit saja.

Masih ingat dengan hukum Newton yang menyatakan tentang Gaya Aksi Reaksi? Percayalah bahwa F Aksi = -F Reaksi. Setiap gaya yang diberikan pada benda pasti mendapat balasan dari benda itu. Termasuk juga hati manusia, karena manusia lebih daripada benda mati yang hanya bisa memberi reaksi. Reaksi dari hati manusia bisa berlipat ganda, mungkin saja tidak ditunjukkan secara langsung. Makna filosofisnya, gaya—sekecil apapun yang kita berikan pada suatu benda—pasti akan mendapat reaksi. Begitu pula halnya manusia—sekecil apapun perasaan yang kita berikan pada seseorang—pasti akan mendapat balasan. Hanya saja balasan yang kita dapatkan belum sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Karena itu, kita hanya butuh sabar! Dan menunggu!

Berhentilah berharap pada orang lain yang mungkin belum bisa memberi feed back sesuai kadar yang kita ingini, berharaplah hanya pada Tuhan. Yakinlah Tuhan melihat setiap perbuatan baik yang kita lakukan, cepat atau lambat kita akan mendapat balasan, tentunya sesuai kadar pekerjaan kita. Sangat banyak orang-orang yang jatuh karena kekecewaan, mungkin karena mereka tidak mendapat feed back tadi? Begini, sebenarnya manusia itu banyak tipikalnya. Tak selamanya hukum Newton III tadi berlaku. Apalagi di dunia nyata, masih banyak orang-orang yang tidak mempedulikan cinta yang datang pada mereka. Maka pada orang-orang tersebut, efek Hukum Newton III agak sukar bereaksi. Tetapi cuma waktu yang bisa menjawabnya. Teruslah berikhtiar dan berdoa.

Sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita terkadang menjadi kesalahan. Percaya? Tidak semua orang yang kita cintai bisa kita terima baik dan buruknya. Lantas apakah kita akan mempermasalahkan keburukan orang lain? Sementara di dunia ini tak ada yang sempurna, yang ada hanya menutupi ketidak sempurnaan. Bukankah mencintai itu apa adanya?

Berhentilah berharap dan merendahkan orang lain. Terima semuanya dengan lapang dada, niscaya kita bisa berdamai dengan keadaan. (Irma Garnesia, SMAN 1 Padang)
Read More … Berhenti Berharap dan Merendahkan Orang Lain

Apakah Ini Man Shabara Zhafira?

Masihkah ingatkah engkau dengan mantra Man Shabara Zhafira? Aku jadi tiba-tiba berpikir ingin menuliskan ini. Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu di tengah perjuangan panjang ini. Apakah belajar keras untuk ujian semester kedua ini bisa dibilang sebagai perjuangan panjang? Baik, mari kita mulai cerita ini secara kronologis.

Entah kenapa beberapa hari, minggu, dan mungkin bulan ini siswa-siswi di kota Padang dan sekitarnya disibukkan dengan persiapan ujian semester kedua. Bahkan persiapanku sendiri boleh dibilang minim. Tahu kenapa? Baiklah beberapa hal membuatku stress. Apakah itu? Tentu saja tugas. Saat pulang ke rumah aku sudah ditimpuki oleh tugas yang menggunung itu. Sebut saja misalnya LKS Kimia, LKS Bahasa Inggris, Hapalan ayat Al-Quran, 300 berita Internasional, LKS PKN, tugas analisis drama, soal Bahasa Indonesia, Tajuk Rencana Bahasa Indonesia, komposisi bidang kesenian, dan masih banyak lagi. aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba tugas itu jadi sebanyak itu, apa karena tidak dikerjakan, entahlah.

Tapi yang jelas akhir-akhir ini alias waktu itu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Tidur jam sebelas malam dan harus bangun jam empat pagi. Paling tidak aku mengulang pelajaran yang sulit. Banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk ujian ini, apalagi persiapan itu untuk menutupi nilaiku yang biasa-biasa saja semester lalu.

Tetapi itulah kawan. Kelihatannya aku belum beruntung. Buktinya aku tidak bisa berkutik di ujian Fisika. Tak masalah rasanya karena aku memang tak banyak belajar Fisika. walaupun sudah banyak libur yang disediakan, bahkan aku sudah mem-photocopy buku Bob Foster milik temanku. Tetapi tiba-tiba saja di tengah liburan yang suntuk itu, aku juga suntuk belajar. Setelah menyelesaikan setumpuk tugas di atas, aku merasa sangat mumet belajar. Meskipun buku Fisika sudah di depanku dan aku sudah sangat bersemangat, tidak ada yang masuk ke kepalaku. TIba-tibaa semuanya jadi gelap. Bahkan penyakit malas  ini juga datang di seluruh kegiatanku. Belajar, menulis, membaca, tidur, bahkan makan. Tidak ada semangat saking sangat bosannya belajar.

Saat ini pula aku merasa sangat menyesal. Entah kenapa meskipun sudah jatuh bangun belajar Biologi, aku merasa tak mampu menuntaskan ujian Biologi itu dengan baik. Ada gambar yang tak bisa kulihat dengan jelas, soal lewat Bahasa Inggris yang tak bisa kupahami, dan aku lupa beberapa hal. Ini membuatku menggerutu sendiri di depan LJK dan soal itu. Rasanya ingin berteriak keras, apalagi karena Biologi adalah pelajaran yang menyenangkan buatku, setidaknya daripada Fisika. Keluar dari ruang ujian aku manyun, setiap soal dan jawaban yang dibilang teman sekelas, kebanyakan aku salah. Entah apa ini.

Begitupun Bahasa Inggris. Banyak vocabularies  yang tidak aku ketahui. Dan pastinya, soal itu meragukan. Lagi-lagi aku menggerutu saat ujian. Semuanya berjalan dengan (tidak) lancar.

Tetapi ada beberapa factor yang membuatku merasa gagal pada kedua ujian ini. Sebut saja misalnya aku harus membuat laporan evaluasi kegiatan ekskul di saat yang tidak tepat. Aku juga diminta datang ke sekolah di luar jam ujian (meskipun aku tak datang), dan pastinya aku masih terlena dengan jejaring sosial yang seharusnya tak penting tersebut. Banyak waktuku yang terhabiskan dengan sia-sia. Jika ini memang belum sebuah perjuangan.

Aku merasa bersalah, aku menyesal. Tapi apalah gunanya. Aku bahkan mengecewakan diriku sendiri. Tapi tiba-tiba aku teringat mantra Man Shabara Zhafira. Aku tak tahu apakah sudah pantas aku ini dianggap bersabar, padahal usahaku belum maksimal. Tetapi aku masih mengingat ini, dan semoga aku bisa bersabar dan bertawakal kepadanya. Karena semua yang pernah kita lakukan akan mendapat konsekuensi, dan Tuhan membayar lunas kelalaianku pada hari-hari sebelumnya itu. (Irma Garnesia, SMAN 1 Padang)
Read More … Apakah Ini Man Shabara Zhafira?

Mimpi : A Random Experience


“Semalam aku bermimpi…bertemu dengan dirinya~”. Cuplikan lagu dari Kahitna yang berjudul ‘Tentang Diriku’ itu yang mau saya ceritakan sekarang, tapi tentu saja bukan tentang cinta. Dan pastinya itu tentang mimpi.

Cerita ini (bukan) hanyalah fiktif belaka. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita ini adalah nyata dan tempat serta kejadian perkara bisa dibuktikan kebenarannya.

Beberapa waktu yang lalu aku ingin sekali punya adik. Bahkan aku sempat pasang status di facebook yang isinya ingin mengadopsi adik. Tentunya semua ini juga berkenaan dengan keinginanku sebelum-sebelumnya sekali untuk dapat punya kakak. Maklumlah, orang yang tak punya saudara macam aku selalu ingin punya saudara, tetapi kenyataannya aku malah hanya menganggap orang lain sebagai saudaraku. Miris. Maka, beruntunglah siapapun yang punya saudara saat ini, karena kita membutuhkan tempat bergantung, Kawan! Dan buatku, saudara adalah jawabannya.

Tak ada panas, tak ada banjir, tiba-tiba sore yang lalu aku bermimpi dapat adik. Sore itu adalah pada hari Sabtu, 30 April 2011. Sungguh, aku tak pernah mengungkit-ungkit keinginan punya adik lagi, bahkan sudah melupakan pikiran yang absurd itu. Pikiran untuk punya kakak? Aku sudah menganggap seseorang sebagai kakak sendiri. Siapa dia? Dialah kak Westi Permata. Kakak yang telah banyak membantuku selama tiga tahun ini, bahkan mungkin akan banyak membantuku untuk tahun-tahun berikutnya. Bantuannya yang pertama adalah sekedar informasi untuk masuk smansa. Simpel kedengarannya, tetapi buatku sangat berarti. Yah, karena memang tak ada lagi pemberi informasi selain kakakku yang satu ini.

Lanjut ke bahasan sebelumnya, pulang sekolah itu aku ketiduran. Saking capeknya, aku lupa bahwa aku sudah bermimpi. Siapakah yang aku mimpikan sebagai adikku itu? Mhicya Utami Ramadhani, bahkan seseorang yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya, tak pernah punya kontak, tak pernah punya berhubungan kecuali sekedar urusan sekolah dan senyum serta sapa semata. Tetapi aku sekarang memimpikannya, ajaib!

Jadi ceritanya, aku mimpi bahwa dia itu diangkat jadi adikku. Entah dalam rangka apa, tiba-tiba saja orang tuanya menitipkan dia untuk jadi adikku (?) Jangan tanya kenapa karena aku juga tak tahu jawabannya. Maka muncullah kebiasaan baruku untuk mengantar dan menjemput dia ke tempat les, membantu dia kalau lagi ada masalah, atau sekedar ngobrol membicarakan hal remeh temeh. Satu hal saja, Madu Kawan, seperti madu, manis sekali rasanya menjadi seorang kakak. Walaupun hanya beberapa momen, tetapi aku merasa sangat bahagia di sana. Tapi itu semua cuma mimpi Kawan, cuma mimpi! Bahkan sebenarnya aku tak tahu alamatnya dimana.

Tak tahu kenapa, aku jadi teringat sebuah artikel tentang mimpi yang ditulis oleh Gaby Defenski di majalah sekolah kami—Media SMANSA, maka langsung saja aku membaca kembali tulisan itu. “Faktanya, mimpi itu berasal dari kejadian yang kita alami sendiri.” Nah sebelumnya aku sempat punya pengalaman unik dengan dia. Pertama, waktu kami sedang mengambil wudhu di toilet. Sebenarnya tak penting karena aku cuma bilang, “Lucu ya dek, kaki kamu kecil sekali!”. Sedangkan yang kedua adalah ketika aku tak sengaja mendengar temannya memanggilnya di kantin, “Chia…chia ayo buruan!”. Oh Kawan, bahkan nama panggilannya sama dengan nama panggilanku di rumah, sama-sama ‘Chia’.

Satu hal yang menarik adalah ketika aku menanyakan hal yang benar-benar ingin kuketahui di dunia nyata, yaitu : “Apa kak Widi—Widya Fadriani—itu kakak kamu, Dek?”. Lalu dia menjawabnya, “Bukan Kak, kita sering bareng karena sering seangkot.” dan ternyata itu memang benar, karena aku juga menanyakannya setelah mengalami mimpi ini. Jawabannya tidak jauh beda, “Kak Widya F, Kak? Itu tetanggaku.” Tidak jauh beda, kan? Maaf sebelumnya untuk Kak Widya Fadriani, sampai membawa-bawa dalam mimpi ini.

Memori otak memang bisa menayangkan mimpi dengan kejadian-kejadian lucu dan aneh yang pernah kita alami sebelumnya, contohnya saja ketika aku melihat Bang Efri Mulia Yusli dan Kak Kiki Amelia di ruang OSIS setelah UN beberapa hari lalu. Maka tiba-tiba saja mereka berdua masuk ke dalam mimpiku yang menceritakan bahwa Kak Kiki kangen sama Bang Efri. Maaf sekali jika kakak-kakak dan abang-abang harus dilibatkan ke dalam mimpi-mimpiku sebelumnya. Tetapi jangan khawatir, karena ini hanya mimpi.

Contoh mimpi yang menggelitik lainnya adalah mimpi yang dialami oleh Rahmi Mulia Putri. Ia bermimpi hadir di pernikahan Pangeran William dan Kate, lalu ia juga bertemu teman-teman sekelasnya, lalu mereka menampilan tari Timur Tengah bercampur dengan tarian Minang yang mereka bawakan di perpisahan. What a funny dream!

Itulah intisarinya, mimpi adalah replay dari kejadian yang pernah kita alami. Keinginanku untuk punya adik, pengalamanku dengan Mhicya yang tidak terlalu bermakna, keingintahuanku antara Mhicya dan Kak Widi, dan akhirnya berakhir di mimpi dengan peristiwa yang campur aduk.

Tetapi terimakasih untuk Fadila Khairani, my beautiful friend ever after, buat advice yang dia berikan supaya aku memberitahu Mhicya saja tentang mimpi itu. Tanpa dia mungkin Mhicya nggak akan pernah tahu bahwa seseorang yang bahkan tak ada hubungannya dengannya bisa memimpikan dia. Bahkan mungkin aku tak akan memanggilnya ‘litle sister’ sekarang ini. Dan bahkan mungkin saja tulisan ini tak akan pernah ada sebelumnya. Ah tentu saja, terimakasih Tuhan karena telah memberikan rentetan peristiwa yang sangat bermakna ini kepadaku. Lengkaplah sudah keinginanku untuk punya adik, walaupun bukan adik kandung, atau adik dalam pikiran yang absurd. Mimpi memang sesuatu yang ajaib, Kawan!
Read More … Mimpi : A Random Experience

Perjalanan Sebuah Puisi Menuju Hatimu

Percaya bahwa puisi bisa berjalan? Tidak. Puisi itu begitu gaib, sehingga tiba-tiba ia sudah mencekikmu. Tapi seperti apapun arti yang kamu berikan pada sebuah puisi, maka saat itulah dia ada di hatimu.

Sebenarnya puisi itu ada karena kita mau mendekatinya. Banyak orang tak sadar bahwa puisi telah sangat dekat dengannya, tapi sayang tak dimanfaatkan. Coba tebak, siapa yang tak pernah suka puisi? No one. Kalau dalam ujian saya jug tak suka puisi, hehe.

Sebenarnya ada cerita menarik tentang saya, Fiona Ramadhanti, Ardanesia, Bunga Dwi Wulandari, dan tak tertinggal : Puisi. Let’s check this out.

Entah kenapa sore itu signal WIFi masuk ke laptop saya—pas lagi iseng mainin laptop di teras rumah. Agak aneh juga, dan tiba-tiba si Fio ngajak chat, kebetulan hari itu H-2 ujian semester. Ini cuplikan chatnya yang agak ngawur.
f : "dibalik kamar sepi ini, ak menangis melihat buku ku yang masih kelihatan rapi dan bersih. ck"

i : "buku say :
"lalu tak adakah kamu hendak memilih aku, melihat aku, menjamah aku? padahal aku sangat ingin balas mencintaimu"
seperti hujan2 saat pulang sekolah dulu"

 f : "semua itu siasia, rasanya memang takdir kita untuk tidak brsama, ku lihat dikau lksana api yg membara seakan" ak akan terbakar olehnya.."

 i : "api ini untuk menghangatkanmu sayang
dari hujan salju di luar
sebab di luar begitu gigil
membikin bibir kelu dan tulang menjadi remuk
takkah kau memelukku?
biar kusiram kau dengan hangatnya tubuhku"

 f  : "sudah brpa kali kau melakukannya, tetap saja aku merasa begitu..
aku ingin kau prgi dri hdupku, namun aku takut .
aaah, uda deh kak. ck"

i : "baiklah kalau begitu
dan kupaki barang-barang
selama bertahun-tahun tak muat di kepalamu
selamat tinggal sayangku
semoga kau cepat melupakan semua tentangku"

f : "waaaa. hahaha
jngan gtu dong."

Kalau Fio tak saya ragukan lagi kenapa dia suka puisi, sebenarnya latar belakang dia kan juga dari seni. Bagaimana dengan yang satu ini?

Ceritanya waktu itu di sekolah ada pembagian bunga karena hari itu ada peringatan hari pendidikan. Suasananya agak romantis gitu karena kita bagiin bunga ke guru-guru. Agak gila juga karena saya berakting ‘nembak Santi Duliem Fauziah’, namanya juga idiot. Nah, bunga yang sama saya kan saya kasih ke Mhicya. Si Bunga Dwi Wulandari juga minta bunga saya. Gini percakapannya :
 I : (Nyanyi nggak jelas sama Santi)
B : (mendekat), kak Bunga minta bunga dong.
I : (nggak ngeh)

Dia terus aja ngomong, sebenernya waktu itu saya nggak nyadar kalau nama dia itu Bunga, dan yang saya pegang itu juga Bunga, hadoh! Tapi pas di lantai tiga baru nyambung :
B : Kak, kasih Bunga bunga dong
I : (nggak ngeh juga)
B : (Mendekat)
I : (Baru nyambung), harusnya kamu yang aku kasih ke orang lain sebagai hadiah, kan kamu bunga.
B : (ketawa), sastra banget.

Dia juga ngulangin kalimat paling memuakkan, “Ngomong sama kak Irma ningkatin kualitas sastra.” Sebenernya sastra begituan mah lumrah, makanya kalau nanti saya jadi sastrawan, saya mau jadi sastrawan yang ilmiah. Kan latar belakangnya dari IPA, harus dimanfaatin dong. Minimal kayak Andrea Hirata deh, sastrawan ilmiah.

Yang ketiga, si Nesya, sesepuh dari SD. Nggak nyangka ternyata pengaruh sastra bisa ada sama dia. Jadi gini ceritanya, malam itu saya lagi nggak ada kerjaan. Dan sayapun ngesms dia.
I : apa ya? yang jelas kamu itu seperti pelampiasan ceritaku yang aneh2
N : Oh jadi aku cuma pelampiasan. Oh teganya u,u
I : T___T yaudah aku janji gak akan ngomong yang aneh-aneh lagi
N : Aku ga nyangka aku cuma di jadikan sebagai pelampiasan hikks #drama
I : bukankah kamu menikmatinya?
N : Ya, cerita-cerita ‘tidak biasa’mu selalu menemani perjalanan kita berdua ke sekolah
I : ya, dan bagaimanakah ketika 3 hari ini kamu tidak mendengar ceritaku, tidakkan kamu merindukannya?
N : ya, aku rindu. 3 hari ini aku berjalan ke sekolah sendirian. kecuali saat hari pertama, aku bersama kak santi (tunggu-tunggu, kenapa si santi mulu sih?) dan apakah kamu juga merindukanku, kak? haha
I : oh…pelampiasanku, tentu saja.. setiap berjalan aku selalu menoleh ke belakang, berharap tiba-tiba kamu muncul..dan tiap melewati gang rumahmu itu, tak hanya aku, bahkan angkot kuning itu juga menunggumu #hahahahah
N : hahahaha. Numpang ngakak dulu. begitupun aku. aku berharap di angkot tabing yang aku tumpangi, ada dirimu duduk di sana. ah tapi ternyata, setiap pagi aku hanya bertemu beberapa orang anak SMA 2. Oh, aku tidak mengira angkot kuning pun sampai menungguku. aku terharu. #brb nangis di pojokan.
I : ah…setiap haripun aku berharap agar terlambat, biar bisa ketemu kamu..ah tapi aku memendam saja hal yang ingin aku ceritakan. #hahahha, udah deh dek…ngakak banget ini
N : Haha iya udah tu, jarang-jarang aku puitis.

Eh..tunggu dulu, ini kok kayak lesbian ya? Wah amit-amit deh. Tapi emang beneran, puisi itu bisa merasuki seseorang. Bukan kerasukan ya! That’s all. Dan kenapa gaya penulisan ini kembali ke-SD? Sebenarnya saya nggak tahu mau nulis apa lagi, tiba-tiba plung! Buntu! 
Read More … Perjalanan Sebuah Puisi Menuju Hatimu
Copyright 2009 Aqueous Humor. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy